Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n
Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n
Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya.
<\/p>\n\n\n\n
Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol.
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan! Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan! Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n Baca: Denda Bagi Mereka yang Merokok Saat Berkendara, Sudah Tepatkah?<\/a><\/p>\n\n\n\n Lagian namanya bawa kendaraan ya emang bete, jangankan bawa kendaraan, naik pesawat yang business class aja bete. Kalau gak mau bete ya jangan berpergian donk!!! Nah kalau alasannya biar santuy dan keren aja, aduh sumpah dah gak masuk akal. Apa kerennya coba lo ngerokok sambil berkendara, orang juga gak ada yang liatin kali!!! Kan mereka juga fokus sama kendaraannya.<\/strong> Merokok itu cool kalau kita merokok di tempat yang udah disediain, merokok tapi menghargai juga hak orang lain yang bukan perokok. Nah itu baru keren dah. Apa kerennya merokok sambil berkendara? Merokok saat berkendara tidak menghargai hak orang lain yang bukan perokok, terus apa itu bisa disebut keren? Nih ya, pada saat kendaraan berjalan maupun berhenti, asap rokok yang dihembuskan akan mengenai pengendara di sekitar, sehingga memungkinkan orang lain terpapar asap rokok. Belum lagi merokok sambil berkendara itu berbahaya bagi orang lain. Mengapa berbahaya? Sebab ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya, maka akan menimbulkan resiko orang di sekitar akan terkena bara api rokok. <\/p>\n\n\n\n Baca: 4 Langkah Menjadi Perokok Etis<\/a><\/p>\n\n\n\n Akibatnya tentu bermacam-macam, mulai dari mengganggu konsentrasi, mengakibatkan kebutaan pada orang yang matanya terkena bara api, hingga kecelakaan fatal. Apakah itu keren? No, man that\u2019s not cool!!!<\/p>\n\n\n\n Sekarang mari kita suarakan bahwa merokok sambil berkendara bukanlah perilaku dari kita sebagai perokok etis. Perokok yang keren itu ya perokok etis. Perokok yang menghargai hak bukan perokok dengan merokok di ruang merokok, bukan di sembarang tempat. Perokok yang tidak merokok di dekat anak kecil. Perokok yang tidak merokok di dekat ibu hamil. Perokok yang buang puntung rokok pada tempatnya. Itu baru namanya perokok yang keren. Makanya jangan ngaku keren kalau lo masih merokok sambil berkendara. Yang kayak gini sih biasanya bukan cuma gak keren, tapi mungkin juga dia anti sosial yang ikut kerja bakti di lingkungannya dia gak pernah nongol. Lagian Tingwe juga kini bukan lagi jadi satu barang yang dianggap ndeso dikalangan masyarakat. Jikalau dulu Tingwe dilakukan mungkin hanya di kalangan pedesaaan, tentu dengan alasan irit. Sekarang ketika masyarakat kena dampak ekonomi yang kurang baik, di kota dan di desa pun tak segan-segan melakukan Tingwe. <\/p>\n\n\n\n Tingwe ini akan lahir dengan spirit yang luar biasa. bolehlah banyak tren hadir karena seseorang bintang, tokoh terkenal, atau merek ternama. Tapi lahirnya Tingwe kali ini adalah tren perlawanan melawan hegemoni kekuasaan yang menindas. Kerennya Tingwe kali ini pula adalah ia bisa menciptakan kelompok kolektif-kolektif baru di masyarakat. Mungkin karena memang sifat Tingwe itu sendiri yang tak cukup nikmat untuk dinikmati sendiri. Tingwe memang sangat nikmat untuk dinikmati bersama-sama.<\/p>\n\n\n\n Jadi, 2020 telah tiba! Jangan sungkan-sungkan untuk mengikuti tren perlawanan ini. Aku melinting maka aku melawan! Logika yang sangat keliru dengan melihat kenyataan di lapangan, kalau merokok membuat miskin, penyakitan, impoten, boros dan lain-lain. Nyatanya orang yang tidak merokok tetap miskin, tetap sakit, tetap ada yang impoten, tetap tidak punya tabungan. Sebaliknya, orang yang merokok tetap kaya, tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki dan punya tabungan. <\/p>\n\n\n\n Orang yang tidak suka rokok, rata-rata berpikiran, lebih baik uang untuk beli rokok ditabung. Dengan menghitung dalam satu hari menghabiskan berapa bungkus dikali satu bulan bahkan dikalikan dalam satu tahun. Hasil perkalian tersebut, menjadi simpulan bahwa orang yang merokok kalau saja berhenti merokok dan uangnya ditabung, maka ia akan kaya. Sekarang coba kita sama-sama teliti ke lapangan dalam kehidupan masyarakat. Pertanyaannya adalah, apakah di lapangan orang yang tidak merokok semuanya kaya, tidak ada yang miskin? <\/p>\n\n\n\n Jawabannya sudah bisa dipastikan sama kondisi perokok dan yang tidak merokok. Jadi aktivitas merokok dan orang tidak merokok tidak bisa dibuat ukuran seseorang itu kaya atau miskin. Karena mereka pun kenyataannya sama. Orang yang tidak merokok ada yang tetap miskin, orang yang merokok ada yang tetap kaya. Orang yang tidak merokok ada yang terkena serangan jantung, punya penyakit paru-paru, tidak punya anak dan lain sebagainya. Yang merokok, badannya tetap sehat, banyak anak, banyak rezeki, pikirannya sehat, kreatif, pekerjaannya cepat selesai dan lain sebagainya. <\/p>\n\n\n\n Dalam kehidupan bermasyarakat di bawah, terutama orang-orang desa antara yang merokok dan yang tidak merokok hidup damai berdampingan bahkan saling menghormati. Keadaan tersebut dapat dilihat keseharian masyarakat desa. Mereka yang merokok tidak akan mengganggu dan memaksa orang yang tidak merokok. Sebaliknya yang tidak merokok tidak akan melarang aktivitas orang yang merokok. Mereka tetap ngobrol bareng sambil ketawa ketiwi. Tanpa permisi pun mereka sudah saling mengerti, saling memahami bahkan saling tolong menolong.<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok, Selingkuh Lembaga dan Organisasi di Indonesia dengan Kepentingan Asing<\/a><\/p>\n\n\n\n Orang yang merokok di saat membutuhkan bantuan orang yang tidak merokok, sebagai bentuk ucapan terima kasih tidak akan diberikan rokok diganti dengan yang lain. Orang yang tidak merokok, saat membutuhkan bantuan orang yang suka merokok, terkadang ucapan terima kasih dengan memberikan rokok, kalau pun bentuk ucapan terima kasih dengan yang lain itupun tidak mengapa. Mereka tetap saling mengerti, saling membantu dan saling menghormati. <\/p>\n\n\n\n Sebetulnya, yang mengbuat kisruh dan memprovokasi keadaan perokok dan yang tidak merokok adalah rezim kesehatan dan orang yang fanatik antirokok . Antara perokok dan yang tidak merokok seakan-akan dihadap-hadapkan sebagai lawan dan musuh. Keadaan inilah dikemudian hari akan mengganggu dan mempengaruhi stabilitas nasional. <\/p>\n\n\n\n Lebih parahnya, yang sering mendengungkan perlawanan terhadap rokok adalah mereka yang anti rokok dan rezim kesehatan yang telah dipengaruhi oleh Negara lain. Ini sama halnya tidak jauh dari politik pecah belah masyarakat yang pernah dilakukan penjajah saat ingin menguasai Indonesia. <\/p>\n\n\n\n Pada dasarnya mayoritas masyarakat Indonesia tidak mempermasalahkan orang yang merokok atau oaring yang tidak merokok. Mereka hidup berdampingan bahkan saling memanfaatkan dan menguntungkan. Gak percaya?, mari dibuktikan, datang dan lihat di masyarakat kabupaten Kudus sebagai kota industri rokok. Tidak semua yang menjadi karyawan perusahaan rokok kretek di Kudus itu perokok, dan tidak semua perokok menjadi karyawan perusahaan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Uniknya, di Kudus justru para perokok menggantungkan diri dan sangat mengharapkan bantuan orang yang tidak merokok, tak lain adalah para wanita dan ibu-ibu yang mewarisi keahlian meracik dan membuat rokok. Bisa di cek ke lapangan, kaum hawa pewaris keahlian meracik dan membuat rokok tersebut, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak merokok. Justru dengan keahliannya tersebut, mereka mendapatkan kesejahteraan untuk kehidupan sehari-hari. Jumlah mereka tidak sedikit, saat ini puluhan ribu, dahulu mencapai ratusan ribu. <\/p>\n\n\n\n Tidak hanya itu, banyak kaum adam pun yang bekerja di perusahaan rokok, ia tak merokok. Bagusnya, dan perlu diapresiasi, perusahaan rokok di Kudus tidak mewajibkan dan memerintahkan karyawannya untuk merokok. Contohnya Djarum, perusahaan rokok kretek terbesar di Kudus, tak pernah mensyaratkan karyawannya untuk merokok, apalagi mewajibkan merokok produknya sendiri jauh dari persyaratan. Juga perusahaan Djarum mengkaryakan kaum hawa untuk mengekpresikan keahliannya yang telah diwariskan nenek moyang. Tentunya dengan imbalan upah sebagai ucapan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap keahlian yang dimiliki kaum hawa tersebut.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Antirokok Mari Bahagia Bersama Perokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun tidak merokok, kaum hawa tersebut merasa senang dan gembira keahliannya tersalurkan bermanfaat bagi orang lain, bermanfaat untuk dirinya sendiri bahkan sebagai penguat perekonomian keluarganya. Seperti yang telah di utarakan ibu Sri Wahyuni buruh karyawan perusahaan PT. Djarum asal Desa Karang Bener pada hari senin 04\/11\/2019 dikediamannya. <\/p>\n\n\n\n \u201cbangga menjadi buruh karyawan Djarum, pabrik besar, biasanya sulit menjadi karyawan pabrik besar dengan hanya berbekal ijazah SMP, mendapat upah cukup untuk membantu perekonomian kluarga, untuk biaya sekolah anak, untuk makan dan beli lainnya, menjadi karyawan sudah puluhan tahun sejak lulus SMP, satu-satunya keahliany yang dimiliki membuat rokok dari orang tua dulu membuat rokok dirumah, menjadi karyawan djarum tidak ada persyaratan harus merokok, dan samapai sekarang saya tidak merokok\u201d<\/p>\n\n\n\n Jadi, sejatinya di lapangan terjadi jalinan harmonis antara perokok dan yang tidak merokok, mereka saling membutuhkan, mereka saling membantu, mereka saling memanfaatkan. Tidak pernah mereka saling mempersoalkan kamu perokok, kamu tidak merokok. Aktifitas merokok di masyarakat sudah biasa dan membudaya dari dulu. Tidak ada saling menyudutkan bahkan mencemooh. Nah, aturan pemerintah dan orang orang yang di atas terutama rezim kesehatan atau orang-orang anti rokok sama-sama putra bangsa sama sama warga Indonesia seharusnya demikian, saling menghormati, saling bahu membahu, saling tolong menolong, saling menghargai menuju Indonesia kuat dan stabilitas nasional terjaga dengan baik. Lo pikir, Lo keren gitu bawa motor atau bawa mobil sambil seplas-seplus rokok? Kagak boy, kagak keren sama sekali. Lagian apa enaknya juga merokok sambil berkendara? Buat ngilangin ngantuk? Biar gak bete? Alah alesan doank itu mah, sumpah deh gak ngefek sama sekali. Kalau ngantuk ketika berkendara, mendingan kalian menepi dulu deh, berentiin kendaraan di warung-warung kopi. Pesen kopi atau teh manis, terus bakar rokok, nikmatin dalam-dalam hisapan demi hisapannya. Itu lebih efektif mengusir ngantuk ketimbang merokoknya sambil berkendara, bener deh gak ada nikmat-nikmatnya. Kan pas ngerokok sambil berkendara, rokok cepet abis gegara kena angin. Belum lagi pas mau buang asapnya, gak bisa dirasain tuh asap keluar dari mulut, malahan yang ada debu-debu plus krikil masuk ke mulut ente. Kalau alasan merokok sambil berkendara buat ngilangin bete, ya gile aja lo ndro\u2026<\/strong> Kan bisa pasang headset terus setel musik, makanya berlangganan aplikasi musik yang premium donk!!! <\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Menjadi Keren dengan Tidak Merokok Saat Berkendara","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menjadi-keren-dengan-tidak-merokok-saat-berkendara","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-04-09 09:10:43","post_modified_gmt":"2019-04-09 02:10:43","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5618","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":3},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Aku Melinting Maka Aku Melawan!","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"aku-melinting-maka-aku-melawan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-01-05 11:05:30","post_modified_gmt":"2020-01-05 04:05:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6354","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6212,"post_author":"877","post_date":"2019-11-09 08:35:51","post_date_gmt":"2019-11-09 01:35:51","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Perokok dan Non Perokok Hidup Harmonis, Hanya Rezim Kesehatan yang Membuat Kegaduhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-dan-non-perokok-hidup-harmonis-hanya-rezim-kesehatan-yang-membuat-kegaduhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-09 08:35:53","post_modified_gmt":"2019-11-09 01:35:53","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6212","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5618,"post_author":"883","post_date":"2019-04-09 09:10:33","post_date_gmt":"2019-04-09 02:10:33","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n