Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n
Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya. Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape. Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya. Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape. Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya. Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape. Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja. Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya. Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape. Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja. Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya. Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape. Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja. Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya. Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape. Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja. Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya. Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape. Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>. Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja. Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya. Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape. Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>. Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja. Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya. Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape. Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>. Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja. Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya. Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape. Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>. Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja. Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya. Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape. Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim), ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>. Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja. Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya. Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape. Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya. Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim), ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>. Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja. Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya. Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape. Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya. Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim), ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>. Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja. Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya. Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape. Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular. Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d. Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular. Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong> Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya. Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim), ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>. Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nBaca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nBaca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\nBaca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\nBaca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n