\n

Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
<\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
    <\/p>\n\n\n\n

    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

    \n

    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
      <\/p>\n\n\n\n

      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

      \n

      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
        <\/p>\n\n\n\n

        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

        \n

        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
        <\/p>\n\n\n\n

        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
          <\/p>\n\n\n\n

          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

          \n

          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
          <\/p>\n\n\n\n

          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
          <\/p>\n\n\n\n

          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
            <\/p>\n\n\n\n

            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

            \n

            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
            <\/p>\n\n\n\n

            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
            <\/p>\n\n\n\n

            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
            <\/p>\n\n\n\n

            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
              <\/p>\n\n\n\n

              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

              \n

              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
              <\/p>\n\n\n\n

              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
              <\/p>\n\n\n\n

              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
              <\/p>\n\n\n\n

              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                <\/p>\n\n\n\n

                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                \n

                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                <\/p>\n\n\n\n

                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                <\/p>\n\n\n\n

                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                <\/p>\n\n\n\n

                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                  <\/p>\n\n\n\n

                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                  \n

                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                  <\/p>\n\n\n\n

                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                  <\/p>\n\n\n\n

                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                  <\/p>\n\n\n\n

                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                  <\/p>\n\n\n\n

                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                    \n

                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                    <\/p>\n\n\n\n

                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                      <\/p>\n\n\n\n

                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                      \n

                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                      <\/p>\n\n\n\n

                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                      <\/p>\n\n\n\n

                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                      <\/p>\n\n\n\n

                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                      <\/p>\n\n\n\n

                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                        <\/p>\n\n\n\n

                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                        \n

                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                        <\/p>\n\n\n\n

                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                        <\/p>\n\n\n\n

                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                        <\/p>\n\n\n\n

                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                        <\/p>\n\n\n\n

                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                          <\/p>\n\n\n\n

                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                          \n

                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                          <\/p>\n\n\n\n

                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                          <\/p>\n\n\n\n

                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                          <\/p>\n\n\n\n

                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                          <\/p>\n\n\n\n

                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                          <\/p>\n\n\n\n

                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                            <\/p>\n\n\n\n

                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                            \n

                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                            <\/p>\n\n\n\n

                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                            <\/p>\n\n\n\n

                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                            <\/p>\n\n\n\n

                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                            <\/p>\n\n\n\n

                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                            <\/p>\n\n\n\n

                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                              <\/p>\n\n\n\n

                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                              \n

                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                              <\/p>\n\n\n\n

                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                              <\/p>\n\n\n\n

                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                              <\/p>\n\n\n\n

                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                              <\/p>\n\n\n\n

                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                              <\/p>\n\n\n\n

                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                <\/p>\n\n\n\n

                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                \n

                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                <\/p>\n\n\n\n

                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                <\/p>\n\n\n\n

                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                <\/p>\n\n\n\n

                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                <\/p>\n\n\n\n

                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                <\/p>\n\n\n\n

                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                  <\/p>\n\n\n\n

                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                  \n

                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                  <\/p>\n\n\n\n

                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                  <\/p>\n\n\n\n

                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                  <\/p>\n\n\n\n

                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                  <\/p>\n\n\n\n

                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                  <\/p>\n\n\n\n

                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                    <\/p>\n\n\n\n

                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                    \n

                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                    <\/p>\n\n\n\n

                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                    <\/p>\n\n\n\n

                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                    <\/p>\n\n\n\n

                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                    <\/p>\n\n\n\n

                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                    <\/p>\n\n\n\n

                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                    <\/p>\n\n\n\n

                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                      <\/p>\n\n\n\n

                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                      \r\n

                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                      <\/p>\n\n\n\n

                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                      <\/p>\n\n\n\n

                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                      <\/p>\n\n\n\n

                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                      <\/p>\n\n\n\n

                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                      <\/p>\n\n\n\n

                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                      <\/p>\n\n\n\n

                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                        <\/p>\n\n\n\n

                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                        \r\n

                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                        <\/p>\n\n\n\n

                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                        <\/p>\n\n\n\n

                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                        <\/p>\n\n\n\n

                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                        <\/p>\n\n\n\n

                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                        <\/p>\n\n\n\n

                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                        <\/p>\n\n\n\n

                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                          <\/p>\n\n\n\n

                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                          \r\n
                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                          <\/p>\n\n\n\n

                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                          <\/p>\n\n\n\n

                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                          <\/p>\n\n\n\n

                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                          <\/p>\n\n\n\n

                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                          <\/p>\n\n\n\n

                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                          <\/p>\n\n\n\n

                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                            <\/p>\n\n\n\n

                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                            \r\n

                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                            <\/p>\n\n\n\n

                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                            <\/p>\n\n\n\n

                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                            <\/p>\n\n\n\n

                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                            <\/p>\n\n\n\n

                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                            <\/p>\n\n\n\n

                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                            <\/p>\n\n\n\n

                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                              \r\n

                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                              <\/p>\n\n\n\n

                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                \r\n

                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                  \r\n

                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                    \r\n

                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                      \r\n

                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                        \r\n

                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                          \r\n

                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                            \r\n

                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                              \r\n

                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                \r\n

                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                  \r\n

                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                    \r\n

                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                      \r\n

                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                        \r\n

                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                          \r\n

                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                            \r\n

                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                              \r\n

                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                \r\n
                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                  \r\n

                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                    \r\n

                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                      \r\n

                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                        \r\n

                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                          \r\n

                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                            \r\n

                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                              \r\n

                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                \r\n

                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                  \r\n

                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                    \r\n

                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                      \r\n

                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                        \r\n

                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                          \r\n

                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                            \r\n

                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                              \r\n

                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                \r\n

                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                  \n

                                                                                                                  Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                    \n

                                                                                                                    Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                      \n

                                                                                                                      Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                        \n

                                                                                                                        Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                          \n

                                                                                                                          Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                            \n

                                                                                                                            Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                              \n

                                                                                                                              Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                \n

                                                                                                                                Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                  Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                    Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                      Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                        Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                          Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                            Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                              \n

                                                                                                                                              Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                                  Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                  Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                    Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                    Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                                      Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                      Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                        Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                        Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                                          Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                          Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                            Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                            Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                              \n

                                                                                                                                                              Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                              Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                                                  Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                  Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                    Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                    Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                                                      \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                      Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                        Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                        Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                                                          Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                          Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                            Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                            Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                              \n

                                                                                                                                                                              Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                              Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                                                                  Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                  Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                    Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                    Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                                                                      Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                      Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                        \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                        Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                        Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                                                                          Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                          Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                          Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                            Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                            Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                            Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                              \n

                                                                                                                                                                                              Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                              Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                              Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                                                                                  Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                  Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                  Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                    Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                    Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                    Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                                                                                      Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                      Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                      Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                        Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                        Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                        Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                                                                                          Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                          Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                          Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                            Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                            Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                            Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                              \n

                                                                                                                                                                                                              Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                              Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                              Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                              Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                                                                                                  Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                  Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                  Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                  Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                    Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                    Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                    Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                    Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                                                                                                      Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                      Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                      Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                      Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                        Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                        Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                        Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                        Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                          \n

                                                                                                                                                                                                                          Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                          Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                          Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                          Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                          Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                          Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                          1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                          2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                                          3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                          4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                                          5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                                          6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                          7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                          8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                                          9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                            \n

                                                                                                                                                                                                                            Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                            Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                            Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                            Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                            Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                            Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                                            <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                            1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                            2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                                            3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                            4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                                            5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                                            6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                            7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                            8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                                            9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                              \n

                                                                                                                                                                                                                              Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
                                                                                                                                                                                                                              <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                              Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                              Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                              Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                              Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                              Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                                              <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                              1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                              2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                                              3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                              4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                                              5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                                              6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                              7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                              8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                                              9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                \n

                                                                                                                                                                                                                                Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
                                                                                                                                                                                                                                <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                                                <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                  \n

                                                                                                                                                                                                                                  Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                  Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                  Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                  Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                  Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                  Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                                                  <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                  1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                  2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                  3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                  4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                  5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                  6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                  7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                  8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                  9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                    \n

                                                                                                                                                                                                                                    Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
                                                                                                                                                                                                                                    <\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                    Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                    Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                    Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                                                    <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                    1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                    2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                    3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                    4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                    5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                    6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                    7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                    8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                    9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                      \n

                                                                                                                                                                                                                                      IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
                                                                                                                                                                                                                                      <\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                      Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                      Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                      Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                      Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                      Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                                                      <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                      1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                      2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                      3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                      4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                      5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                      6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                      7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                      8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                      9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

                                                                                                                                                                                                                                        \n

                                                                                                                                                                                                                                        Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
                                                                                                                                                                                                                                        <\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                        Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        \u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                        Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        \"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5519,"post_author":"878","post_date":"2019-03-07 09:27:44","post_date_gmt":"2019-03-07 02:27:44","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                        Sekira empat tahun lalu, saya pernah berjumpa dan berbincang dengan seseorang yang ketika itu sedang begitu muntab usai ia mencoba konsisten menjalani pola hidup sehat selama sekira dua tahun. Ia memilih berlaku begitu usai dua orang rekannya divonis dokter menderita penyakit kanker di payudara dan hati.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Rekannya yang menderita kanker hati, seorang perokok berat. Rekannya yang terserang kanker payudara, tidak merokok. Dokter memvonis keduanya sudah tak akan lama lagi berada di bumi karena kanker yang mereka derita sudah menggerogoti bagian tubuh lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Khawatir terserang kanker juga, Ia lantas memutuskan untuk menjalani pola hidup sehat. Makan makanan sehat, berhenti merokok, olahraga cukup, istirahat sesuai ketentuan, dan bermacam pola hidup sehat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Dua tahun berturut-turut Ia membatasi mengonsumsi daging, membeli dan memasak sendiri sayur-sayuran untuk ia konsumsi, rutin memakan buah-buahan, dan menghindari mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol. Ia juga rutin bersepeda menuju lokasi kerja dan kembali ke rumah usai bekerja.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Ia lantas menemukan sebuah artikel dan membacanya. Sebuah artikel yang baginya begitu membikin ia marah dan muntab karena merasa apa yang sudah ia lakukan selama ini begitu sia-sia.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Apa yang menyebabkan ia merasa pola hidup sehat yang ia jalani saat itu menjadi sia-sia? Karena dalam artikel yang ia baca itu, ia menemukan fakta yang begitu menyakitkan. Memang, secara mendasar pilihan makanan, sayuran dan buah-buahan yang ia konsumsi itu adalah produk-produk sehat. Sangat sehat. Namun, proses produksi kebanyakan makanan yang sesungguhnya sehat itu nyatanya, menurut artikel yang ia baca, begitu kotor.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Pupuk kimia sintetis dijejalkan ke tanaman padi, sayuran dan buah-buahan guna menggenjot produksi. Pestisida kimia sintetis disemprotkan ke produk-produk itu guna menghalau hama yang dianggap akan mengganggu tanaman. Alhasil, zat-zat kimia sintetis berbahaya menempel pada beras, sayur, dan buah-buahan yang ia konsumsi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Rokok: Perokok Pasif, Mitos Kuno yang Masih Diperdebatkan<\/a><\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Tak cukup sampai di situ, ketika hendak dipasarkan, sayuran dan terutama buah-buahan banyak dilapisi zat lilin agar buah-buahan awet dan tidak lekas membusuk. Semua itu, pupuk kimia, pestisida sintetis, dan zat lilin yang mengendap pada produk-produk yang sesungguhnya sehat, malahan menjadi bencana baru karena zat-zat itu begitu berbahaya dan dapat menyebabkan bermacam penyakit dalam tubuh manusia, termasuk penyakit kanker yang begitu ia takuti.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel yang mempertanyakan mengapa ada banyak penderita penyakit kanker paru-paru yang sama sekali tidak merokok. Ia tetap menderita kanker paru-paru padahal sama sekali tidak pernah merokok.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Alasan paling gampang dan sekadar cari pembenaran, dalil perokok pasif digunakan. Padahal sudah banyak penelitian ilmiah yang membantah mitos perokok pasif itu. Alasan lain, yang lebih masuk akal, daya tahan tubuh manusia berbeda-beda. Ada yang mudah terserang penyakit (dalam hal ini kanker paru-paru) meskipun tidak merokok, dan ada yang kebal penyakit meskipun ia perokok berat. Namun lagi-lagi, hanya unsur tunggal yang melulu jadi sudut pandang kajian dalam menelaah penyakit kanker paru-paru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Tak bisa dimungkiri, faktor ekonomi dan penggenjotan produksi guna meraih keuntungan sebesar-besarnya, memaksa mereka memghalalkan segala cara agar semua itu bisa diraih. Hampir seluruh produk yang dikonsumsi manusia kini, seakan sulit dilepaskan dari zat-zat kimia sintetis yang sesungguhnya sangat berbahaya bagi tubuh. Namun semua itu tetap digunakan guna menggenjot produksi.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Pada produk-produk pertanian, mulai dari pupuk, pestisida, dan zat pengawet bertumpuk-tumpuk berjejalan ikut masuk dalam makanan yang kita konsumsi. Pengawet-pengawet makanan dan minuman instan, juga tak lepas dari zat kimia sintetis berbahaya. Semua itu, semuanya begitu berbahaya bagi tubuh jika berada dalam tubuh dalam jumlah banyak.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Lebih dari itu, hampir semua zat kimia sintetis yang terkandung dalam produk pertanian dan makanan instan, terdeteksi karsinogenik, zat yang bisa memicu penyakit kanker dalam tubuh. Belum lagi polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap pabrik yang terus menerus menjejali pernapasan kita. Semuanya juga begitu berbahaya bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Sayangnya, jika sudah mengkaji penyakit kanker, lebih lagi kanker paru-paru dan sistem pernapasan lainnya, melulu yang menjadi sasaran tembak semata hanya rokok. Hanya itu saja dari begitu banyaknya zat karsinogenik yang setiap hari secara sengaja, diketahui atau tidak, kita jejalkan masuk ke tubuh kita. Kalau sudah begini, melulu rokok dianggap penyakitan dan biang keladi rupa-rupa penyakit. Ini membuktikan, bukan sekadar tubuh kita yang memang mudah terserang penyakit akibat ragam rupa zat kimia yang kita masukkan ke dalam tubuh kita, cara berpikir kita pun sakit karena begitu mudah menyederhanakan, simplifikasi dengan melulu menganggap rokok biang keladi segala masalah.<\/p>\n","post_title":"Apapun Penyakitnya, Rokok Selalu Disalahkan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apapun-penyakitnya-rokok-selalu-disalahkan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-07 09:27:52","post_modified_gmt":"2019-03-07 02:27:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5519","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5516,"post_author":"877","post_date":"2019-03-06 09:16:40","post_date_gmt":"2019-03-06 02:16:40","post_content":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_title":"Kretek Adalah Pusaka Budaya Indonesia","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-adalah-pusaka-budaya-indonesia","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:00:06","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:00:06","post_content_filtered":"\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Warisan Budaya Tak Bendawi\u00a0<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek adalah benda budaya yang memiliki kekhususan kultural dan historis (Margana, 2014). Temuan kretek pada abad ke-19 di Kudus, daerah pinggiran utara Pulau Jawa, menjelaskan sejumlah proses adaptif kaum bumiputera yang berpegang pada semangat berdikari di bawah tatanan kolonial. Kreativitas meracik daun tembakau dan cengkeh\u2014populer disebut kretek (clove cigarette<\/em>) yang penamaannya mengacu pada bunyi\u2014menjadikannya marka pembeda atas produk lain dari luar yang sama-sama memanfaatkan tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek terus berkembang dinamis melintasi zaman (difusi). Kemudian, mengalami inovasi dan evolusi hingga merembes dan mendalam sebagai pola pengetahuan-pengetahuan masyarakat lokal\u2014yang kehidupannya terkait erat pada budidaya tembakau dan cengkeh. Kretek menunjukkan pola-pola pengetahuan masyarakat bumiputera yang berpijak pada praktik dan kebiasaan mengunyah buah pinang dan daun sirih selama ribuan tahun. Ia komoditas yang menyatukan pelbagai ragam sejarah, budaya, etnis dan agama sepanjang Nusantara serta sumber inspirasi dan warisan budaya dari kekayaan (alam) Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek terus diwariskan dalam pelbagai praktik, representasi, ekspresi, dan keterampilan, yang mengolah dan menghasilkan serangkaian instrumen, obyek, dan artefak; tumbuh dalam lingkungan budaya beragam komunitas dan kelompok masyarakat di Indonesia<\/strong>. Bahkan, pola-pola pengetahuan atas kretek menghadirkan individu-individu yang cakap dan memiliki keahlian serta kreativitas yang khas, dari hulu hingga hilir, baik dalam konteks pengrajin maupun industri.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca: Mereka yang Mencintai Kretek<\/a><\/h4>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek adalah wujud sistem pengetahuan masyarakat bumiputera yang memiliki daya-olah merespons keadaan lingkungan sekitar dan interaksinya dengan alam, bertahan melewati rentang sejarah yang panjang, sehingga mampu memunculkan suatu jati diri dan memiliki daya-serap berkesinambungan, yang gilirannya menjadikan kretek sebagai salah satu dari keanekaragaman budaya dan kreativitas manusia di Indonesia. Dengan kata lain, kretek itu bentuk pengetahuan bumiputera yang mencerminkan identitas tentang kebangsaan, kelas, budaya, dan ragam etnis tertentu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai warisan budaya tak bendawi berpijak pada pengetahuan masyarakat yang mampu mengolah-dayakan alam, yakni tembakau dan cengkeh, lantas meraciknya menjadi benda atau artefak yang memiliki nilai ekonomi (bersentuhan dengan kebiasaan penduduk Nusantara mengunyah daun sirih dan pelbagai ubarampe), dan pewarisannya terus hidup lewat sejumlah ekspresi budaya masyarakat-masyarakat di Indonesia (Hanusz, 2000).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai Kebudayaan<\/strong><\/h2>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kebudayaan adalah sistem pengetahuan. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya. Ia menjadi kerangka landasan untuk mewujudkan dan mendorong berseminya perilaku. Dalam definisi ini, kebudayaan dilihat sebagai \u201cmekanisme kontrol\u201d bagi perilaku dan tindakan-tindakan manusia (Geertz, 1973) atau sebagai \u201cpola-pola bagi perilaku manusia\u201d (Keesing, 1971).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Dengan demikian kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, resep-resep, rencana-rencana, dan strategi-strategi, terdiri atas model-model kognitif yang digunakan manusia secara kolektif sesuai lingkungan yang dihadapinya (Spradley, 1972).<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Kretek sebagai kebudayaan menjadi pedoman atau cetak biru guna menafsirkan keseluruhan tindakan manusia sehingga menghasilkan beberapa tradisi, kesenian ritual dan mitologi yang diwariskan dari generasi ke generasi<\/a>. Ia menjadi pedoman bagi masyarakat yang menyakininya melalui proses belajar, tumbuh-kembang, modifikasi dan replikasi. Sehingga, setiap hal dalam kehidupan manusia pada dasarnya bermula dari kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Carol R Ember dan Melvin Ember menjelaskan beberapa sifat dari kebudayaan: ia menjadi milik manusia melalui proses belajar; ia perihal bersama dalam suatu masyarakat tertentu; ia cara berlaku yang terus-menerus dipelajari; dan ia tak bergantung dari transmisi biologis atau pewarisan lewat unsur genetis. Sistem pengetahuan terutama sekali membentuk pedoman dalam bertindak, berperilaku, dan menggambarkan peta-peta kognitif manusia yang diwariskan dan ditransimisikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Seirama definisi itu, bila merujuk pada penemuan kretek dalam kehidupan manusia, dapat dikemukakan bahwa meramu dan mengolah antara tembakau dan cengkeh plus perisa\u2014yang menjadi produk berupa kretek\u2014adalah suatu proses mengginterpretasikan sumberdaya alam di lingkungan setempat. Ia menunjukkan kemampuan pikiran manusia dalam berkreasi dan termanifestasikan dalam pengetahuan manusia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Ia adalah ekspresi atau produk yang terintegrasi dalam budaya masyarakat meliputi tradisi lisan, tradisi ritual dan kesenian, yang muncul sebagai ciri khas. Selain itu, terdapat budaya dengan cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek, berpedoman pada cetak biru kognitif yakni satu sistem pengetahuan yang penting dan unik. yaitu, cara mengolah dan meramu itu menghasilkan resep-resep yang membentuk citarasa khas kretek Sehingga, bila budaya kretek hilang, maka tak ada resep-resep untuk membuat kretek, yang ujungnya tiada pula (melahirkan) kretek.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Sistem Pengetahuan Kretek<\/h2>\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Pendeknya, kebudayaan kretek atau kretek sebagai budaya adalah sistem pengetahuan melalui proses belajar yang menyatu dengan budaya lisan, tradisi ritual, kesenian, mitologi dan berupa resep-resep yang ditemukan, dimodifikasi, dikembangkan, dan bahkan model-modelnya dapat direplikasi ke dalam bentuk lain pada kehidupan manusia<\/strong>.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Sederhananya, untuk melacak bagaimana sistem pengetahuan bekerja di balik (daya-cipta) kretek, dan resapan-resapannya membentuk ragam ekspresi sosio-kultural di tengah kehidupan masyarakat Indonesia, bisa terbaca lewat bagan berikut:<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        \"Matriks<\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Bagan yang menjelaskan matriks evolusi kebudayaan kretek<\/em><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

                                                                                                                                                                                                                                        Bagan di atas menjelaskan konsep sistem pengetahuan dalam kretek sebagai warisan budaya tak bendawi. Lingkaran konsentris utama menjelaskan inti kebudayaan kretek sebagai sistem pengetahuan. Kedua, lingkaran berikutnya menjabarkan sistem pengetahuan melalui perilaku meracik tembakau, cengkeh, saus yang dibalut pembungkus\u2014kesatuan komponen utama kretek. Lingkaran berikutnya adalah keseluruhan produk kretek dari refleksi atas citarasa masyarakat tertentu tempat kretek diproduksi. Lingkaran selanjutnya merupakan turunan kebudayaan kretek dalam pelbagai ekspresi dan pola-pola simbolik, yang menyatu secara langsung dengan fungsi kretek itu sendiri. tapi memperkaya ekspresi kultural masyarakat, khususnya di lingkungan sosial budidaya kretek.<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5516","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5507,"post_author":"877","post_date":"2019-03-04 08:33:18","post_date_gmt":"2019-03-04 01:33:18","post_content":"\n

                                                                                                                                                                                                                                        Bahasan tentang produk alternatif tembakau masuk dalam Rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat tidak sesuai tujuan utama konteksnya.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Konteks yang dibangun dalam rekomendasi tersebut pada intinya adalah meningkatkan semangat nilai perdamaian, nilai kemanusiaan, meletakkan agama agar lebih relevan sesuai realitas, memperkuat ukhuwwah Islamiyyah<\/em> (persaudaraan sesama muslim),  ukhuwwah wathoniyyah <\/em>(persaudaraan sesama warga) , ukhuwwah basyariyyah <\/em>(persaudaraan sesama umat manusia), menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ideologi Pancasila, menjaga tradisi sebagai basis kekuatan, memastikan kebijakan pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat. Semuanya itu merupakan warisan dan cita-cita para Ulama terdahulu yang berperan serta dalam perjuangan mendirikan Bangsa ini.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Dalam rekomendasi terselip bahasan tentang produk tembakau alternatif yang dimasukkan dalam poin concern<\/em> NU terhadap kebijakan pemerintah. Jelas-jelas di awal, pada konteks landasan dasar pemikiran, kebijakan pemerintah yang dimaksud adalah kebijakan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi, argumentasi yang dibangun dalam bahasan produk tembakau alternatif, lebih mengedepankan debatable<\/em> antara mendatangkan devisa Negara dan dampak negatif dari sisi kesehatan, yang belum tentu benar dugaannya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca: Soal Rokok, Kenapa NU Boleh dan Muhammadiyah Tidak Boleh?<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Dari debatable<\/em> tersebut, NU mencoba menyeimbangkan dengan menawarkan produk alternatif berupa rokok elektrik atau dikenal Vape. Tawaran dan trobosan yang sangat keliru. Menganggap semua produk rokok membawa dampak negatif bagi kesehatan itu pun sudah keliru, apalagi menawarkan vape atau rokok elektrik sebagai produk alternatif adalah langkah yang sangat keliru.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Perlu dipahami, rokok ada dua macam. Rokok bercengkeh atau disebut rokok kretek<\/strong> dan rokok tak bercengkeh atau disebut rokok putihan<\/strong>.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Pertanyaannya, mana yang tidak menyehatkan dari dua macam rokok tersebut? Apakah dua-duanya tidak menyehatkan? Hal ini sama sekali tidak muncul dalam pembahasan secara mendetail. Menganggap semua jenis rokok adalah sama. Sedangkan dua macam rokok tersebut berbeda secara konten, dan berbeda juga manfaatnya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Munculnya rokok kretek kali pertama bertujuan untuk mengatasi sakit bengek<\/em>, hasil kreasi anak bangsa bernama H. Djamhari di Kudus, yaitu olahan tembakau dicampur dengan cengkeh, dibungkus berbentuk konus. Dari hasil pembakaran dua senyawa tersebut, H. Djamhari berhasil mengobati sakit bengeknya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca: Menghisap Kretek, Langkah Kecil Menjaga Kedaulatan Bangsa<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Sedangkan rokok putihan punya riwayat berbeda dengan rokok kretek, karena hanya menggunakan tembakau saja.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Jadi, antara rokok kretek dan rokok putihan, walaupun ada kesamaan nama, kesamaan bentuk bahkan kesamaan cara menikmati, akan tetapi beda manfaatnya. <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Rokok kretek lebih untuk pengobatan, sedangkan rokok putih mungkin hanya sebagai gaya hidup. Rokok kretek asli dalam negeri, rokok putihan produk luar. Rokok kretek menggunakan bahan baku tembakau dan cengkeh dari petani lokal, rokok putihan hanya menggunakan bahan baku tembakau dari luar. Inilah perbedaan yang mencolok bagi keduanya.<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Penjelasan di atas menepis gencarnya kampanye anti rokok dengan narasi  \u201crokok adalah sumber segala jenis penyakit\u201d. Untuk rokok kretek jelas tidak, untuk rokok putihan bisa jadi ya.  Kampanye anti rokok di Indonesia, sebenarnya adalah salah satu strategi politik dagang, untuk mematikan produk rokok kretek. Hal ini terlihat jelas, ada tawaran produk rokok alternatif berupa rokok elektrik\/vape.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Ternyata rokok elektrik\/vape menurut hasil riset yang terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, bahwa rokok elektrik\/vape dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular, yaitu stroke, serangan jantung atau penyakit jantung, atau biasa disebut penyakitkardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Temuan ini sekaligus membantah argumen dasar pengambilan keputusan NU untuk menawarkan rokok elektrik\/vape sebagai alternatif. Argumen yang terbantahkan tersebut \u00a0adalah \u201cKonsep alternatif rokok atau produk tembakau yang berisiko lebih rendah sudah ditemukan pada tahun 1976 ketika Profesor Michael Russell menyatakan: \u201cOrang merokok karena nikotin tetapi meninggal karena tar\u201d. Karena itu, rasio tar dan nikotin dapat menjadi kunci menuju merokok yang berisiko kesehatan lebih rendah. Sejak saat itu, ditetapkan \u00a0bahwa bahaya merokok hanya disebabkan oleh racun yang muncul akibat pembakaran tembakau. Sebaliknya, produk tembakau tanpa pembakaran dan produk nikotin murni dianggap lebih berisiko bahaya jauh lebih rendah meski masih memiliki potensi menyebabkan adiksi\/ketergantungan\u201d.
                                                                                                                                                                                                                                        <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a> <\/h4>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        Sehingga, rekomendasi NU tentang tembakau alternatif harus diperkuat dengan dukungan kebijakan yang memadai, tidak relevan diberlakukan di Indonesia. Alasan utamanya adalah:<\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                        1. Rekomendasi memperkuat produk tembakau alternatif berupa rokok elektrik\/vape telah menciderai semangat Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama. Karena semangat yang dibangun tertuang dalam konteks tidak signifikan dan tidak relevan dengan memasukkan produk alternatif tembakau. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                        2. Tidak sesuai dengan kenyataan, yaitu riset terbaru yang dilakukan Dr. Paul Ndunda bekerjasama dengan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yang menyatakan bahwa rokok elektrik\/vape meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                        3. Kesalahan asumsi rokok tidak menyehatkan, sebenarnya yang tidak menyehatkan adalah bukan rokok kretek. Karena rokok kretek punya sejarah untuk pengobatan.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                        4. Rokok kretek tidak mengandung zat adiktif seperti morfin,opinium ganja dan sejenisnya<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                        5. Rokok kretek adalah warisan Ulama\u2019  hal itu ditandai dengan adanya kitab berjudul \u201cIrsyadul Ikhwan\u201d karya Ulama Nusantara bernama Syekh Ihsan Jampes asal Kota Kediri Jawa Timur pada abad 20, yang memperjelas posisi rokok<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                        6. Keberadaan rokok kretek mensejahterakan masyarakat pada umumnya dan warga NU khususnya, terutama para petani tembakau yang tersebar di 15 provinsi, petani cengkeh yang tersebar di 30 provinsi, menyerap banyak tenaga kerja 6.1 juta jiwa. <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                        7. Kampanye anti rokok berangkat dari asumsi dan merupakan kepentingan global. Tidak sesuai konteks Indonesia, kretek sebagai produk khas industry Nasional.<\/li>
                                                                                                                                                                                                                                        8. Pengetahuan kampanye anti rokok kurang menyeluruh, cenderung simplistis, bahkan manipulatif <\/li>
                                                                                                                                                                                                                                        9. Banyak riset kesehatan yang membuktikan bahwa rokok kretek bukanlah faktor utama dan tunggal penyebab penyakit<\/li><\/ol>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                          Dengan demikian, memperkuat produk tembakau alternatif\/vape sama dengan membunuh petani tembakau dan cengkeh yang tersebar di bumi Nusantara, membunuh ekonomi 6.1 juta jiwa, tidak menghargai warisan budaya nenek moyang dan Ulama\u2019 Nusantara, menghilangkan kekuatan tradisi sebagai basis tegaknya bangsa Indonesia, dan mengotori rekomendasi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 di Kota Banjar Jawa Barat. Karena rokok elektik\/vape adalah produk asing dan dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit kardiovaskular.
                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n\n\n\n

                                                                                                                                                                                                                                          Selanjutnya, <\/strong>rokok elektik\/vape tidak relevan dalam konteks mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia.<\/strong>
                                                                                                                                                                                                                                          <\/p>\n","post_title":"Rekomendasi Produk Alternatif Tembakau Terlalu Dipaksakan dan Mencederai Semangat Munas Alim Ulama NU 2019","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"rekomendasi-produk-alternatif-tembakau-terlalu-dipaksakan-dan-mencederai-semangat-munas-alim-ulama-nu-2019","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-04 08:33:46","post_modified_gmt":"2019-03-04 01:33:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5507","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};