Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n\n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n\n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n\n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n\n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n\n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n\n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n\n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n\n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n\n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n\n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n\n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n\n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n\n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n\n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n\n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n\n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n\n
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n\n
Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n\n
Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n
Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n
Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n
Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n\n
Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n
Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n
Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n\n
Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n
Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n
Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n
Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n\n
Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n
Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n
Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n
Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n
Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n
Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n
Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n
Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n
Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n
Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n\n
Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n
Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n
Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n
Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n
Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n
Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n\n
Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n
Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n
Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n
Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n
Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n
Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n
Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n
Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n
Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n
Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n
Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n
Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n
Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n
Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n
Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n\n
Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n
Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n
Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n
Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n
Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n
Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n
Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n
Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n
Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n\n
Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n
Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n
Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n
Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n
Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n
Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n
Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n
Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n
Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n
Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n\n
Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n
Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n
Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n
Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n
Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n
Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n
Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n
Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n
Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n
Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n
Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n
\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n
Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n
Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n
Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n
Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n
Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n
\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n
Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n
Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n
Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n
Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n
Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n
Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n
Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n
Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n
Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural. Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu. IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara. Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja. Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini. Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia? Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan. Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting. Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas. Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong> Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri. Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM. Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara. Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT. Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \nBaca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \nBaca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \nBaca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \nBaca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p><\/blockquote>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \nBaca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n\n
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \nBaca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \nBaca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \nBaca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n\nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \nBaca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n\n
<\/p>\n \n\n \nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \nBaca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \nApakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n \n\n \n
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \nBaca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n
Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n