\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n\n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n\n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n\n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n\n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n\n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n\n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n\n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n\n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n\n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n\n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n\n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n\n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n\n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n\n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n\n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n\n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":"\n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n\n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n\n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n\n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n\n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n\n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n\n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n\n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":"\n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n\n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n\n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n\n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n\n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n\n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n\n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n\n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n\n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n\n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n\n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n\n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n\n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n\n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":"\n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n\n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n\n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n\n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n\n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n\n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n\n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n\n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n\n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n\n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":"\n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n\n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n\n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n\n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n\n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n\n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n\n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n\n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n\n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n\n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n\n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n\n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n\n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n\n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n \n\n\n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5544,"post_author":"878","post_date":"2019-03-15 10:49:48","post_date_gmt":"2019-03-15 03:49:48","post_content":"\n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n \n\n\n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5544,"post_author":"878","post_date":"2019-03-15 10:49:48","post_date_gmt":"2019-03-15 03:49:48","post_content":" \n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n \n\n\n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n \n\n \n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5544,"post_author":"878","post_date":"2019-03-15 10:49:48","post_date_gmt":"2019-03-15 03:49:48","post_content":" \n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n \n\n\n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n \n\n \n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n \n\n \n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5544,"post_author":"878","post_date":"2019-03-15 10:49:48","post_date_gmt":"2019-03-15 03:49:48","post_content":" \n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n \n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n \n\n \n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n \n\n \n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n \n\n \n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5544,"post_author":"878","post_date":"2019-03-15 10:49:48","post_date_gmt":"2019-03-15 03:49:48","post_content":" \n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n \n\n\n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n \n\n \n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n \n\n \n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n \n\n \n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n \n\n \n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5544,"post_author":"878","post_date":"2019-03-15 10:49:48","post_date_gmt":"2019-03-15 03:49:48","post_content":" \n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n \n\n\n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n \n\n \n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n \n\n \n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n \n\n \n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n \n\n \n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n \n\n \n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5544,"post_author":"878","post_date":"2019-03-15 10:49:48","post_date_gmt":"2019-03-15 03:49:48","post_content":" \n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n \n\n\n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n \n\n \n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n \n\n \n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n \n\n \n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n \n\n \n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n \n\n \n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n \n\n \n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5544,"post_author":"878","post_date":"2019-03-15 10:49:48","post_date_gmt":"2019-03-15 03:49:48","post_content":" \n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n \n\n\n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n \n\n \n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n \n\n \n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n \n\n \n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n \n\n \n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n \n\n \n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n \n\n \n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n \n\n \n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5544,"post_author":"878","post_date":"2019-03-15 10:49:48","post_date_gmt":"2019-03-15 03:49:48","post_content":" \n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n \n\n\n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n \n\n \n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n \n\n \n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n \n\n \n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n \n\n \n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n \n\n \n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n \n\n \n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n \n\n \n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n \n\n \n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5544,"post_author":"878","post_date":"2019-03-15 10:49:48","post_date_gmt":"2019-03-15 03:49:48","post_content":" \n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n \n\n\n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n \n\n \n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n \n\n \n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n \n\n \n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n \n\n \n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n \n\n \n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n \n\n \n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n \n\n \n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n \n\n \n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n \n\n \n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5544,"post_author":"878","post_date":"2019-03-15 10:49:48","post_date_gmt":"2019-03-15 03:49:48","post_content":" \n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n \n\n\n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n \n\n \n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n \n\n \n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n \n\n \n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n \n\n \n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n \n\n \n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n \n\n \n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n \n\n \n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n \n\n \n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n \n\n \n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5544,"post_author":"878","post_date":"2019-03-15 10:49:48","post_date_gmt":"2019-03-15 03:49:48","post_content":" \n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Phillip Morris (PM) memang rajanya bisnis rokok di dunia. Umat manusia mana yang tidak mengenal brand Marlboro? Bahkan brand rokok ternama di Indonesia, Sampoerna adalah milik PM. Berawal dari pembelian 40% saham PT HM Sampoerna, Tbk oleh PT Phillip Morris Indonesia di tahun 2005, sampai pada akhirnya PM mengakuisisi hingga 100%.
<\/p>\n \n\n\n

Phillip Morris kini menguasai bisnis rokok dengan empat anak perusahaannya, Sampoerna (Indonesia), PMFT Inc. (Filipina), Rothmans, Benson & Hedges (Kanada), Papastratos Philip Morris International (Yunani). Segala macam jenis produk hasil tembakau pun dijual, ada rokok putih, kretek, hingga rokok elektrik. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Masa Depan Rokok Elektrik dan Semangat Alternatif yang Sia-sia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Sebagai sebuah perusahaan rokok multinasional yang dapat memasarkan barang dagangannya ke berbagai negara, tentu PM memiliki modal yang unlimited.<\/em> Kekuatan modal membuat PM bisa melakukan apa saja, salah satunya adalah merebut kretek dari Indonesia.
<\/p>\n \n\n \n

PM memang sudah punya barang dagangan berupa produk kretek, tapi masih dijual dengan brand anak perusahaannya Sampoerna. PM masih berdagang dengan merek-merek kretek seperti Dji Sam Soe, Sampoerna Mild, U Mild, dll. Setelah sukses besar dengan Sampoerna, PM ingin menunjukkan eksistensinya sebagai big boss<\/em> perusahaan rokok dunia dengan mengeluarkan produk kretek tanpa brand Sampoerna.
<\/p>\n \n\n \n

Baru-baru ini sebuah produk kretek terbaru bernama Phillip Morris Bold Kretek Filter muncul ke publik. Tak ada yang salah dari kemunculan produk ini, toh mereka menjualnya dengan cara yang legal. Namun yang menjadi persoalan adalah kretek sebagai produk kebudayaan khas Indonesia, kini bukan hanya dikuasai secara bisnis semata, entitasnya pun ingin dikuasai oleh PM.
<\/p>\n \n\n \n

Mengutip pendapat yang ditulis oleh sosiolog Suhardi Suryadi, kretek  adalah produk yang khas dari negara tertentu karena tidak semua negara mampu membuat atau menirunya. Kalaupun bisa meniru, namun tidak bisa menggantikan karena trade marknya sudah melekat pada negara pertama yang membuatnya.
<\/p>\n \n\n \n

Tahap meniru sudah dilakukan oleh PM. Menyoal trade mark kretek, dengan meluncurkan produk Phillip Morris Kretek, PM terlihat tengah mengaburkan trade mark kretek sebagai warisan budaya Indonesia. Bukan hal yang mustahil dilakukan oleh PM jika ke depannya mereka mematenkan kretek secara nama dan produk. Jika PM sudah mematenkan kretek, maka setiap penggunaan kata kretek hingga produk turunannya harus membayar royalti kepada PM.
<\/p>\n \n\n \n

Menyedihkan bukan jika setiap orang Indonesia dan perusahaan kretek nasional harus membayar royalti kepada asing atas sebuah produk warisan budayanya sendiri?<\/p>\n \n\n \n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/h3>\n \n\n \n

KNPK (Komite Nasional Pelestarian Kretek) sebenarnya sudah membaca bahwa persoalan ini akan terjadi. Pada tahun 2014 KNPK mengajukan kretek sebagai heritage Indonesia melalui naskah akademis \u201cKretek Sebagai Warisan Budaya Bangsa Indonesia\u201d kepada Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Sayangnya pemerintah menolak, kala itu intervensi dari kelompok antirokok begitu besar, tentu dengan dalih kesehatan sebagai tamengnya.
<\/p>\n \n\n \n

Manuver PM tak bisa dianggap sepele, mungkin sekarang terlihat seperti sedang bermain-main dengan inovasi produk bisnisnya, tapi nanti akan ada manuver-manuver lain yang akan dilakukan oleh PM untuk merebut kretek secara kaffah. Karena memang begitulah watak dari perusahaan multinasional. Demi mempertahankan bisnis dan memperluas ekspansi wilayah bisnisnya, segala cara akan dilakukan.
<\/p>\n \n\n \n

Kini apakah pemerintah dan kita hanya diam saja melihat asing mencoba merebut warisan budaya kita?<\/strong>
<\/p>\n ","post_title":"Sepak Terjang Phillip Morris Menguasai Kretek: Dari Bisnis Hingga Entitas","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sepak-terjang-phillip-morris-menguasai-kretek-dari-bisnis-hingga-entitas","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-16 10:24:22","post_modified_gmt":"2019-03-16 03:24:22","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5547","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5544,"post_author":"878","post_date":"2019-03-15 10:49:48","post_date_gmt":"2019-03-15 03:49:48","post_content":" \n

Saya pernah berkesempatan mempelajari secara mendalam selama sekira dua tahun empat jenis limbah yang mencemari bumi manusia ini. Limbah padat, limbah cair, limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara, dan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Dari empat jenis limbah tersebut, saya menemukan bahwasanya limbah dalam bentuk gas yang menyebabkan pencemaran udara menjadi limbah yang paling liar dan oleh karena itu menjadi paling berbahaya.<\/p>\n \n\n \n

Dalam segi karantina, ketiga jenis limbah lain bisa diisolasi dan diamankan dari jangkauan manusia. Untuk limbah dalam bentuk gas, atau agar lebih mudahnya kita sebut saja limbah udara, begitu ia di hasilkan dan dilepas ke udara bebas, maka ia menjadi begitu liar dan sulit sekali dikendalikan. Limbah udara ini akan mengisi seluruh ruang yang ada di udara dan dapat menjangkau seluruh manusia yang mengakses udara tanpa kecuali. Ini yang menjadi sebab pada akhirnya saya mendalami pencemaran udara ini dalam tesis studi saya di Magister Teknik Lingkungan. Lebih lagi Indonesia didakwa oleh banyak pihak di dunia sebagai pihak yang memiliki tingkat pencemaran udara tinggi akibat pembukaan lahan di hutan dan kebakaran dan pembakaran hutan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Apapun Penyakitya, Rokok Selalu Disalahkan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tetapi saya tidak hendak membahas isi tesis saya tentang pencemaran udara akibat kerusakan hutan di Indonesia. Ada faktor lain yang menyebabkan pencemaran udara dan begitu menghantui masyarakat bumi, polusi udara akibat pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor dan pemanfaatan energi untuk industri di muka bumi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Jerman dan Siprus, pada 2015, polusi udara akibat pemanfaatan energi fosil menyebabkan kematian sebanyak 8,8 juta manusia, meningkat dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.<\/p>\n \n\n \n

Hasil riset ini membuktikan bahwa polusi udara menjadi penyebab kematian jauh lebih banyak dibanding akibat rokok. Sebagai orang yang masih meyakini bahwa rokok memiliki banyak manfaat bagi manusia, saya menduga, apa yang dituduhkan kepada rokok sebenarnya juga sebatas simplifikasi karena sangat memungkinkan mereka yang dianggap meninggal akibat rokok di lain pihak juga terpapar polusi udara yang jauh lebih berbahaya. Namun karena fokus kajian hanya sebatas pengaruh rokok, maka efek polusi udara dikesampingkan terlebih dahulu.<\/p>\n \n\n \n

Polusi udara yang menyebabkan gangguan kesehatan kepada manusia pada umumnya menyerang manusia pada penyakit-penyakit kardiovaskular semisal serangan jantung dan stroke. Ini mirip dengan hasil riset terhadap rokok. Saya kira perlu ada riset lebih mendalam lagi untuk membuktikan bahwa sesungguhnya tuduhan terhadap rokok bisa jadi salah alamat karena sesungguhnya polusi udara akibat bahan bakar fosillah penyebabnya.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Rokok Bukan Penyebab Kanker Paru<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Adalah PM 2,5, unsur terkecil pada polusi udara yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel berukuran kecil dari PM 2,5 mampu menembus masuk hingga paru-paru manusia dan masuk hingga menyatu dalam sistem peredaran darah manusia. Maka tak hanya penyakit-penyakit terkait kardiovaskular yang bisa menyerang manusia akibat polusi udara ini, namun karena sudah masuk dalam sistem peredaran darah manusia, polusi udara ini bisa mengganggu manusia hingga ke bagian-bagian vital tubuh manusia lainnya.<\/p>\n \n\n \n

Berdasarkan standar yang dikeluarkan WHO, kandungan maksimal PM 2,5 ditetapkan sebesar 10 \u03bcg\/m3<\/sup> pada udara bebas. Di Jakarta, berdasarkan penelitian terkini yang dilakukan Greenpeace, kandungan PM 2,5 mencapai 45,3 \u03bcg\/m3<\/sup>, ini berarti 4,5 kali lebih besar dari ambang maksimal keamanan yang ditetapkan oleh WHO. Kondisi ini menyebabkan Jakarta ditetapkan sebagai kota dengan tingkat pencemaran udara paling mengkhawatirkan di kawasan Asia Tenggara.<\/p>\n \n\n \n

Polusi dari kendaraan di Jakarta menjadi penyebab utama tingginya tingkat kandungan PM 2,5 di udara Jakarta. Belum lagi ditambah aktivitas pembangkit listrik yang ada di sekitar Jakarta yang menggunakan pembakaran energi fosil, semakin memperparah kualitas udara di Jakarta. Dengan kata lain, untuk kawasan Asia Tenggara, jutaan penduduk Jakarta memiliki kerentanan paling parah dalam hal paparan polusi udara yang membahayakan kesehatan.<\/p>\n \n\n \n

Secara global 120 dari 100.000 orang terancam mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara. Di kawasan Eropa, angka ini meningkat menjadi 200 dari 100.000 orang. Untuk kota-kota dengan tingkat pencemaran mengkhawatirkan semisal Jakarta, angka ini bisa meningkat hingga 250 sampai 300 dari 100.000 orang.<\/p>\n \n\n \n

Alih-alih memperbaiki kualitas udara di Jakarta, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) M S Karliansyah membantah temuan Greenpeace.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Balur, Terapi Penghalau Radikal Bebas<\/a><\/h3>\n \n\n \n

\u201cKami punya alat pemantau kualitas udara dan hasil pemantauan alat kami memperlihatkan kualitas udara Jakarta cukup baik. Karena itu laporan Greenpeace yang menyebut kualitas udara Jakarta terburuk se-Asia Tenggara, tidak tepat,\u201d kata Karliansyah dalam sebuah pernyataan. <\/p>\n \n\n \n

(dikutip dari: https:\/\/news.okezone.com\/read\/2019\/03\/13\/18\/2029443\/polusi-udara-lebih-banyak-menyebabkan-kematian-dibanding-rokok<\/a>) <\/p>\n \n\n \n

Bagi kami, apa yang menjadi temuan terkini terkait polusi udara dan bahaya yang ditimbulkan darinya, menjadi bukti tambahan bahwa selama ini simplifikasi terhadap kajian-kajian rokok dan bahaya yang menyertainya masih terus terjadi dan sebuah kesalahan besar. Karena bagaimanapun juga, ada kompleksitas yang terjadi di bumi yang berujung pada menurunnya kualitas kesehatan manusia. Ada pencemaran udara yang membahayakan, ada zat-zat kimia sintetis berbahaya yang terkandung dalam produk-produk yang dikonsumsi manusia (lihat tulisan saya di situsweb ini pekan lalu), dan ada ragam rupa kondisi lain yang menjadi sebab menurunnya kualitas kesehatan manusia yang menyebabkan manusia rentan terserang penyakit berbahaya dan mematikan. <\/p>\n \n\n \n

Jadi, sudah sangat tidak masuk akal jika melulu rokok dan hanya rokok yang dicecar sebagai faktor tunggal penyebab gangguan kesehatan pada manusia. Toh, bukan tak mungkin semua itu memang sekadar dimanfaatkan untuk membunuh peredaran produk rokok kretek karena serangan-serangan terhadapnya kian hari kian gamblang terlihat sekadar bentuk persaingan dagang semata, faktor kesehatan digunakan sebagai penyedap belaka.
<\/p>\n ","post_title":"Polusi Udara Jauh Lebih Berbahaya dari Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"polusi-udara-jauh-lebih-berbahaya-dari-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-15 10:49:55","post_modified_gmt":"2019-03-15 03:49:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5544","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5536,"post_author":"877","post_date":"2019-03-12 09:21:46","post_date_gmt":"2019-03-12 02:21:46","post_content":" \n

\u201cEnten mriki, menawi musim ketigo mboten wonten tanduran ingkang cucuk sanesipun soto, nyambut gawe rong sasi kagem urip setaun\u201d<\/em> (Disini kalau musim kemarau, tidak ada tanaman yang bisa hidup selain tembakau. Kerja dua bulan untuk hidup setahun, ya yang bisa hanya tembakau). Ungkapan Yamuh, seorang petani muda yang sudah bertahun-tahun menjadi petani tembakau, dalam bahasa Jawa dialek Temanggung di atas adalah fakta empiris yang mengungkapkan betapa agungnya anugerah Tuhan yang menurunkan tanaman tembakau di Temanggung.<\/p>\n \n\n \n

Dalam buku \u201cKretek; Kajian Ekonomi dan Budaya Empat Kota\u201d,<\/em> kita bisa membaca kearifan budaya dan kreatifitas masyarakat lokal Temanggung dalam bertani, mengolah lahan, menanami tembakau, memanen dan menikmati hasil tembakau yang sangat dicintainya. Untuk mempertahankan kelestarian tembakau sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Pemurah, ribuan petani mengawali musim tanam tembakau dengan tradisi among tebal.<\/em> Yaitu semacam ritual yang menandai awal musim tanam tembakau, khususnya di desa Legoksari kecamatan Tlogomulyo, tempat penghasil tembakau mutu terbaik, antara akhir Maret hingga awal April. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Ageng Makukuhan, tokoh mitologis yang dipercaya para petani membawa bibit tembakau ke wilayah itu.<\/strong><\/p>\n \n\n \n

Baca: Mitologi Munculnya Srinthil, Tembakau Terbaki dan Termahal di\u00a0Dunia<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Tradisi dan ritual yang hampir sama juga berlaku ketika para petani tembakau menyambut musim panen, yakni dengan menggelar wiwitan.<\/em> Wiwitan adalah ritual yang menandai awal musim panen yang dilakukan pada pengujung musim kemarau, antara akhir Agustus hingga awal September dengan memperhitungkan hari yang dianggap baik. Berbeda dengan among tebal<\/em> yang dilaksanakan pada pagi hari, wiwitan<\/em> berlangsung pada saat senja atau petang hari. Dipimpin oleh kaum,<\/em> pemuka agama setempat, perangkat upacara diarak menuju ladang tembakau dari pemukiman dengan membawa sesajen, biasanya berupa tujuh tumpeng, ketan salak, dan daging ayam tolak. <\/p>\n \n\n \n

Potret antropologi budaya masyarakat petani tembakau di Temanggung tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek historis ditemukannya produk dan kreatifitas budaya yang bernama kretek. Kretek, jauh sebelum menjadi komoditas industri nasional yang menjadi simbol kejayaan bangsa, adalah sebuah penemuan, kreatifitas budaya, yang asli lahir dan tumbuh berkembang dari tangan-tangan terampil leluhur bangsa ini. <\/p>\n \n\n \n

Idiom-idiom kreatifitas dari lahirnya kretek muncul menjadi keseharian warga Kudus, kota yang melahirkan kretek, dan tempat dimana kretek mencapai puncak kejayaan ekonomi dan budaya nasional bahkan dunia luar. Idiom bathil <\/em>(menggunting untuk merapikan kedua ujung batang kretek), nggiling<\/em> (menggulung), nglinthing<\/em> (gulung tangan), sampai saat ini masih bisa disaksikan sebagai bukti masa kejayaan kretek masih bisa dirasakan anak cucu negeri ini. <\/p>\n \n\n \n

Mbok Ruminah, bekerja sebagai buruh bathil<\/em> di barak Burikan milik sebuah pabrik rokok ternama. Dia sudah bekerja sebagai buruh bathil selama 25 tahun. Setiap hari dia mampu mengerjakan 2.000 batang kretek (Roem Topatimasang dkk; 2010, hlm. 121). Keterampilan tangan Mbok Ruminah bukanlah semata-mata skill industri, tetapi kreatifitas lokal yang unik, karya budaya yang tidak disemua tempat orang bisa melakukan dan melestarikannya.   <\/p>\n \n\n \n

Menurut Roem Topatimasang, mata pencaharian yang lahir dari kraetifitas melinting<\/em> juga bisa ditemukan di Kediri, kota kretek kedua setelah Kudus. Agus Susanto, pria asli Kediri yang bekerja di salah satu pabrik kretek, ternyata seluruh anggota keluarganya bekerja sebagai buruh linting.<\/p>\n \n\n \n

Lanjut lagi Roem Topatimasang mengatakan, keunikan di tempat lain yang sangat menentukan produk budaya berupa kretek adalah di daerah Minahasa penghasil cengkeh terbesar. Sisa-sisa kejayaan budidaya cengkeh masih terlihat hingga kini. Rumah-rumah megah dan gereja-gereja besar dibangun pada saat petani cengkeh Minahasa mendapatkan harga jual yang sangat tinggi. Mantan Gubernur Sulawesi Utara (alm) Willy Lasut menyebutkan bahwa petani cengkeh Minahasa pernah menikmati kejayaan sebagai penduduk yang memiliki pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia pada era Gus dur jadi presiden, bahkan menyamai Swiss, negeri paling makmur di Eropa. <\/p>\n \n\n \n

Baca: Cengkeh: Dulu, Kini dan Nanti<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Karena itu hingga kini, Gus Dur masih terus dikenang sebagai pembawa berkah bagi petani cengkeh di Sulawesi Utara. Demikian senang dan hormatnya mereka kepada Gus Dur, para petani cengkeh di Sonder-Minahasa, memperingati meninggalnya Gus dur dengan menyalakan lilin di gereja-gereja dan jalan-jalan kota kecil itu. Betapa besar dampak sosial dan budaya dari cengkeh dan kretek bagi orang Minahasa.   <\/p>\n \n\n \n

Dari sisi antropologi sungguh menarik untuk dicermati. Satu kampung, satu dusun atau bahkan beberapa dusun, ribuan orang, satu keluarga, mempertahankan hidup, mempertahankan warisan budaya dan keterampilan nenek moyangnya dari kretek. Bagaimana cara hidup dan bermasyarakat orang-orang di kawasan petani tembakau di Temanggung, tradisi orang-orang Minahasa yang hidup dari pertanian cengkeh, serta buruh dan pekerja pabrik kretek di Kudus dan Kediri yang unik, penuh sentuhan ritual dan kultural.
<\/p>\n ","post_title":"\u201cKretek Kajian Ekonomi & Budaya Empat Kota\u201d Sebuah Analisa dalam Kacamata Antropologi Budaya","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kretek-kajian-ekonomi-budaya-empat-kota-sebuah-analisa-dalam-kacamata-antropologi-budaya","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-12 09:21:52","post_modified_gmt":"2019-03-12 02:21:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5536","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5531,"post_author":"883","post_date":"2019-03-11 07:50:02","post_date_gmt":"2019-03-11 00:50:02","post_content":" \n

Selama masa kampanye Pilpres 2019 isu Industri Hasil Tembakau (IHT) sama sekali tidak terdengar dari kedua kubu capres-cawapres. Sekalinya mencuat, hanya suara-suara antirokok yang menghiasi isu IHT, itupun karena mereka nyambi jadi timses di kedua kubu.
<\/p>\n \n\n \n

IHT yang jelas-jelas memberikan kontribusi bagi perekonomian seperti tidak mendapatkan porsi bagi kedua kubu. Padahal IHT tidak mengenal perbedaan politik. Sejak Indonesia merdeka, siapapun presidennya, apapun haluan politiknya, IHT tetap berkontribusi bagi negara.
<\/p>\n \n\n \n

Apakah terlalu kontroversial jika kedua kubu membahas isu ini?
<\/h3>\n \n\n \n

Seringkali persoalan IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan. IHT tak pernah dilihat dari spektrum yang lebih luas, dari hulu ke hilir, dari petani hingga konsumen. Jika IHT hanya dilihat dari kacamata kesehatan, tentu yang akan terlihat hanyalah dominasi opini gerombolan antirokok yang dari dulu datanya hanya itu-itu saja.
<\/p>\n \n\n \n

Isu IHT sangat penting mendapat porsi perhatian bagi kedua kubu capres-cawapres yang sedang bertarung di Pilpres 2019. Sebab disana ada nasib 30 juta orang yang bergantung hidup di sektor ini.
<\/p>\n \n\n \n

Di hulu ada nasib petani tembakau dan cengkeh. Bagaimana nantinya nasib mereka jika IHT harus mati akibat masuknya aturan FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) dan berbagai kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia?
<\/p><\/blockquote>\n \n\n \n

Mungkin dengan gampangnya mengatakan beralih ke tanaman alternatif bagi petani tembakau dan cengkeh adalah solusinya, tanpa tahu bertani bukanlah seperti pekerjaan kantoran yang dapat berpindah-pindah. Bertani lekat dengan lokal wisdom dan persoalan alam yang tidak bisa di sederhanakan.
<\/p>\n \n\n \n

Itu baru menyoal petani. Belum lagi menyoal buruh-buruh pabriknya. Buruh di pabrik di sektor IHT memiliki ciri khas tersendiri: Buruh pabrik kretek didominasi oleh perempuan. Hal ini sudah ada sejak lama dan dikerjakan secara turun-temurun dalam beberapa generasi. Tidak ada lagi istilah perempuan hanya di sumur, kasur dan dapur. Di lingkungan pabrik kretek, laki-laki dan perempuan sama-sama memegang peranan penting.
<\/p>\n \n\n \n

Dapat dibayangkan jika ribuan buruh perempuan ini harus kehilangan mata pencaharian mereka? Penghasilan rumah tangga tentu akan menurun, dan tak kalah pentingnya adalah perempuan tak lagi diberdayakan untuk menggerakkan roda perekonomian. Kemungkinan besar kehidupan sumur, kasur dan dapur kembali menjadi rutinitas.
<\/p>\n \n\n \n

Lalu di sektor distribusi di dalamnya juga terdapat ribuan pekerja, mulai dari jasa transportasi hingga industri kreatif yang akan terkena imbas ketika sektor IHT mati. Padahal dari sektor ini gairah pertumbuhan ekonomi bisa dinaikkan.<\/strong>
<\/p>\n \n\n \n

Dan yang terakhir adalah sektor hilir di isu IHT, disana terdapat persoalan UMKM sebagai pedagang produk hasil tembakau di masyarakat dan perokok sebagai konsumen produk itu sendiri.
<\/p>\n \n\n \n

Kedua kubu harus tahu bahwasanya Kontribusi sektor UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) terhadap produk domestik bruto sebesar 60,34 persen di tahun 2018. Serta memiliki serapan tenaga kerja sebesar 97,22 persen. Produk hasil tembakau sendiri merupakan produk yang dapat kita temui di toko-toko kelontong maupun pasar tradisional. Artinya IHT memiliki mata rantai yang tak dapat dipisahkan dengan UMKM.
<\/p>\n \n\n \n

Persoalan konsumen tentunya berkaitan dengan pungutan pajak terhadap perokok. Ini juga harus diketahui oleh kedua kubu capres-cawapres, perokok dikenakan 3 komponen pajak dalam konsumsi produk hasil tembakau. 3 komponen tersebut: Cukai, PDRD (Pajak Daerah Retribusi Daerah), dan PPN (Pajak Pertambahan Nilai). Negara memiliki kepentingan terhadap pajak yang dilekatkan kepada perokok sebagai instrumen pendapatan negara.
<\/p>\n \n\n \n

Setelah dijabarkan persoalan multidimensional dalam isu IHT ini, apakah kedua kubu capres dan cawapres pilpres 2019 masih tutup mata dengan isu IHT? Jika masih tutup mata, maka sudah sepatutnya kita yang menjadi bagian dari IHT hulu ke hilirnya jangan memilih calon presiden yang tidak memiliki kepedulian terhadap IHT.
<\/p>\n ","post_title":"Jangan Pilih Calon Presiden yang Tidak Pro Industri Hasil Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-pilih-calon-presiden-yang-tidak-pro-industri-hasil-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-11 07:50:09","post_modified_gmt":"2019-03-11 00:50:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5531","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5528,"post_author":"919","post_date":"2019-03-10 09:12:59","post_date_gmt":"2019-03-10 02:12:59","post_content":" \n

Sudah berulang kali narasi buruk tentang para perokok timbul di masyarakat. Sedangkan di berbagai berita, isu-isu kesehatan selalu dikaitkan dengan para perokok. Seolah-olah rokok memang tak dibolehkan hadir di bumi dan keberadaannya dicap haram. Namun, apakah memang benar demikian? Sedangkan banyak tokoh-tokoh hebat juga yang menikmati rokok bahkan hingga saat ini.<\/p>\n \n\n \n

Ridwan Remin, seorang komika asal Bogor adalah salah satu tokoh terkenal yang juga diketahui sebagai seorang penikmat rokok. Pria berkacamata tersebut mulai naik daun dan namanya dikenal publik terutama saat menjuarai ajang stand up comedy di salah satu televisi swasta. Dalam sebuah pertunjukannya, ia bahkan memasukkan unsur rokok dalam materi lawakannya tersebut. Pujian kemudian diberikan oleh sang juri karena lawakan tersebut dianggap matang dan cerdas.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Andaikan Jokowi-Prabowo Merokok, Inilah Rokok yang Cocok Buat Mereka<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Ridwan Remin diberi tema soal rokok. Ketika komika lain terjebak pada narasi-`narasi buruk soal rokok, Ridwan Remin mencoba untuk menggunakan hal tersebut sebagai pembuka namun dipatahkannya sebagai sebuah lawakan. Menurutnya, kegiatan merokok itu membang membuat seseorang cepat mati, namun ia lebih memilih merokok ketimbang harus mati gaya. Lemparan lawakannya tersebut diterima tawa penonton termasuk juri, Akan tetapi jika melihat dari premis lelucon itu, sedikit nampak ada kekesalan terhadap justifikasi kepada para perokok.<\/p>\n \n\n \n

Lingkungan sosial kerap melabeli para perokok sebagai kegiatan yang bersifat \u2018gentleman\u2019. Dari sebutan tersebut jelas bahwa mereka mencoba untuk melabeli rokok dengan hanya sebagai bagian dari kaum pria saja. Bisa anda saksikan padahal bahwa banya juga kaum hawa yang menikmati produk tersebut, jika ditanya alasannya mungkin juga bukan karena hanya terlihat keren semata. Nah, teori yang kedua ini juga muncul di lingkungan sosial yang mengkambinghitamkan kata \u2018keren\u2019 sebagai biang dari lahirnya perokok muda.<\/p>\n \n\n \n

Sebenarnya, kalau mau diakui rokok memang membuat seseorang terlihat keren, kalian para anti rokok mau membantah? Hayo, hayo, hayo. Memang terlihat membuat keren berada di tengah kerumitan hidup lantas mencoba menikmatinya dengan tanaman ciptaan tuhan (tembakau) yang kemudian dimodifikasi sebagai sebuah rokok, apakah ada salahnya? Selama dia sudah memiliki umur yang tepat dan sadar dalam mengkonsumsi rokok maka sah-sah saja dong itu dilakukan.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah Agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Coba kalihan tengok lagi berbagai film terkemuka  di dunia atau bahkan hingga yang masuk dalam box office dan menerima penghargaan. Sama seperti adegan saat hujan, adegan seseorang merokok dalam sebuah film terlihat sangat keren dan dengan pengambilan gambar yang seapik mungkin. Apakah sang sutradara adalah seorang marketing rokok ? ah itu dugaan anda saja. Film sebagai bentuk eksistensi daya pikir manusia memberikan adegan rokok didalamnya karena memang rokok tak bisa lepas dari realitas kehidupan, dan itu keren!<\/p>\n \n\n \n

Di kehidupan nyata anda bisa merekam berbagai pola dan tingkah para perokok dalam segi yang lebih humanis. Memang tak bisa dipungkiri ada yang berperilaku buruk dengan membuang puntungnya sembarangan, namun jangan gelap mata dan tak memberikan apresiasi bagi yang masih mentaati peraturan. Bukankah, para perokok yang tetap mentaati peraturan itu adalah orang-orang yang keren?<\/p>\n \n\n \n

Sekali lagi soal keren, para perokok itu memang keren karena dengan berbagai hujatan dan stigma sosial mereka tetap bisa mempertahankan hidup. Para perokok itu keren karena ditengah cercaan, konsumsi mereka akan produk tembakau juga menghasilkan sesuatu yang bisa membangun negeri. Angkat topi juga untuk kalian para perokok yang tetap menjaga stabilitas kehidupannya serta kesehatannya masih bisa terjamin. Mengkhiri tulisan ini, mari bakar rokokmu sejenak dan nikmati hidup yang fana ini.<\/p>\n \n\n \n

\u201cRokok itu emang buat gaya, kalau mau bunuh mah bunuh ajah, toh percuma gue hidup kalau mati gaya,\u201d Ridwan Remin, Juara Stand Up Comedy Indonesia 7.<\/p>\n ","post_title":"Akui Saja Merokok Itu Memang Hal yang Keren","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"akui-saja-merokok-itu-memang-hal-yang-keren","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-10 09:13:07","post_modified_gmt":"2019-03-10 02:13:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5528","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5522,"post_author":"878","post_date":"2019-03-08 07:51:45","post_date_gmt":"2019-03-08 00:51:45","post_content":" \n

Selepas Danau Beratan, menyimpang ke arah kiri meninggalkan jalan raya Denpasar-Singaraja, menoleh ke kiri jalan, pandangan mata saya tertuju ke Danau Tamblingan. Tak lama kemudian, melalui jalan menurun dan berliku, di kiri-kanan jalan rerimbunan pohon cengkeh tumbuh subur. Sebelum saya dan rekan-rekan tiba di Penginapan dan Restoran Don Biyu yang di kelola Bli Putu Ardana, senior saya di kampus yang juga warga asli Desa Munduk, Kabupaten Buleleng, Bali, di kanan jalan, kami melintasi Pura Kopi. <\/p>\n \n\n \n

Empat kali dalam waktu yang berbeda saya pernah berkunjung ke Desa Munduk. Dua di antaranya saya tinggal cukup lama di sana. Belajar dari dua orang kakak beradik Putu Ardana dan Komang Armada serta beberapa warga Desa Munduk lainnya tentang banyak hal, terutama pertanian cengkeh yang begitu masyhur di sana.<\/p>\n \n\n \n

Bertahun-tahun sebelum tiba di Desa Munduk, Denpasar membikin saya enggan berlama-lama di Pulau Bali. Denpasar terlalu ramai dan pikuk. Tentu saja ini penilaian subjektif saya semata. Namun Desa Munduk mengubah itu semua. Saya jadi betah berlama-lama di Pulau Bali. Lebih lagi bapak dari istri saya berasal dari Seririt, 45 menit ke arah utara dari Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, dari Bli Putu Ardana saya belajar banyak tentang adat dan keyakinan spiritual warga Desa Munduk. Dari Bli Komang Armada, saya mendapat pengetahuan berharga perihal pertanian cengkeh yang menyejahterakan banyak warga Desa Munduk dan banyak warga desa lain di luar Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Bli Putu sempat menjabat sebagai Bendesa, Kepala Desa Adat Munduk. Bli Komang beberapa waktu lalu terpilih sebagai petani teladan karena peran besarnya dalam pertanian cengkeh di Munduk.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Mendengar Kembali Kesaksian WS Rendra<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Meskipun menyejahterakan banyak orang, pertanian cengkeh di Munduk bukan tanpa masalah. Beberapa waktu lalu, pernah ada masanya pabrik-pabrik penyulingan minyak cengkeh banyak berdiri di Munduk dan desa-desa lain di sekitarnya. Bahan baku utama minyak cengkeh bisa didapat dari bunga cengkeh, tangkai bunga cengkeh, dan daun cengkeh. Yang terbaik tentu dari bunga cengkeh. Sayangnya faktor biaya membikin produsen minyak cengkeh memilih daun cengkeh sebagai bahan baku.<\/p>\n \n\n \n

Pengambilan daun cengkeh yang sudah gugur dari ranting-ranting pohon secara besar-besaran, ternyata membikin akar dan batang pohon cengkeh mudah terserang penyakit. Atas temuan ini, Bli Putu dan Bli Komang mengadvokasi sebuah peraturan yang melarang pengambilan daun cengkeh hingga tingkat bupati. Berhasil. Bupati mengeluarkan peraturan bupati yang melarang pengambilan daun cengkeh berlebihan.<\/p>\n \n\n \n

\"Manusia terikat pada tiga interaksi. Interaksi dengan Tuhan, interaksi dengan sesama manusia, dan interaksi dengan alam, yang terakhir itu kerap dilupakan,\" Ujar Bli Komang sekali waktu di tengah kebun cengkeh miliknya, ia melanjutkan, \"Manusia terlalu banyak mengambil dari alam. Terlalu banyak. Sementara kita seperti enggan mengembalikan sesuatu ke alam, memenuhi hak alam. Semestinya, seberapa besar yang kita ambil dari alam, sebanyak itu juga yang harus kita kembalikan ke alam. Seimbang. Hidup harus seimbang.\"<\/p>\n \n\n \n

Itulah yang mendorong Bli Komang dan Bli Putu menjalani lelaku bertani ramah alam. Dan keyakinan spiritualitas serta tradisi leluhur di Munduk mendukung dan menyarankan laku tani semacam ini. Pura Kopi, pura yang sedikit saya singgung pada pembuka tulisan ini, adalah pura yang khusus diperuntukkan sebagai tempat ritual-ritual religi terkait pertanian. Dinamakan Pura Kopi karena sejarah perkebunan kopi di Munduk lebih dahulu dibanding cengkeh.<\/p>\n \n\n \n

Kemarin, kamis, 7 Maret 2019, Umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi. Perayaan menyambut tahun baru saka. Salah satu rangkaian perayaan Nyepi adalah Tawur Kesanga. Apa-apa yang disampaikan Bli Komang tentang keseimbangan manusia dan alam persis dengan makna yang terkandung dalam ritus Tawur Kesanga. Itu sependek yang saya ketahui.<\/p>\n \n\n \n

Baca: Filosofi dan Nilai Budaya Di Balik Budidaya Tembakau<\/a><\/h3>\n \n\n \n

Pada bagian belakang Penginapan dan Restoran Don Biyu milik Bli Putu, pemandangan lembah hingga ke puncak gunung tersaji. Hamparan pohon cengkeh memenuhi sebagian besar wilayah itu. Saat senja, kabut kerap memenuhi kawasan itu, angin berhembus bawa kesejukan. Kadang hingga begitu dingin. Sunyi. Sepi.<\/p>\n \n\n \n

Pada suasana seperti itu, saya kerap merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Merenung dan merenung. Memikirkan banyak hal yang melintas dalam kepala. Tentang cerita-cerita adat di Munduk dari Bli Putu, tentang pelajaran di kebun cengkeh dari Bli Komang, tentang Tuhan, manusia dan alam.<\/p>\n \n\n \n

Saya muslim. Sependek pengetahuan saya, lelaku semacam nyepi yang dilakukan umat Hindu, ada kemiripan dengan lelaku yang juga dipraktikkan oleh umat Islam. Ada beberapa perbedaan tentu. Tetapi ada pula persamaannya. Dalam Islam, lelaku itu lazim disebut uzlah. Nabi Muhammad mencontohkan itu dalam uzlahnya ke Gua Hira misal.<\/p>\n \n\n \n

Di Desa Munduk, saya merenungi kesamaan-kesamaan itu, mendengar cerita tentang ritual utama perayaan Nyepi Umat Hindu dari Bli Putu, dan mempraktikkan semampu saya apa yang kami orang muslim kerap sebut Uzlah.<\/p>\n \n\n \n

Ritual utama perayaan Nyepi, atau disebut Catur Barata Penyepian, mensyaratkan empat lelaku utama: Amati Geni; Amati Karya; Amati Lelungaan; Amati Lelanguan. Tidak menyalakan api termasuk penerangan dan tungku masak yang artinya mesti berpuasa, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak mencari hiburan.<\/p>\n \n\n \n

Lelaku itu menjadikan banyak unsur dalam diri diistirahatkan dan mereka yang menjalani lelaku itu memfokuskan diri berhubungan dengan Yang Maha Kuasa. Saya pikir, dalam kondisi sosial kemasyarakatan seperti sekarang ini di muka bumi, lelaku ini diperlukan oleh manusia seluruhnya, tak hanya Umat Hindu. Dan saya yakin, seperti juga uzlah dalam ajaran Islam, dalam banyak keyakinan lain di muka bumi ini, ada juga sebuah anjuran semisal Nyepi, Uzlah, dengan ragam penamaan lain.<\/p>\n \n\n \n

Selamat Hari Raya Nyepi.<\/p>\n ","post_title":"Menyepi di Desa Munduk","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menyepi-di-desa-munduk","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-03-08 07:51:54","post_modified_gmt":"2019-03-08 00:51:54","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5522","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":36},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};