\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tafsiran sejarah De Cadolle dan Thomas Stamford Raffles itu ternyata sinkron dengan keterangan yang tertulis dalam teks sejarah Jawa, \u201cBabad ing Sangkala\u201d<\/em>. Diceritakan tentang kebiasaan \u201cmerokok\u201d yang bertepatan waktunya dengan meninggalnya Panembahan Senapati, dengan diberi candra sengkala \u201cGni Mati Tumibeng Siti\u201d<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau 1601 \u2013 1602 Masehi. Gambaran ini semakin dipertegas dengan catatatan sejarawan Belanda, Dr. H. de Haen. Menurutnya pada tahun  1622 \u2013 1623 seorang utusan VOC pernah berkunjung ke Mataram dan mencatat kebiasaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram yaitu Sultan Agung, yang rupa-rupanya adalah perokok kelas atas.
<\/p>\n\n\n\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Meskipun literatur mencatat kebiasaan menambahkan tembakau seperti tafsiran Anthony Reid baru dimulai sejak paruh kedua abad ke-18, tapi nampaknya kebiasaan mengonsumsi tembakau, bahkan dengan cara baru yaitu \u201cdirokok\u201d, sesungguhnya justru sudah berlangsung lebih lama. Menurut De Candolle masuknya tembakau tahun 1600, di masa penjajahan bangsa Portugis di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Tafsiran sejarah De Cadolle dan Thomas Stamford Raffles itu ternyata sinkron dengan keterangan yang tertulis dalam teks sejarah Jawa, \u201cBabad ing Sangkala\u201d<\/em>. Diceritakan tentang kebiasaan \u201cmerokok\u201d yang bertepatan waktunya dengan meninggalnya Panembahan Senapati, dengan diberi candra sengkala \u201cGni Mati Tumibeng Siti\u201d<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau 1601 \u2013 1602 Masehi. Gambaran ini semakin dipertegas dengan catatatan sejarawan Belanda, Dr. H. de Haen. Menurutnya pada tahun  1622 \u2013 1623 seorang utusan VOC pernah berkunjung ke Mataram dan mencatat kebiasaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram yaitu Sultan Agung, yang rupa-rupanya adalah perokok kelas atas.
<\/p>\n\n\n\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain ditambahkan pada tradisi mengonsumsi sirih, tembakau juga dikonsumsi sendiri secara terpisah, baik itu dengan cara dikunyah atau dirokok. Kebiasaan baru ini melahirkan istilah baru dalam kosa-kata bahasa Jawa \u201cnyusur\u201d<\/em> atau \u201csusur\u201d<\/em>. Tembakau khusus untuk makan sirih ini dikenal dengan nama \u201ctembakau sugi\u201d<\/em>. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> pada perkembangannya tidak memiliki perbedaan semantik alias artinya setali tiga uang.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun literatur mencatat kebiasaan menambahkan tembakau seperti tafsiran Anthony Reid baru dimulai sejak paruh kedua abad ke-18, tapi nampaknya kebiasaan mengonsumsi tembakau, bahkan dengan cara baru yaitu \u201cdirokok\u201d, sesungguhnya justru sudah berlangsung lebih lama. Menurut De Candolle masuknya tembakau tahun 1600, di masa penjajahan bangsa Portugis di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Tafsiran sejarah De Cadolle dan Thomas Stamford Raffles itu ternyata sinkron dengan keterangan yang tertulis dalam teks sejarah Jawa, \u201cBabad ing Sangkala\u201d<\/em>. Diceritakan tentang kebiasaan \u201cmerokok\u201d yang bertepatan waktunya dengan meninggalnya Panembahan Senapati, dengan diberi candra sengkala \u201cGni Mati Tumibeng Siti\u201d<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau 1601 \u2013 1602 Masehi. Gambaran ini semakin dipertegas dengan catatatan sejarawan Belanda, Dr. H. de Haen. Menurutnya pada tahun  1622 \u2013 1623 seorang utusan VOC pernah berkunjung ke Mataram dan mencatat kebiasaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram yaitu Sultan Agung, yang rupa-rupanya adalah perokok kelas atas.
<\/p>\n\n\n\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut Anthony Reid, mengunyah tembakau kemudian menjadi praktik umum dengan mengunyah sirih. Meskipun tafsir sejarah dominan tentang pengenalan tembakau katakanlah baru berlangsung pada awal abad ke-17, namun demikian entitas tembakau ternyata justru membawa fenomena perubahan mendalam pada struktur sosial, budaya, politik, ekonomi dan simbolik di Nusantara. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain ditambahkan pada tradisi mengonsumsi sirih, tembakau juga dikonsumsi sendiri secara terpisah, baik itu dengan cara dikunyah atau dirokok. Kebiasaan baru ini melahirkan istilah baru dalam kosa-kata bahasa Jawa \u201cnyusur\u201d<\/em> atau \u201csusur\u201d<\/em>. Tembakau khusus untuk makan sirih ini dikenal dengan nama \u201ctembakau sugi\u201d<\/em>. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> pada perkembangannya tidak memiliki perbedaan semantik alias artinya setali tiga uang.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun literatur mencatat kebiasaan menambahkan tembakau seperti tafsiran Anthony Reid baru dimulai sejak paruh kedua abad ke-18, tapi nampaknya kebiasaan mengonsumsi tembakau, bahkan dengan cara baru yaitu \u201cdirokok\u201d, sesungguhnya justru sudah berlangsung lebih lama. Menurut De Candolle masuknya tembakau tahun 1600, di masa penjajahan bangsa Portugis di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Tafsiran sejarah De Cadolle dan Thomas Stamford Raffles itu ternyata sinkron dengan keterangan yang tertulis dalam teks sejarah Jawa, \u201cBabad ing Sangkala\u201d<\/em>. Diceritakan tentang kebiasaan \u201cmerokok\u201d yang bertepatan waktunya dengan meninggalnya Panembahan Senapati, dengan diberi candra sengkala \u201cGni Mati Tumibeng Siti\u201d<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau 1601 \u2013 1602 Masehi. Gambaran ini semakin dipertegas dengan catatatan sejarawan Belanda, Dr. H. de Haen. Menurutnya pada tahun  1622 \u2013 1623 seorang utusan VOC pernah berkunjung ke Mataram dan mencatat kebiasaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram yaitu Sultan Agung, yang rupa-rupanya adalah perokok kelas atas.
<\/p>\n\n\n\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengonsumsi sirih juga merupakan kegiatan sehari-hari yang bermakna profan. Bagi masyarakat Jawa, interaksi sosial di antara mereka akan lebih dipermudah melalui kegiatan menyirih bersama-sama atau dengan menyajikan sirih. Sajian sirih juga jadi medium pemecah kebekuan, atau sebagai pembuka percakapan. Selain itu, nyirih<\/em> atau nginang<\/em> itu sendiri dimaksudkan memberi efek menenangkan diri dan memberi suasana rileks bagi pemakainya.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Anthony Reid, mengunyah tembakau kemudian menjadi praktik umum dengan mengunyah sirih. Meskipun tafsir sejarah dominan tentang pengenalan tembakau katakanlah baru berlangsung pada awal abad ke-17, namun demikian entitas tembakau ternyata justru membawa fenomena perubahan mendalam pada struktur sosial, budaya, politik, ekonomi dan simbolik di Nusantara. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain ditambahkan pada tradisi mengonsumsi sirih, tembakau juga dikonsumsi sendiri secara terpisah, baik itu dengan cara dikunyah atau dirokok. Kebiasaan baru ini melahirkan istilah baru dalam kosa-kata bahasa Jawa \u201cnyusur\u201d<\/em> atau \u201csusur\u201d<\/em>. Tembakau khusus untuk makan sirih ini dikenal dengan nama \u201ctembakau sugi\u201d<\/em>. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> pada perkembangannya tidak memiliki perbedaan semantik alias artinya setali tiga uang.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun literatur mencatat kebiasaan menambahkan tembakau seperti tafsiran Anthony Reid baru dimulai sejak paruh kedua abad ke-18, tapi nampaknya kebiasaan mengonsumsi tembakau, bahkan dengan cara baru yaitu \u201cdirokok\u201d, sesungguhnya justru sudah berlangsung lebih lama. Menurut De Candolle masuknya tembakau tahun 1600, di masa penjajahan bangsa Portugis di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Tafsiran sejarah De Cadolle dan Thomas Stamford Raffles itu ternyata sinkron dengan keterangan yang tertulis dalam teks sejarah Jawa, \u201cBabad ing Sangkala\u201d<\/em>. Diceritakan tentang kebiasaan \u201cmerokok\u201d yang bertepatan waktunya dengan meninggalnya Panembahan Senapati, dengan diberi candra sengkala \u201cGni Mati Tumibeng Siti\u201d<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau 1601 \u2013 1602 Masehi. Gambaran ini semakin dipertegas dengan catatatan sejarawan Belanda, Dr. H. de Haen. Menurutnya pada tahun  1622 \u2013 1623 seorang utusan VOC pernah berkunjung ke Mataram dan mencatat kebiasaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram yaitu Sultan Agung, yang rupa-rupanya adalah perokok kelas atas.
<\/p>\n\n\n\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tradisi sirih awalnya lekat digunakan masyarakat sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik. Dalam masyarakat Dayak, misalnya, daun sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah diyakini orang Dayak sangat mujarab menyembuhkan berbagai macam penyakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Mengonsumsi sirih juga merupakan kegiatan sehari-hari yang bermakna profan. Bagi masyarakat Jawa, interaksi sosial di antara mereka akan lebih dipermudah melalui kegiatan menyirih bersama-sama atau dengan menyajikan sirih. Sajian sirih juga jadi medium pemecah kebekuan, atau sebagai pembuka percakapan. Selain itu, nyirih<\/em> atau nginang<\/em> itu sendiri dimaksudkan memberi efek menenangkan diri dan memberi suasana rileks bagi pemakainya.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Anthony Reid, mengunyah tembakau kemudian menjadi praktik umum dengan mengunyah sirih. Meskipun tafsir sejarah dominan tentang pengenalan tembakau katakanlah baru berlangsung pada awal abad ke-17, namun demikian entitas tembakau ternyata justru membawa fenomena perubahan mendalam pada struktur sosial, budaya, politik, ekonomi dan simbolik di Nusantara. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain ditambahkan pada tradisi mengonsumsi sirih, tembakau juga dikonsumsi sendiri secara terpisah, baik itu dengan cara dikunyah atau dirokok. Kebiasaan baru ini melahirkan istilah baru dalam kosa-kata bahasa Jawa \u201cnyusur\u201d<\/em> atau \u201csusur\u201d<\/em>. Tembakau khusus untuk makan sirih ini dikenal dengan nama \u201ctembakau sugi\u201d<\/em>. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> pada perkembangannya tidak memiliki perbedaan semantik alias artinya setali tiga uang.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun literatur mencatat kebiasaan menambahkan tembakau seperti tafsiran Anthony Reid baru dimulai sejak paruh kedua abad ke-18, tapi nampaknya kebiasaan mengonsumsi tembakau, bahkan dengan cara baru yaitu \u201cdirokok\u201d, sesungguhnya justru sudah berlangsung lebih lama. Menurut De Candolle masuknya tembakau tahun 1600, di masa penjajahan bangsa Portugis di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Tafsiran sejarah De Cadolle dan Thomas Stamford Raffles itu ternyata sinkron dengan keterangan yang tertulis dalam teks sejarah Jawa, \u201cBabad ing Sangkala\u201d<\/em>. Diceritakan tentang kebiasaan \u201cmerokok\u201d yang bertepatan waktunya dengan meninggalnya Panembahan Senapati, dengan diberi candra sengkala \u201cGni Mati Tumibeng Siti\u201d<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau 1601 \u2013 1602 Masehi. Gambaran ini semakin dipertegas dengan catatatan sejarawan Belanda, Dr. H. de Haen. Menurutnya pada tahun  1622 \u2013 1623 seorang utusan VOC pernah berkunjung ke Mataram dan mencatat kebiasaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram yaitu Sultan Agung, yang rupa-rupanya adalah perokok kelas atas.
<\/p>\n\n\n\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Belakangan nampak terjadi perkembangan dalam budaya ini. Tradisi makan sirih tidak berhenti pada pencampuran daun sirih dan buah pinang belaka. Bahan utamanya bertambah dan semakin kompleks, yaitu terdiri buah pinang, gambir (getah pohon gambir), sirih dan kapur. Tanpa terkecuali cengkeh juga bisa ditambahkan, tergantung selera atau lebih tepatnya berkorelasi dengan status sosial seseorang. Semua bahan itu ditanam dan dipanen secara terpisah, dan umum digunakan dalam berbagai ritual maupun praktik keseharian masyarakat Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Tradisi sirih awalnya lekat digunakan masyarakat sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik. Dalam masyarakat Dayak, misalnya, daun sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah diyakini orang Dayak sangat mujarab menyembuhkan berbagai macam penyakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Mengonsumsi sirih juga merupakan kegiatan sehari-hari yang bermakna profan. Bagi masyarakat Jawa, interaksi sosial di antara mereka akan lebih dipermudah melalui kegiatan menyirih bersama-sama atau dengan menyajikan sirih. Sajian sirih juga jadi medium pemecah kebekuan, atau sebagai pembuka percakapan. Selain itu, nyirih<\/em> atau nginang<\/em> itu sendiri dimaksudkan memberi efek menenangkan diri dan memberi suasana rileks bagi pemakainya.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Anthony Reid, mengunyah tembakau kemudian menjadi praktik umum dengan mengunyah sirih. Meskipun tafsir sejarah dominan tentang pengenalan tembakau katakanlah baru berlangsung pada awal abad ke-17, namun demikian entitas tembakau ternyata justru membawa fenomena perubahan mendalam pada struktur sosial, budaya, politik, ekonomi dan simbolik di Nusantara. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain ditambahkan pada tradisi mengonsumsi sirih, tembakau juga dikonsumsi sendiri secara terpisah, baik itu dengan cara dikunyah atau dirokok. Kebiasaan baru ini melahirkan istilah baru dalam kosa-kata bahasa Jawa \u201cnyusur\u201d<\/em> atau \u201csusur\u201d<\/em>. Tembakau khusus untuk makan sirih ini dikenal dengan nama \u201ctembakau sugi\u201d<\/em>. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> pada perkembangannya tidak memiliki perbedaan semantik alias artinya setali tiga uang.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun literatur mencatat kebiasaan menambahkan tembakau seperti tafsiran Anthony Reid baru dimulai sejak paruh kedua abad ke-18, tapi nampaknya kebiasaan mengonsumsi tembakau, bahkan dengan cara baru yaitu \u201cdirokok\u201d, sesungguhnya justru sudah berlangsung lebih lama. Menurut De Candolle masuknya tembakau tahun 1600, di masa penjajahan bangsa Portugis di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Tafsiran sejarah De Cadolle dan Thomas Stamford Raffles itu ternyata sinkron dengan keterangan yang tertulis dalam teks sejarah Jawa, \u201cBabad ing Sangkala\u201d<\/em>. Diceritakan tentang kebiasaan \u201cmerokok\u201d yang bertepatan waktunya dengan meninggalnya Panembahan Senapati, dengan diberi candra sengkala \u201cGni Mati Tumibeng Siti\u201d<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau 1601 \u2013 1602 Masehi. Gambaran ini semakin dipertegas dengan catatatan sejarawan Belanda, Dr. H. de Haen. Menurutnya pada tahun  1622 \u2013 1623 seorang utusan VOC pernah berkunjung ke Mataram dan mencatat kebiasaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram yaitu Sultan Agung, yang rupa-rupanya adalah perokok kelas atas.
<\/p>\n\n\n\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Akan tetapi dalam catatan Batutah itu belum muncul penambahan pemakaian kapur, yang dalam masyarakat Jawa disebut \u201cnjet\u201d<\/em>. Bukti literal terkait pemakaian kapur ini baru muncul tahun 1416, berasal dari laporan Haji Ma Huan, muslim Tionghoa yang pernah jadi sekretaris dan juru bahasa Laksamana Cheng-Ho. Menurut dugaan Amen Budiman dan Onghokham, pada saat Ma Huan singgah di ibukota Majapahit, gambir dan tembakau belum digunakan bersama-sama dalam tradisi mengonsumsi sirih.
<\/p>\n\n\n\n

Belakangan nampak terjadi perkembangan dalam budaya ini. Tradisi makan sirih tidak berhenti pada pencampuran daun sirih dan buah pinang belaka. Bahan utamanya bertambah dan semakin kompleks, yaitu terdiri buah pinang, gambir (getah pohon gambir), sirih dan kapur. Tanpa terkecuali cengkeh juga bisa ditambahkan, tergantung selera atau lebih tepatnya berkorelasi dengan status sosial seseorang. Semua bahan itu ditanam dan dipanen secara terpisah, dan umum digunakan dalam berbagai ritual maupun praktik keseharian masyarakat Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Tradisi sirih awalnya lekat digunakan masyarakat sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik. Dalam masyarakat Dayak, misalnya, daun sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah diyakini orang Dayak sangat mujarab menyembuhkan berbagai macam penyakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Mengonsumsi sirih juga merupakan kegiatan sehari-hari yang bermakna profan. Bagi masyarakat Jawa, interaksi sosial di antara mereka akan lebih dipermudah melalui kegiatan menyirih bersama-sama atau dengan menyajikan sirih. Sajian sirih juga jadi medium pemecah kebekuan, atau sebagai pembuka percakapan. Selain itu, nyirih<\/em> atau nginang<\/em> itu sendiri dimaksudkan memberi efek menenangkan diri dan memberi suasana rileks bagi pemakainya.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Anthony Reid, mengunyah tembakau kemudian menjadi praktik umum dengan mengunyah sirih. Meskipun tafsir sejarah dominan tentang pengenalan tembakau katakanlah baru berlangsung pada awal abad ke-17, namun demikian entitas tembakau ternyata justru membawa fenomena perubahan mendalam pada struktur sosial, budaya, politik, ekonomi dan simbolik di Nusantara. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain ditambahkan pada tradisi mengonsumsi sirih, tembakau juga dikonsumsi sendiri secara terpisah, baik itu dengan cara dikunyah atau dirokok. Kebiasaan baru ini melahirkan istilah baru dalam kosa-kata bahasa Jawa \u201cnyusur\u201d<\/em> atau \u201csusur\u201d<\/em>. Tembakau khusus untuk makan sirih ini dikenal dengan nama \u201ctembakau sugi\u201d<\/em>. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> pada perkembangannya tidak memiliki perbedaan semantik alias artinya setali tiga uang.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun literatur mencatat kebiasaan menambahkan tembakau seperti tafsiran Anthony Reid baru dimulai sejak paruh kedua abad ke-18, tapi nampaknya kebiasaan mengonsumsi tembakau, bahkan dengan cara baru yaitu \u201cdirokok\u201d, sesungguhnya justru sudah berlangsung lebih lama. Menurut De Candolle masuknya tembakau tahun 1600, di masa penjajahan bangsa Portugis di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Tafsiran sejarah De Cadolle dan Thomas Stamford Raffles itu ternyata sinkron dengan keterangan yang tertulis dalam teks sejarah Jawa, \u201cBabad ing Sangkala\u201d<\/em>. Diceritakan tentang kebiasaan \u201cmerokok\u201d yang bertepatan waktunya dengan meninggalnya Panembahan Senapati, dengan diberi candra sengkala \u201cGni Mati Tumibeng Siti\u201d<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau 1601 \u2013 1602 Masehi. Gambaran ini semakin dipertegas dengan catatatan sejarawan Belanda, Dr. H. de Haen. Menurutnya pada tahun  1622 \u2013 1623 seorang utusan VOC pernah berkunjung ke Mataram dan mencatat kebiasaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram yaitu Sultan Agung, yang rupa-rupanya adalah perokok kelas atas.
<\/p>\n\n\n\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada dugaan waktu itu pemakaian sirih bersama-sama buah pinang belum dikenal. Lebih jauh, menurut bukti literatur yang lebih pasti terkait daun sirih yang dikonsumsi bersama-sama buah pinang baru muncul dalam catatan perjalanan Ibnu Batutah pada 1346 \u2013 1347. Batuta cukup beruntung menyaksikan pernikahan putra raja Samudra Pasai, di mana daun sirih dan buah pinang menjadi bagian penting dari seremoni perkawinan itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi dalam catatan Batutah itu belum muncul penambahan pemakaian kapur, yang dalam masyarakat Jawa disebut \u201cnjet\u201d<\/em>. Bukti literal terkait pemakaian kapur ini baru muncul tahun 1416, berasal dari laporan Haji Ma Huan, muslim Tionghoa yang pernah jadi sekretaris dan juru bahasa Laksamana Cheng-Ho. Menurut dugaan Amen Budiman dan Onghokham, pada saat Ma Huan singgah di ibukota Majapahit, gambir dan tembakau belum digunakan bersama-sama dalam tradisi mengonsumsi sirih.
<\/p>\n\n\n\n

Belakangan nampak terjadi perkembangan dalam budaya ini. Tradisi makan sirih tidak berhenti pada pencampuran daun sirih dan buah pinang belaka. Bahan utamanya bertambah dan semakin kompleks, yaitu terdiri buah pinang, gambir (getah pohon gambir), sirih dan kapur. Tanpa terkecuali cengkeh juga bisa ditambahkan, tergantung selera atau lebih tepatnya berkorelasi dengan status sosial seseorang. Semua bahan itu ditanam dan dipanen secara terpisah, dan umum digunakan dalam berbagai ritual maupun praktik keseharian masyarakat Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Tradisi sirih awalnya lekat digunakan masyarakat sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik. Dalam masyarakat Dayak, misalnya, daun sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah diyakini orang Dayak sangat mujarab menyembuhkan berbagai macam penyakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Mengonsumsi sirih juga merupakan kegiatan sehari-hari yang bermakna profan. Bagi masyarakat Jawa, interaksi sosial di antara mereka akan lebih dipermudah melalui kegiatan menyirih bersama-sama atau dengan menyajikan sirih. Sajian sirih juga jadi medium pemecah kebekuan, atau sebagai pembuka percakapan. Selain itu, nyirih<\/em> atau nginang<\/em> itu sendiri dimaksudkan memberi efek menenangkan diri dan memberi suasana rileks bagi pemakainya.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Anthony Reid, mengunyah tembakau kemudian menjadi praktik umum dengan mengunyah sirih. Meskipun tafsir sejarah dominan tentang pengenalan tembakau katakanlah baru berlangsung pada awal abad ke-17, namun demikian entitas tembakau ternyata justru membawa fenomena perubahan mendalam pada struktur sosial, budaya, politik, ekonomi dan simbolik di Nusantara. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain ditambahkan pada tradisi mengonsumsi sirih, tembakau juga dikonsumsi sendiri secara terpisah, baik itu dengan cara dikunyah atau dirokok. Kebiasaan baru ini melahirkan istilah baru dalam kosa-kata bahasa Jawa \u201cnyusur\u201d<\/em> atau \u201csusur\u201d<\/em>. Tembakau khusus untuk makan sirih ini dikenal dengan nama \u201ctembakau sugi\u201d<\/em>. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> pada perkembangannya tidak memiliki perbedaan semantik alias artinya setali tiga uang.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun literatur mencatat kebiasaan menambahkan tembakau seperti tafsiran Anthony Reid baru dimulai sejak paruh kedua abad ke-18, tapi nampaknya kebiasaan mengonsumsi tembakau, bahkan dengan cara baru yaitu \u201cdirokok\u201d, sesungguhnya justru sudah berlangsung lebih lama. Menurut De Candolle masuknya tembakau tahun 1600, di masa penjajahan bangsa Portugis di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Tafsiran sejarah De Cadolle dan Thomas Stamford Raffles itu ternyata sinkron dengan keterangan yang tertulis dalam teks sejarah Jawa, \u201cBabad ing Sangkala\u201d<\/em>. Diceritakan tentang kebiasaan \u201cmerokok\u201d yang bertepatan waktunya dengan meninggalnya Panembahan Senapati, dengan diberi candra sengkala \u201cGni Mati Tumibeng Siti\u201d<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau 1601 \u2013 1602 Masehi. Gambaran ini semakin dipertegas dengan catatatan sejarawan Belanda, Dr. H. de Haen. Menurutnya pada tahun  1622 \u2013 1623 seorang utusan VOC pernah berkunjung ke Mataram dan mencatat kebiasaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram yaitu Sultan Agung, yang rupa-rupanya adalah perokok kelas atas.
<\/p>\n\n\n\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sementara catatan tertua tentang tradisi sirih dikatakan berasal dari tahun 672. Adalah Shih I-tsing dalam catatannya yang berjudul \u201cA Record of the Buddhist religion as practiced in India and the Malay Archipelago\u201d<\/em>, menceritakan kebiasaan masyarakat Palembang menyajikan buah pinang dalam perjamuan pesta-pesta masyarakat setempat yang dinikmati setelah makan. I-tsing sama sekali tidak menyebutkan pemakain daun sirih. 
<\/p>\n\n\n\n

Ada dugaan waktu itu pemakaian sirih bersama-sama buah pinang belum dikenal. Lebih jauh, menurut bukti literatur yang lebih pasti terkait daun sirih yang dikonsumsi bersama-sama buah pinang baru muncul dalam catatan perjalanan Ibnu Batutah pada 1346 \u2013 1347. Batuta cukup beruntung menyaksikan pernikahan putra raja Samudra Pasai, di mana daun sirih dan buah pinang menjadi bagian penting dari seremoni perkawinan itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi dalam catatan Batutah itu belum muncul penambahan pemakaian kapur, yang dalam masyarakat Jawa disebut \u201cnjet\u201d<\/em>. Bukti literal terkait pemakaian kapur ini baru muncul tahun 1416, berasal dari laporan Haji Ma Huan, muslim Tionghoa yang pernah jadi sekretaris dan juru bahasa Laksamana Cheng-Ho. Menurut dugaan Amen Budiman dan Onghokham, pada saat Ma Huan singgah di ibukota Majapahit, gambir dan tembakau belum digunakan bersama-sama dalam tradisi mengonsumsi sirih.
<\/p>\n\n\n\n

Belakangan nampak terjadi perkembangan dalam budaya ini. Tradisi makan sirih tidak berhenti pada pencampuran daun sirih dan buah pinang belaka. Bahan utamanya bertambah dan semakin kompleks, yaitu terdiri buah pinang, gambir (getah pohon gambir), sirih dan kapur. Tanpa terkecuali cengkeh juga bisa ditambahkan, tergantung selera atau lebih tepatnya berkorelasi dengan status sosial seseorang. Semua bahan itu ditanam dan dipanen secara terpisah, dan umum digunakan dalam berbagai ritual maupun praktik keseharian masyarakat Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Tradisi sirih awalnya lekat digunakan masyarakat sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik. Dalam masyarakat Dayak, misalnya, daun sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah diyakini orang Dayak sangat mujarab menyembuhkan berbagai macam penyakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Mengonsumsi sirih juga merupakan kegiatan sehari-hari yang bermakna profan. Bagi masyarakat Jawa, interaksi sosial di antara mereka akan lebih dipermudah melalui kegiatan menyirih bersama-sama atau dengan menyajikan sirih. Sajian sirih juga jadi medium pemecah kebekuan, atau sebagai pembuka percakapan. Selain itu, nyirih<\/em> atau nginang<\/em> itu sendiri dimaksudkan memberi efek menenangkan diri dan memberi suasana rileks bagi pemakainya.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Anthony Reid, mengunyah tembakau kemudian menjadi praktik umum dengan mengunyah sirih. Meskipun tafsir sejarah dominan tentang pengenalan tembakau katakanlah baru berlangsung pada awal abad ke-17, namun demikian entitas tembakau ternyata justru membawa fenomena perubahan mendalam pada struktur sosial, budaya, politik, ekonomi dan simbolik di Nusantara. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain ditambahkan pada tradisi mengonsumsi sirih, tembakau juga dikonsumsi sendiri secara terpisah, baik itu dengan cara dikunyah atau dirokok. Kebiasaan baru ini melahirkan istilah baru dalam kosa-kata bahasa Jawa \u201cnyusur\u201d<\/em> atau \u201csusur\u201d<\/em>. Tembakau khusus untuk makan sirih ini dikenal dengan nama \u201ctembakau sugi\u201d<\/em>. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> pada perkembangannya tidak memiliki perbedaan semantik alias artinya setali tiga uang.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun literatur mencatat kebiasaan menambahkan tembakau seperti tafsiran Anthony Reid baru dimulai sejak paruh kedua abad ke-18, tapi nampaknya kebiasaan mengonsumsi tembakau, bahkan dengan cara baru yaitu \u201cdirokok\u201d, sesungguhnya justru sudah berlangsung lebih lama. Menurut De Candolle masuknya tembakau tahun 1600, di masa penjajahan bangsa Portugis di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Tafsiran sejarah De Cadolle dan Thomas Stamford Raffles itu ternyata sinkron dengan keterangan yang tertulis dalam teks sejarah Jawa, \u201cBabad ing Sangkala\u201d<\/em>. Diceritakan tentang kebiasaan \u201cmerokok\u201d yang bertepatan waktunya dengan meninggalnya Panembahan Senapati, dengan diberi candra sengkala \u201cGni Mati Tumibeng Siti\u201d<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau 1601 \u2013 1602 Masehi. Gambaran ini semakin dipertegas dengan catatatan sejarawan Belanda, Dr. H. de Haen. Menurutnya pada tahun  1622 \u2013 1623 seorang utusan VOC pernah berkunjung ke Mataram dan mencatat kebiasaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram yaitu Sultan Agung, yang rupa-rupanya adalah perokok kelas atas.
<\/p>\n\n\n\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seandainya kita menyimak folklor atau tradisi lisan yang dipercaya masyarakat Temanggung secara turun-temurun, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata \u2018mbako\u2019<\/em> atau \u2018bako\u2019<\/em> dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan saat beliau mengobati orang sakit lumpuh, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara catatan tertua tentang tradisi sirih dikatakan berasal dari tahun 672. Adalah Shih I-tsing dalam catatannya yang berjudul \u201cA Record of the Buddhist religion as practiced in India and the Malay Archipelago\u201d<\/em>, menceritakan kebiasaan masyarakat Palembang menyajikan buah pinang dalam perjamuan pesta-pesta masyarakat setempat yang dinikmati setelah makan. I-tsing sama sekali tidak menyebutkan pemakain daun sirih. 
<\/p>\n\n\n\n

Ada dugaan waktu itu pemakaian sirih bersama-sama buah pinang belum dikenal. Lebih jauh, menurut bukti literatur yang lebih pasti terkait daun sirih yang dikonsumsi bersama-sama buah pinang baru muncul dalam catatan perjalanan Ibnu Batutah pada 1346 \u2013 1347. Batuta cukup beruntung menyaksikan pernikahan putra raja Samudra Pasai, di mana daun sirih dan buah pinang menjadi bagian penting dari seremoni perkawinan itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi dalam catatan Batutah itu belum muncul penambahan pemakaian kapur, yang dalam masyarakat Jawa disebut \u201cnjet\u201d<\/em>. Bukti literal terkait pemakaian kapur ini baru muncul tahun 1416, berasal dari laporan Haji Ma Huan, muslim Tionghoa yang pernah jadi sekretaris dan juru bahasa Laksamana Cheng-Ho. Menurut dugaan Amen Budiman dan Onghokham, pada saat Ma Huan singgah di ibukota Majapahit, gambir dan tembakau belum digunakan bersama-sama dalam tradisi mengonsumsi sirih.
<\/p>\n\n\n\n

Belakangan nampak terjadi perkembangan dalam budaya ini. Tradisi makan sirih tidak berhenti pada pencampuran daun sirih dan buah pinang belaka. Bahan utamanya bertambah dan semakin kompleks, yaitu terdiri buah pinang, gambir (getah pohon gambir), sirih dan kapur. Tanpa terkecuali cengkeh juga bisa ditambahkan, tergantung selera atau lebih tepatnya berkorelasi dengan status sosial seseorang. Semua bahan itu ditanam dan dipanen secara terpisah, dan umum digunakan dalam berbagai ritual maupun praktik keseharian masyarakat Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Tradisi sirih awalnya lekat digunakan masyarakat sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik. Dalam masyarakat Dayak, misalnya, daun sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah diyakini orang Dayak sangat mujarab menyembuhkan berbagai macam penyakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Mengonsumsi sirih juga merupakan kegiatan sehari-hari yang bermakna profan. Bagi masyarakat Jawa, interaksi sosial di antara mereka akan lebih dipermudah melalui kegiatan menyirih bersama-sama atau dengan menyajikan sirih. Sajian sirih juga jadi medium pemecah kebekuan, atau sebagai pembuka percakapan. Selain itu, nyirih<\/em> atau nginang<\/em> itu sendiri dimaksudkan memberi efek menenangkan diri dan memberi suasana rileks bagi pemakainya.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Anthony Reid, mengunyah tembakau kemudian menjadi praktik umum dengan mengunyah sirih. Meskipun tafsir sejarah dominan tentang pengenalan tembakau katakanlah baru berlangsung pada awal abad ke-17, namun demikian entitas tembakau ternyata justru membawa fenomena perubahan mendalam pada struktur sosial, budaya, politik, ekonomi dan simbolik di Nusantara. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain ditambahkan pada tradisi mengonsumsi sirih, tembakau juga dikonsumsi sendiri secara terpisah, baik itu dengan cara dikunyah atau dirokok. Kebiasaan baru ini melahirkan istilah baru dalam kosa-kata bahasa Jawa \u201cnyusur\u201d<\/em> atau \u201csusur\u201d<\/em>. Tembakau khusus untuk makan sirih ini dikenal dengan nama \u201ctembakau sugi\u201d<\/em>. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> pada perkembangannya tidak memiliki perbedaan semantik alias artinya setali tiga uang.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun literatur mencatat kebiasaan menambahkan tembakau seperti tafsiran Anthony Reid baru dimulai sejak paruh kedua abad ke-18, tapi nampaknya kebiasaan mengonsumsi tembakau, bahkan dengan cara baru yaitu \u201cdirokok\u201d, sesungguhnya justru sudah berlangsung lebih lama. Menurut De Candolle masuknya tembakau tahun 1600, di masa penjajahan bangsa Portugis di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Tafsiran sejarah De Cadolle dan Thomas Stamford Raffles itu ternyata sinkron dengan keterangan yang tertulis dalam teks sejarah Jawa, \u201cBabad ing Sangkala\u201d<\/em>. Diceritakan tentang kebiasaan \u201cmerokok\u201d yang bertepatan waktunya dengan meninggalnya Panembahan Senapati, dengan diberi candra sengkala \u201cGni Mati Tumibeng Siti\u201d<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau 1601 \u2013 1602 Masehi. Gambaran ini semakin dipertegas dengan catatatan sejarawan Belanda, Dr. H. de Haen. Menurutnya pada tahun  1622 \u2013 1623 seorang utusan VOC pernah berkunjung ke Mataram dan mencatat kebiasaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram yaitu Sultan Agung, yang rupa-rupanya adalah perokok kelas atas.
<\/p>\n\n\n\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada silang pendapat dan kontroversi di kalangan para sejarawan peradaban mengenai muasal budaya sirih, apakah asli budaya nusantara ataukah dibawa masuk dari luar. Melihat kondisi alam di Indonesia tentu sebenarnya bukanlah hal sulit untuk menyimpulkan bahwa budaya sirih tercipta di Indonesia; pasalnya buah pinang dan sirih setidaknya tak perlu diimpor, keduanya banyak dan mudah didapati di Pulau Jawa. Sementara pendapat lain mengatakan adalah para perantau Hindu dari India yang membawa budaya sirih masuk ke Indonesia. Namun para sejarawan kedua kubu tiba pada sebuah kesimpulan yang sama, bahwa budaya makan sirih merupakan salah satu aspek kebudayaan masyarakat Indonesia yang usianya tua. 
<\/p>\n\n\n\n

Seandainya kita menyimak folklor atau tradisi lisan yang dipercaya masyarakat Temanggung secara turun-temurun, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata \u2018mbako\u2019<\/em> atau \u2018bako\u2019<\/em> dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan saat beliau mengobati orang sakit lumpuh, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara catatan tertua tentang tradisi sirih dikatakan berasal dari tahun 672. Adalah Shih I-tsing dalam catatannya yang berjudul \u201cA Record of the Buddhist religion as practiced in India and the Malay Archipelago\u201d<\/em>, menceritakan kebiasaan masyarakat Palembang menyajikan buah pinang dalam perjamuan pesta-pesta masyarakat setempat yang dinikmati setelah makan. I-tsing sama sekali tidak menyebutkan pemakain daun sirih. 
<\/p>\n\n\n\n

Ada dugaan waktu itu pemakaian sirih bersama-sama buah pinang belum dikenal. Lebih jauh, menurut bukti literatur yang lebih pasti terkait daun sirih yang dikonsumsi bersama-sama buah pinang baru muncul dalam catatan perjalanan Ibnu Batutah pada 1346 \u2013 1347. Batuta cukup beruntung menyaksikan pernikahan putra raja Samudra Pasai, di mana daun sirih dan buah pinang menjadi bagian penting dari seremoni perkawinan itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi dalam catatan Batutah itu belum muncul penambahan pemakaian kapur, yang dalam masyarakat Jawa disebut \u201cnjet\u201d<\/em>. Bukti literal terkait pemakaian kapur ini baru muncul tahun 1416, berasal dari laporan Haji Ma Huan, muslim Tionghoa yang pernah jadi sekretaris dan juru bahasa Laksamana Cheng-Ho. Menurut dugaan Amen Budiman dan Onghokham, pada saat Ma Huan singgah di ibukota Majapahit, gambir dan tembakau belum digunakan bersama-sama dalam tradisi mengonsumsi sirih.
<\/p>\n\n\n\n

Belakangan nampak terjadi perkembangan dalam budaya ini. Tradisi makan sirih tidak berhenti pada pencampuran daun sirih dan buah pinang belaka. Bahan utamanya bertambah dan semakin kompleks, yaitu terdiri buah pinang, gambir (getah pohon gambir), sirih dan kapur. Tanpa terkecuali cengkeh juga bisa ditambahkan, tergantung selera atau lebih tepatnya berkorelasi dengan status sosial seseorang. Semua bahan itu ditanam dan dipanen secara terpisah, dan umum digunakan dalam berbagai ritual maupun praktik keseharian masyarakat Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Tradisi sirih awalnya lekat digunakan masyarakat sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik. Dalam masyarakat Dayak, misalnya, daun sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah diyakini orang Dayak sangat mujarab menyembuhkan berbagai macam penyakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Mengonsumsi sirih juga merupakan kegiatan sehari-hari yang bermakna profan. Bagi masyarakat Jawa, interaksi sosial di antara mereka akan lebih dipermudah melalui kegiatan menyirih bersama-sama atau dengan menyajikan sirih. Sajian sirih juga jadi medium pemecah kebekuan, atau sebagai pembuka percakapan. Selain itu, nyirih<\/em> atau nginang<\/em> itu sendiri dimaksudkan memberi efek menenangkan diri dan memberi suasana rileks bagi pemakainya.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Anthony Reid, mengunyah tembakau kemudian menjadi praktik umum dengan mengunyah sirih. Meskipun tafsir sejarah dominan tentang pengenalan tembakau katakanlah baru berlangsung pada awal abad ke-17, namun demikian entitas tembakau ternyata justru membawa fenomena perubahan mendalam pada struktur sosial, budaya, politik, ekonomi dan simbolik di Nusantara. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain ditambahkan pada tradisi mengonsumsi sirih, tembakau juga dikonsumsi sendiri secara terpisah, baik itu dengan cara dikunyah atau dirokok. Kebiasaan baru ini melahirkan istilah baru dalam kosa-kata bahasa Jawa \u201cnyusur\u201d<\/em> atau \u201csusur\u201d<\/em>. Tembakau khusus untuk makan sirih ini dikenal dengan nama \u201ctembakau sugi\u201d<\/em>. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> pada perkembangannya tidak memiliki perbedaan semantik alias artinya setali tiga uang.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun literatur mencatat kebiasaan menambahkan tembakau seperti tafsiran Anthony Reid baru dimulai sejak paruh kedua abad ke-18, tapi nampaknya kebiasaan mengonsumsi tembakau, bahkan dengan cara baru yaitu \u201cdirokok\u201d, sesungguhnya justru sudah berlangsung lebih lama. Menurut De Candolle masuknya tembakau tahun 1600, di masa penjajahan bangsa Portugis di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Tafsiran sejarah De Cadolle dan Thomas Stamford Raffles itu ternyata sinkron dengan keterangan yang tertulis dalam teks sejarah Jawa, \u201cBabad ing Sangkala\u201d<\/em>. Diceritakan tentang kebiasaan \u201cmerokok\u201d yang bertepatan waktunya dengan meninggalnya Panembahan Senapati, dengan diberi candra sengkala \u201cGni Mati Tumibeng Siti\u201d<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau 1601 \u2013 1602 Masehi. Gambaran ini semakin dipertegas dengan catatatan sejarawan Belanda, Dr. H. de Haen. Menurutnya pada tahun  1622 \u2013 1623 seorang utusan VOC pernah berkunjung ke Mataram dan mencatat kebiasaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram yaitu Sultan Agung, yang rupa-rupanya adalah perokok kelas atas.
<\/p>\n\n\n\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagaimana nanti akan kita paparkan, sirih, tembakau dan kretek memiliki \u201cbenang merah\u201d kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia, yang selain membentuk lanskap historis, lebih jauh juga memberi arti simbolis yang penting. Simbolis disini terkait dengan proses ekonomi dan politik yang telah mengubah wajah Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Ada silang pendapat dan kontroversi di kalangan para sejarawan peradaban mengenai muasal budaya sirih, apakah asli budaya nusantara ataukah dibawa masuk dari luar. Melihat kondisi alam di Indonesia tentu sebenarnya bukanlah hal sulit untuk menyimpulkan bahwa budaya sirih tercipta di Indonesia; pasalnya buah pinang dan sirih setidaknya tak perlu diimpor, keduanya banyak dan mudah didapati di Pulau Jawa. Sementara pendapat lain mengatakan adalah para perantau Hindu dari India yang membawa budaya sirih masuk ke Indonesia. Namun para sejarawan kedua kubu tiba pada sebuah kesimpulan yang sama, bahwa budaya makan sirih merupakan salah satu aspek kebudayaan masyarakat Indonesia yang usianya tua. 
<\/p>\n\n\n\n

Seandainya kita menyimak folklor atau tradisi lisan yang dipercaya masyarakat Temanggung secara turun-temurun, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata \u2018mbako\u2019<\/em> atau \u2018bako\u2019<\/em> dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan saat beliau mengobati orang sakit lumpuh, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara catatan tertua tentang tradisi sirih dikatakan berasal dari tahun 672. Adalah Shih I-tsing dalam catatannya yang berjudul \u201cA Record of the Buddhist religion as practiced in India and the Malay Archipelago\u201d<\/em>, menceritakan kebiasaan masyarakat Palembang menyajikan buah pinang dalam perjamuan pesta-pesta masyarakat setempat yang dinikmati setelah makan. I-tsing sama sekali tidak menyebutkan pemakain daun sirih. 
<\/p>\n\n\n\n

Ada dugaan waktu itu pemakaian sirih bersama-sama buah pinang belum dikenal. Lebih jauh, menurut bukti literatur yang lebih pasti terkait daun sirih yang dikonsumsi bersama-sama buah pinang baru muncul dalam catatan perjalanan Ibnu Batutah pada 1346 \u2013 1347. Batuta cukup beruntung menyaksikan pernikahan putra raja Samudra Pasai, di mana daun sirih dan buah pinang menjadi bagian penting dari seremoni perkawinan itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi dalam catatan Batutah itu belum muncul penambahan pemakaian kapur, yang dalam masyarakat Jawa disebut \u201cnjet\u201d<\/em>. Bukti literal terkait pemakaian kapur ini baru muncul tahun 1416, berasal dari laporan Haji Ma Huan, muslim Tionghoa yang pernah jadi sekretaris dan juru bahasa Laksamana Cheng-Ho. Menurut dugaan Amen Budiman dan Onghokham, pada saat Ma Huan singgah di ibukota Majapahit, gambir dan tembakau belum digunakan bersama-sama dalam tradisi mengonsumsi sirih.
<\/p>\n\n\n\n

Belakangan nampak terjadi perkembangan dalam budaya ini. Tradisi makan sirih tidak berhenti pada pencampuran daun sirih dan buah pinang belaka. Bahan utamanya bertambah dan semakin kompleks, yaitu terdiri buah pinang, gambir (getah pohon gambir), sirih dan kapur. Tanpa terkecuali cengkeh juga bisa ditambahkan, tergantung selera atau lebih tepatnya berkorelasi dengan status sosial seseorang. Semua bahan itu ditanam dan dipanen secara terpisah, dan umum digunakan dalam berbagai ritual maupun praktik keseharian masyarakat Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Tradisi sirih awalnya lekat digunakan masyarakat sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik. Dalam masyarakat Dayak, misalnya, daun sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah diyakini orang Dayak sangat mujarab menyembuhkan berbagai macam penyakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Mengonsumsi sirih juga merupakan kegiatan sehari-hari yang bermakna profan. Bagi masyarakat Jawa, interaksi sosial di antara mereka akan lebih dipermudah melalui kegiatan menyirih bersama-sama atau dengan menyajikan sirih. Sajian sirih juga jadi medium pemecah kebekuan, atau sebagai pembuka percakapan. Selain itu, nyirih<\/em> atau nginang<\/em> itu sendiri dimaksudkan memberi efek menenangkan diri dan memberi suasana rileks bagi pemakainya.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Anthony Reid, mengunyah tembakau kemudian menjadi praktik umum dengan mengunyah sirih. Meskipun tafsir sejarah dominan tentang pengenalan tembakau katakanlah baru berlangsung pada awal abad ke-17, namun demikian entitas tembakau ternyata justru membawa fenomena perubahan mendalam pada struktur sosial, budaya, politik, ekonomi dan simbolik di Nusantara. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain ditambahkan pada tradisi mengonsumsi sirih, tembakau juga dikonsumsi sendiri secara terpisah, baik itu dengan cara dikunyah atau dirokok. Kebiasaan baru ini melahirkan istilah baru dalam kosa-kata bahasa Jawa \u201cnyusur\u201d<\/em> atau \u201csusur\u201d<\/em>. Tembakau khusus untuk makan sirih ini dikenal dengan nama \u201ctembakau sugi\u201d<\/em>. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> pada perkembangannya tidak memiliki perbedaan semantik alias artinya setali tiga uang.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun literatur mencatat kebiasaan menambahkan tembakau seperti tafsiran Anthony Reid baru dimulai sejak paruh kedua abad ke-18, tapi nampaknya kebiasaan mengonsumsi tembakau, bahkan dengan cara baru yaitu \u201cdirokok\u201d, sesungguhnya justru sudah berlangsung lebih lama. Menurut De Candolle masuknya tembakau tahun 1600, di masa penjajahan bangsa Portugis di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Tafsiran sejarah De Cadolle dan Thomas Stamford Raffles itu ternyata sinkron dengan keterangan yang tertulis dalam teks sejarah Jawa, \u201cBabad ing Sangkala\u201d<\/em>. Diceritakan tentang kebiasaan \u201cmerokok\u201d yang bertepatan waktunya dengan meninggalnya Panembahan Senapati, dengan diberi candra sengkala \u201cGni Mati Tumibeng Siti\u201d<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau 1601 \u2013 1602 Masehi. Gambaran ini semakin dipertegas dengan catatatan sejarawan Belanda, Dr. H. de Haen. Menurutnya pada tahun  1622 \u2013 1623 seorang utusan VOC pernah berkunjung ke Mataram dan mencatat kebiasaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram yaitu Sultan Agung, yang rupa-rupanya adalah perokok kelas atas.
<\/p>\n\n\n\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Langsung atau tidak langsung, makna budaya kretek bagi masyarakat Indonesia sebenarnya jauh berakar dalam budaya sirih. Lahirnya kretek memiliki akar sejarah budayanya dalam budaya tembakau. Bermula dari konsumsi tembakau dengan cara dikunyah atau nyusur<\/em>, susur<\/em>, namun kemudian beralih dengan cara diisap. Sementara awal mula budaya tembakau tumbuh sekaligus berakar dalam perkembangan budaya sirih, nyirih<\/em> atau nginang<\/em>. 
<\/p>\n\n\n\n

Sebagaimana nanti akan kita paparkan, sirih, tembakau dan kretek memiliki \u201cbenang merah\u201d kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia, yang selain membentuk lanskap historis, lebih jauh juga memberi arti simbolis yang penting. Simbolis disini terkait dengan proses ekonomi dan politik yang telah mengubah wajah Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Ada silang pendapat dan kontroversi di kalangan para sejarawan peradaban mengenai muasal budaya sirih, apakah asli budaya nusantara ataukah dibawa masuk dari luar. Melihat kondisi alam di Indonesia tentu sebenarnya bukanlah hal sulit untuk menyimpulkan bahwa budaya sirih tercipta di Indonesia; pasalnya buah pinang dan sirih setidaknya tak perlu diimpor, keduanya banyak dan mudah didapati di Pulau Jawa. Sementara pendapat lain mengatakan adalah para perantau Hindu dari India yang membawa budaya sirih masuk ke Indonesia. Namun para sejarawan kedua kubu tiba pada sebuah kesimpulan yang sama, bahwa budaya makan sirih merupakan salah satu aspek kebudayaan masyarakat Indonesia yang usianya tua. 
<\/p>\n\n\n\n

Seandainya kita menyimak folklor atau tradisi lisan yang dipercaya masyarakat Temanggung secara turun-temurun, asal tembakau konon memang berasal dari Nusantara. Kata \u2018mbako\u2019<\/em> atau \u2018bako\u2019<\/em> dipercaya berasal ucapan Ki Ageng Makukuhan saat beliau mengobati orang sakit lumpuh, \u201cIki tambaku\u201d<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara catatan tertua tentang tradisi sirih dikatakan berasal dari tahun 672. Adalah Shih I-tsing dalam catatannya yang berjudul \u201cA Record of the Buddhist religion as practiced in India and the Malay Archipelago\u201d<\/em>, menceritakan kebiasaan masyarakat Palembang menyajikan buah pinang dalam perjamuan pesta-pesta masyarakat setempat yang dinikmati setelah makan. I-tsing sama sekali tidak menyebutkan pemakain daun sirih. 
<\/p>\n\n\n\n

Ada dugaan waktu itu pemakaian sirih bersama-sama buah pinang belum dikenal. Lebih jauh, menurut bukti literatur yang lebih pasti terkait daun sirih yang dikonsumsi bersama-sama buah pinang baru muncul dalam catatan perjalanan Ibnu Batutah pada 1346 \u2013 1347. Batuta cukup beruntung menyaksikan pernikahan putra raja Samudra Pasai, di mana daun sirih dan buah pinang menjadi bagian penting dari seremoni perkawinan itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Akan tetapi dalam catatan Batutah itu belum muncul penambahan pemakaian kapur, yang dalam masyarakat Jawa disebut \u201cnjet\u201d<\/em>. Bukti literal terkait pemakaian kapur ini baru muncul tahun 1416, berasal dari laporan Haji Ma Huan, muslim Tionghoa yang pernah jadi sekretaris dan juru bahasa Laksamana Cheng-Ho. Menurut dugaan Amen Budiman dan Onghokham, pada saat Ma Huan singgah di ibukota Majapahit, gambir dan tembakau belum digunakan bersama-sama dalam tradisi mengonsumsi sirih.
<\/p>\n\n\n\n

Belakangan nampak terjadi perkembangan dalam budaya ini. Tradisi makan sirih tidak berhenti pada pencampuran daun sirih dan buah pinang belaka. Bahan utamanya bertambah dan semakin kompleks, yaitu terdiri buah pinang, gambir (getah pohon gambir), sirih dan kapur. Tanpa terkecuali cengkeh juga bisa ditambahkan, tergantung selera atau lebih tepatnya berkorelasi dengan status sosial seseorang. Semua bahan itu ditanam dan dipanen secara terpisah, dan umum digunakan dalam berbagai ritual maupun praktik keseharian masyarakat Indonesia. 
<\/p>\n\n\n\n

Tradisi sirih awalnya lekat digunakan masyarakat sebagai ritual persembahan bagi pemujaan animistik. Dalam masyarakat Dayak, misalnya, daun sirih sering digunakan untuk mengusir roh penyebab kematian dan penyakit. Ludah sirih yang berwarna merah diyakini orang Dayak sangat mujarab menyembuhkan berbagai macam penyakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Mengonsumsi sirih juga merupakan kegiatan sehari-hari yang bermakna profan. Bagi masyarakat Jawa, interaksi sosial di antara mereka akan lebih dipermudah melalui kegiatan menyirih bersama-sama atau dengan menyajikan sirih. Sajian sirih juga jadi medium pemecah kebekuan, atau sebagai pembuka percakapan. Selain itu, nyirih<\/em> atau nginang<\/em> itu sendiri dimaksudkan memberi efek menenangkan diri dan memberi suasana rileks bagi pemakainya.
<\/p>\n\n\n\n

Menurut Anthony Reid, mengunyah tembakau kemudian menjadi praktik umum dengan mengunyah sirih. Meskipun tafsir sejarah dominan tentang pengenalan tembakau katakanlah baru berlangsung pada awal abad ke-17, namun demikian entitas tembakau ternyata justru membawa fenomena perubahan mendalam pada struktur sosial, budaya, politik, ekonomi dan simbolik di Nusantara. 
<\/p>\n\n\n\n

Selain ditambahkan pada tradisi mengonsumsi sirih, tembakau juga dikonsumsi sendiri secara terpisah, baik itu dengan cara dikunyah atau dirokok. Kebiasaan baru ini melahirkan istilah baru dalam kosa-kata bahasa Jawa \u201cnyusur\u201d<\/em> atau \u201csusur\u201d<\/em>. Tembakau khusus untuk makan sirih ini dikenal dengan nama \u201ctembakau sugi\u201d<\/em>. Nyirih<\/em>, nginang<\/em> dan nyusur<\/em> pada perkembangannya tidak memiliki perbedaan semantik alias artinya setali tiga uang.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun literatur mencatat kebiasaan menambahkan tembakau seperti tafsiran Anthony Reid baru dimulai sejak paruh kedua abad ke-18, tapi nampaknya kebiasaan mengonsumsi tembakau, bahkan dengan cara baru yaitu \u201cdirokok\u201d, sesungguhnya justru sudah berlangsung lebih lama. Menurut De Candolle masuknya tembakau tahun 1600, di masa penjajahan bangsa Portugis di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Tafsiran sejarah De Cadolle dan Thomas Stamford Raffles itu ternyata sinkron dengan keterangan yang tertulis dalam teks sejarah Jawa, \u201cBabad ing Sangkala\u201d<\/em>. Diceritakan tentang kebiasaan \u201cmerokok\u201d yang bertepatan waktunya dengan meninggalnya Panembahan Senapati, dengan diberi candra sengkala \u201cGni Mati Tumibeng Siti\u201d<\/em> yang berarti tahun 1523 Saka atau 1601 \u2013 1602 Masehi. Gambaran ini semakin dipertegas dengan catatatan sejarawan Belanda, Dr. H. de Haen. Menurutnya pada tahun  1622 \u2013 1623 seorang utusan VOC pernah berkunjung ke Mataram dan mencatat kebiasaan \u201cmerokok\u201d raja paling agung Mataram yaitu Sultan Agung, yang rupa-rupanya adalah perokok kelas atas.
<\/p>\n\n\n\n

Waktu itu merokok sudah bukan hanya kesenangan pribadi belaka, namun juga menjadi menu hidangan penting tak ubahnya buah pinang dan sirih yang disajikan kepada para tamu kerajaan. Tentang bagaimana buah pinang dan tembakau menjadi menu sajian utama bagi tamu raja Amangkurat I dicatat dalam kunjungan dua duta VOC pada 1645, yaitu Zebald Wonderer dan Jan Barents-zoon. Kebiasaan menyajikan rokok pada tamu-tamu kehormatan juga tercatat dalam ensiklopedia Jawa yaitu Centhini yang disusun pada tahun 1814 sebagai perintah raja yaitu Sunan Pakubuawana ke V.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cSira dhewe ngladenana nyai lan anakmu dhenok, ganten eses wedang dhaharane, mengko bagda ngisa wissa ngrakit dhahar kang prayogi, dhayohmu linuhung\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n

\u201cHai dinda, hendaknya engkau sendiri yang melayani bersama anakmu si upik, dengan sirih, rokok, minum dan makanan, usai isya nanti hendaknya engkau telah selesai menyiapkan makanan yang baik, oleh karena tamumu orang yang mulia.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Kebiasaan menyuguhkan sajian rokok beserta makanan dan minuman ini, nampaknya kini masih biasa kita temuai dalam budaya masyarakat petani di desa-desa. Umumnya rokok itu disajikan dengan cara diwadahi gelas. Ini lazim dilakukan dalam berbagai ritus budaya masyarakat Jawa seperti jagong bayen<\/em> atau kenduri<\/em>.
<\/p>\n\n\n\n

Sementara narasi tentang kebiasaan khalayak luas mengonsumsi tembakau dengan cara dihisap, setidaknya dapat disimpulkan dari folklore kisah cinta Rara Mendut yang mengambil konteks sejarah pada zaman kekuasaan Sultan Agung. Ini berarti juga pada kurun waktu itu rokok telah menjadi barang dagangan bagi masyarakat umum. 
<\/p>\n\n\n\n

Dalam teks \u201cPranacitra\u201d yang dialihbahasakan oleh Dr. C. C. Berg, yang konon merupakan teks yang ditulis antara tahun 1627 atau1847, sejarawan Amen Budiman dan Onghokham tiba pada kesimpulan, bahwa pada abad ke-17 rokok telah menjadi barang dagangan di kalangan masyarakat Jawa. Apa yang menarik dari teks Pranacitra ini ialah, bahwa rokok Rara Mendut ini menyebut pemakaian bumbu-bumbu dan \u201cwur\u201d<\/em> dalam proses pembuatannya. Kesimpulan ini dipertegas tulisan J. W. Winter yang berjudul \u201cBeknopte Beschrijving Van Het Hof Soerakarta\u201d<\/em>. Winter menyebutkan, bahwa pada akhir abad ke-18 merokok dan menyirih telah menjadi salah satu kebutuhan primer di kalangan masyarakat Jawa.
<\/p>\n\n\n\n

Perjalanan sirih, tembakau dan rokok yang sudah melintas abad dan terwariskan antar generasi sudah tentu membawa kedekatan tersendiri dan kekhususan hubungan bagi masyarakat Indonesia. Bagaimana gambaran hubungan yang sangat erat antara sirih, tembakau dan rokok bagi kehidupan masyarakat Jawa dicatat oleh Jhon Joseph Stockdale pada awal abad ke-19. 
<\/p>\n","post_title":"Budaya Merokok Masyarakat Indonesia dalam Tinjauan Sejarah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"budaya-merokok-masyarakat-indonesia-dalam-tinjauan-sejarah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-21 10:36:14","post_modified_gmt":"2020-09-21 03:36:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7098","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7090,"post_author":"933","post_date":"2020-09-18 13:30:35","post_date_gmt":"2020-09-18 06:30:35","post_content":"\n

Kebanyakan orang yang memiliki hobi mendaki gunung atau berpelesir ke tempat-tempat tinggi, lebih senang mengisap sigaret kretek tangan (SKT) daripada rokok-rokok berfilter. Alasannya, SKT awet untuk diisap dan dipercaya mampu menetralisir tubuh dari rasa dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi pun, ketimbang rokok berfilter, SKT lebih cocok untuk menemani melakukan aktivitas dengan kondisi dingin di atas rata-rata. Dari sekian banyak SKT yang pernah saya coba, Djarum 76 menjadi campuran tembakau dan cengkeng yang paling sempurna diisap di medan dingin. Berikut beberapa alasannya:
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 SKT memiliki isap yang tidak terlalu berat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Dibanding SKT lainnya, Djarum 76 memiliki komposisi lintingan yang tidak terlalu padat. Sehingga tidak perlu dipijat terlebih dahulu sebelum diisap. Isapan yang tidak membuat kopong mulut inilah, menjadi nilai lebih Djarum 76 yang memanjakan penikmatnya di medan-medan dingin.
<\/p>\n\n\n\n

Komposisi tembakau dan cengkeh yang pas<\/strong><\/h2>\n\n\n\n

Sejak dulu, Djarum memang terkenal meminimalisir penggunaan saus pada produk-produknya. Sehingga membantu rakyat Indonesia mengetahui seperti apa cita rasa sebenarnya kretek-kretek produksi Indonesia. Para pelintingnya memiliki standar dan racikan yang tepat dalam mengkombinasikan tembakau dan cengkeh menjadi sesuatu yang teramat nikmat.
<\/p>\n\n\n\n

Keunggulan ini memanjakan tenggorokan para pengisapnya. Dengan meminimalisir saus, artinya penikmat Djarum 76 tidak perlu khawatir tenggorokannya sakit. 
<\/p>\n\n\n\n

Harga Murah<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Di tengah kondisi pandemi dan kenaikan cukai yang sangat tinggi, kita harus pandai-pandai memilih merek rokok, yang tidak hanya murah tapi juga harus memiliki cita rasa yang cocok di tenggorokan. Sebungkus Djarum 76 hanya dibandrol 12.830 atau maksimal memiliki harga jual 14.000, dengan cita rasa yang tidak kalah dengan merek lainnya, menjadi pilihan yang tepat. 
<\/p>\n\n\n\n

Plesiran kemanapun tentu saja tidak membuat kantong Anda kering. 
<\/p>\n\n\n\n

Djarum 76 100% Dikerjakan Manusia<\/strong>
<\/h2>\n\n\n\n

Ini mungkin menjadi alasan yang amat idealis, bahwa Djarum 76 hingga saat ini masih dikerjakan oleh ribuan manusia. Dari melinting, membungkus, hingga mendistribusikan ke tangan-tangan Anda. Memang, kebanyakan SKT dikerjakan oleh manusia, tetapi melihat Djarum hingga kini selalu konsisten menyedekahkan keuntungannya untuk kemanusian dan lingkungan, semakin menambah keyakinan saya, bahwa dengan mengisap Djarum 76 tidak hanya mendapatkan kenikmatan dan membantu pemasukan negara, tetapi juga turut bersedekah untuk kemanusian dan lingkunan.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, jika sedang berada di tempat-tempat dingin, mengingat perjuangan para pelinting dalam meracik tembakau dan cengkeh sehingga memberi kenikmatan kepada kita, mampu menjadi bara yang menghangatkan tubuh kita.
<\/p>\n\n\n\n

Itulah beberapa alasan, kenapa Djarum 76 menjadi pilihan terbaik untuk menikmati panorama di tempat-tempat dingin. Kalau kamu bagaimana?
<\/p>\n","post_title":"Empat Alasan Kenapa Djarum 76 Paling Juara di Medan Dingin","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"empat-alasan-kenapa-djarum-76-paling-juara-di-medan-dingin","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2022-02-03 01:11:10","post_modified_gmt":"2022-02-02 18:11:10","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7090","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":7086,"post_author":"855","post_date":"2020-09-17 11:43:35","post_date_gmt":"2020-09-17 04:43:35","post_content":"\n

Hasil panen petani oleh industri pada musim ini baru berjalan sekitar 40% dari total hasil panen petani tembakau seluruh Indonesia. Namun, banyak sekali persoalan, utamanya soal harga beli, yang membikin gundah hati para petani tembakau. Di sinilah, jika pemerintah paham,  masih ada 60% hasil pertanian yang mesti dijaga dan sangat membutuhkan intervensi pemerintah pusat.
<\/p>\n\n\n\n

Entah pemerintah sadar atau tidak, terjun bebasnya harga jual hasil panen petani, diakibatkan oleh kebijakan kenaikan cukai 23% pada awal tahun 2020 sehingga harga jual eceran rokok melejit hingga 30%.
<\/p>\n\n\n\n

Kenaikan CHT serta HJE ini membuat pabrik rokok mengurangi serapan tembakaunya kepada petani, sehingga mau tidak mau harga pun turut serta terjun bebas.
<\/p>\n\n\n\n

Harga yang terjun bebas di tengah hasil panen yang sangat bagus, membuat tingkat stres petani meningkat. Pendapatan yang tidak bisa menutup ongkos produksi, apalagi menuai keuntungan, menelurkan ekspresi kemarahan para petani: ada yang mencabuti tanamannya hingga membakar tembakau yang siap dikirim ke pabrikan.
<\/p>\n\n\n\n

Di tengah kondisi yang serba susah ini, seharusnya pemerintah menyadari satu hal, bahwa segala kebijakan yang mereka keluarkan akan berdampak serius kepada masyarakat di pedesaan, khususnya dalam pertanian tembakau. Kita masih ingat betul, tahun 2019 Sri Mulyani mengumumkan kenaikan CHT dan HJE tepat sebelum masa panen raya digelar. Sehingga, harga jual petani pun turut terguncang. 
<\/p>\n\n\n\n

Jika memang kenaikan cukai rokok tidak bisa terelakkan, seharusnya Kemenkeu atau Sri Mulyani sebagai aktor yang bertanggung jawab, bisa memastikan kenaikan cukai tahun ini tidak bar-bar seperti sebelumnya. <\/p>\n\n\n\n

Seharusnya ia bijak, tidak menaikkan cukai saat Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden RI pada 2019. Kecuali Sri Mulyani berpikir, nasib petani tembakau tidak terlalu penting jika dibandingkan Jokowi mendapat simpatik dari petani tembakau di seantero Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Tapi, harapan itu sepertinya pupus. Beberapa kali media mengabarkan, Kemenkeu sedang mengambil ancang-ancang untuk menaikan kembali CHT tahun 2021. Tidak bisa diterima, jika alasan kenaikan cukai rokok itu untuk menolong keuangan negara yang sedang goncang akibat covid, sementara ada elemen masyarakat yang dibuat sakit akibat itu. 
<\/p>\n\n\n\n

Apakah Sri Mulyani menggunakan qaidah dalam fikih, \u201cApabila ada dua mafsadat bertentangan, maka yang harus ditinggalkan adalah mafsadat yang mudharatnya lebih besar, dengan melakukan mudharat yang lebih ringan.\u201d Konteks ini saja perlu diperjelas, mana madlarat yang besar dan yang ringan. Secara eksplisit memang, menyelamatkan negara lebih penting, tapi apakah benar menyelematkan negara? Atau hanya menyelamatkan mukanya di hadapan publik?
<\/p>\n\n\n\n

Sebagai seorang menteri yang tenar di dunia, seharusnya Sri Mulyani berlaku bijak dalam persoalan ini. Jangan sampai, kebijakan yang diberi tendensi menyelamatkan pendapatan bangsa, malam menjadi anak panah yang menghujam dada rakyatnya sendiri. Negara punya BUMN, seharusnya itulah yang dimaksimalkan, bukan mengeruk dan memukuli terus menerus tanaman yang menghidupi jutaan petani dan buruh pabrik. 
<\/p>\n\n\n\n

Pemerintah musti hadir dan membuka mata, jika petani tembakau kita sedang tidak baik-baik saja.
<\/p>\n","post_title":"Menanti Pemerintah Paham, Jika Petani Tembakau Sedang tidak Baik-Baik Saja","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menanti-pemerintah-paham-jika-petani-tembakau-sedang-tidak-baik-baik-saja","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-09-17 11:43:36","post_modified_gmt":"2020-09-17 04:43:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=7086","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":26},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};