\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

3. Jangan Kebanyakan Tidur
<\/h2>\n\n\n\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sehabis solat taraweh bolehlah kretekus dapat nongkrong sambil menikmati kretek sampai dengan jam 10 atau jam 11 malam. Selebihnya beristirahlah agar dapat sahur, sehingga waktu istirahat kalian dapat optimal.
<\/p>\n\n\n\n

3. Jangan Kebanyakan Tidur
<\/h2>\n\n\n\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal ini harus betul-betul diperhatikan, sebab istirahat yang cukup adalah kunci agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan cukup istirahat maka tubuh juga akan seimbang, tentunya kretekus juga akan fit dalam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
<\/p>\n\n\n\n

Sehabis solat taraweh bolehlah kretekus dapat nongkrong sambil menikmati kretek sampai dengan jam 10 atau jam 11 malam. Selebihnya beristirahlah agar dapat sahur, sehingga waktu istirahat kalian dapat optimal.
<\/p>\n\n\n\n

3. Jangan Kebanyakan Tidur
<\/h2>\n\n\n\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Malam hari menjadi waktu yang nikmat untuk menikmati kretek dan kopi, namun kadangkala justru waktu nikmat tersebut merampas jam istirahat kita. Alhasil waktu untuk tidur dan istirahat menjadi berkurang. Padahal keesokan harinya kita dituntut untuk tetap fit beraktifitas dan berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini harus betul-betul diperhatikan, sebab istirahat yang cukup adalah kunci agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan cukup istirahat maka tubuh juga akan seimbang, tentunya kretekus juga akan fit dalam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
<\/p>\n\n\n\n

Sehabis solat taraweh bolehlah kretekus dapat nongkrong sambil menikmati kretek sampai dengan jam 10 atau jam 11 malam. Selebihnya beristirahlah agar dapat sahur, sehingga waktu istirahat kalian dapat optimal.
<\/p>\n\n\n\n

3. Jangan Kebanyakan Tidur
<\/h2>\n\n\n\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

2. Istirahat Yang Cukup
<\/h2>\n\n\n\n

Malam hari menjadi waktu yang nikmat untuk menikmati kretek dan kopi, namun kadangkala justru waktu nikmat tersebut merampas jam istirahat kita. Alhasil waktu untuk tidur dan istirahat menjadi berkurang. Padahal keesokan harinya kita dituntut untuk tetap fit beraktifitas dan berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini harus betul-betul diperhatikan, sebab istirahat yang cukup adalah kunci agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan cukup istirahat maka tubuh juga akan seimbang, tentunya kretekus juga akan fit dalam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
<\/p>\n\n\n\n

Sehabis solat taraweh bolehlah kretekus dapat nongkrong sambil menikmati kretek sampai dengan jam 10 atau jam 11 malam. Selebihnya beristirahlah agar dapat sahur, sehingga waktu istirahat kalian dapat optimal.
<\/p>\n\n\n\n

3. Jangan Kebanyakan Tidur
<\/h2>\n\n\n\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Nah makanya nih buat kretekus sekalian, ketika mengonsumsi kretek sehabis berbuka puasa, jangan lupa juga mengonsumsi air putih yang cukup. Menikmati kretek sambil ngopi boleh, tapi air putihnya juga jangan lupa.
<\/p>\n\n\n\n

2. Istirahat Yang Cukup
<\/h2>\n\n\n\n

Malam hari menjadi waktu yang nikmat untuk menikmati kretek dan kopi, namun kadangkala justru waktu nikmat tersebut merampas jam istirahat kita. Alhasil waktu untuk tidur dan istirahat menjadi berkurang. Padahal keesokan harinya kita dituntut untuk tetap fit beraktifitas dan berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini harus betul-betul diperhatikan, sebab istirahat yang cukup adalah kunci agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan cukup istirahat maka tubuh juga akan seimbang, tentunya kretekus juga akan fit dalam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
<\/p>\n\n\n\n

Sehabis solat taraweh bolehlah kretekus dapat nongkrong sambil menikmati kretek sampai dengan jam 10 atau jam 11 malam. Selebihnya beristirahlah agar dapat sahur, sehingga waktu istirahat kalian dapat optimal.
<\/p>\n\n\n\n

3. Jangan Kebanyakan Tidur
<\/h2>\n\n\n\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jumlah konsumsi air putih di atas harus dilakukan sejak berbuka puasa hingga waktu sahur tiba. Sebab jika konsumsi air putihnya kurang, tentunya akan berakibat dehidrasi ketika berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Nah makanya nih buat kretekus sekalian, ketika mengonsumsi kretek sehabis berbuka puasa, jangan lupa juga mengonsumsi air putih yang cukup. Menikmati kretek sambil ngopi boleh, tapi air putihnya juga jangan lupa.
<\/p>\n\n\n\n

2. Istirahat Yang Cukup
<\/h2>\n\n\n\n

Malam hari menjadi waktu yang nikmat untuk menikmati kretek dan kopi, namun kadangkala justru waktu nikmat tersebut merampas jam istirahat kita. Alhasil waktu untuk tidur dan istirahat menjadi berkurang. Padahal keesokan harinya kita dituntut untuk tetap fit beraktifitas dan berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini harus betul-betul diperhatikan, sebab istirahat yang cukup adalah kunci agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan cukup istirahat maka tubuh juga akan seimbang, tentunya kretekus juga akan fit dalam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
<\/p>\n\n\n\n

Sehabis solat taraweh bolehlah kretekus dapat nongkrong sambil menikmati kretek sampai dengan jam 10 atau jam 11 malam. Selebihnya beristirahlah agar dapat sahur, sehingga waktu istirahat kalian dapat optimal.
<\/p>\n\n\n\n

3. Jangan Kebanyakan Tidur
<\/h2>\n\n\n\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maka dari itu kecukupan akan kebutuhan air di dalam tubuh kita tetap harus dijaga agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Menurut Institute of Madicine, mengonsumsi air putih yang baik setiap orang berbeda-beda per harinya. Namun secara umum, seseorang perlu setidaknya 13 gelas untuk laki-laki dan 9 gelas untuk perempuan.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah konsumsi air putih di atas harus dilakukan sejak berbuka puasa hingga waktu sahur tiba. Sebab jika konsumsi air putihnya kurang, tentunya akan berakibat dehidrasi ketika berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Nah makanya nih buat kretekus sekalian, ketika mengonsumsi kretek sehabis berbuka puasa, jangan lupa juga mengonsumsi air putih yang cukup. Menikmati kretek sambil ngopi boleh, tapi air putihnya juga jangan lupa.
<\/p>\n\n\n\n

2. Istirahat Yang Cukup
<\/h2>\n\n\n\n

Malam hari menjadi waktu yang nikmat untuk menikmati kretek dan kopi, namun kadangkala justru waktu nikmat tersebut merampas jam istirahat kita. Alhasil waktu untuk tidur dan istirahat menjadi berkurang. Padahal keesokan harinya kita dituntut untuk tetap fit beraktifitas dan berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini harus betul-betul diperhatikan, sebab istirahat yang cukup adalah kunci agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan cukup istirahat maka tubuh juga akan seimbang, tentunya kretekus juga akan fit dalam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
<\/p>\n\n\n\n

Sehabis solat taraweh bolehlah kretekus dapat nongkrong sambil menikmati kretek sampai dengan jam 10 atau jam 11 malam. Selebihnya beristirahlah agar dapat sahur, sehingga waktu istirahat kalian dapat optimal.
<\/p>\n\n\n\n

3. Jangan Kebanyakan Tidur
<\/h2>\n\n\n\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sepanjang 13 jam dalam satu hari penuh kretekus sekalian harus menahan lapar dan haus. Banyak orang bilang bahwa menahan haus lebih sulit ketimbang menahan lapar. Pernyataan tersebut ada benarnya, sebab sekitar 60 persen dari tubuh manusia adalah air.
<\/p>\n\n\n\n

Maka dari itu kecukupan akan kebutuhan air di dalam tubuh kita tetap harus dijaga agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Menurut Institute of Madicine, mengonsumsi air putih yang baik setiap orang berbeda-beda per harinya. Namun secara umum, seseorang perlu setidaknya 13 gelas untuk laki-laki dan 9 gelas untuk perempuan.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah konsumsi air putih di atas harus dilakukan sejak berbuka puasa hingga waktu sahur tiba. Sebab jika konsumsi air putihnya kurang, tentunya akan berakibat dehidrasi ketika berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Nah makanya nih buat kretekus sekalian, ketika mengonsumsi kretek sehabis berbuka puasa, jangan lupa juga mengonsumsi air putih yang cukup. Menikmati kretek sambil ngopi boleh, tapi air putihnya juga jangan lupa.
<\/p>\n\n\n\n

2. Istirahat Yang Cukup
<\/h2>\n\n\n\n

Malam hari menjadi waktu yang nikmat untuk menikmati kretek dan kopi, namun kadangkala justru waktu nikmat tersebut merampas jam istirahat kita. Alhasil waktu untuk tidur dan istirahat menjadi berkurang. Padahal keesokan harinya kita dituntut untuk tetap fit beraktifitas dan berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini harus betul-betul diperhatikan, sebab istirahat yang cukup adalah kunci agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan cukup istirahat maka tubuh juga akan seimbang, tentunya kretekus juga akan fit dalam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
<\/p>\n\n\n\n

Sehabis solat taraweh bolehlah kretekus dapat nongkrong sambil menikmati kretek sampai dengan jam 10 atau jam 11 malam. Selebihnya beristirahlah agar dapat sahur, sehingga waktu istirahat kalian dapat optimal.
<\/p>\n\n\n\n

3. Jangan Kebanyakan Tidur
<\/h2>\n\n\n\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

1. Memperbanyak Minum Air Putih
<\/h2>\n\n\n\n

Sepanjang 13 jam dalam satu hari penuh kretekus sekalian harus menahan lapar dan haus. Banyak orang bilang bahwa menahan haus lebih sulit ketimbang menahan lapar. Pernyataan tersebut ada benarnya, sebab sekitar 60 persen dari tubuh manusia adalah air.
<\/p>\n\n\n\n

Maka dari itu kecukupan akan kebutuhan air di dalam tubuh kita tetap harus dijaga agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Menurut Institute of Madicine, mengonsumsi air putih yang baik setiap orang berbeda-beda per harinya. Namun secara umum, seseorang perlu setidaknya 13 gelas untuk laki-laki dan 9 gelas untuk perempuan.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah konsumsi air putih di atas harus dilakukan sejak berbuka puasa hingga waktu sahur tiba. Sebab jika konsumsi air putihnya kurang, tentunya akan berakibat dehidrasi ketika berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Nah makanya nih buat kretekus sekalian, ketika mengonsumsi kretek sehabis berbuka puasa, jangan lupa juga mengonsumsi air putih yang cukup. Menikmati kretek sambil ngopi boleh, tapi air putihnya juga jangan lupa.
<\/p>\n\n\n\n

2. Istirahat Yang Cukup
<\/h2>\n\n\n\n

Malam hari menjadi waktu yang nikmat untuk menikmati kretek dan kopi, namun kadangkala justru waktu nikmat tersebut merampas jam istirahat kita. Alhasil waktu untuk tidur dan istirahat menjadi berkurang. Padahal keesokan harinya kita dituntut untuk tetap fit beraktifitas dan berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini harus betul-betul diperhatikan, sebab istirahat yang cukup adalah kunci agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan cukup istirahat maka tubuh juga akan seimbang, tentunya kretekus juga akan fit dalam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
<\/p>\n\n\n\n

Sehabis solat taraweh bolehlah kretekus dapat nongkrong sambil menikmati kretek sampai dengan jam 10 atau jam 11 malam. Selebihnya beristirahlah agar dapat sahur, sehingga waktu istirahat kalian dapat optimal.
<\/p>\n\n\n\n

3. Jangan Kebanyakan Tidur
<\/h2>\n\n\n\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Banyak juga diantara kita yang justru tidak menjaga keseimbangan di masa-masa bulan puasa. Akhirnya bukan sehat yang di dapat, malah justru mendatangkan penyakit baru. Untuk menjawab hal tersebut, maka kretekmin mengeluarkan tips bagi kretekus sekalian agar tetap sehat meski berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

1. Memperbanyak Minum Air Putih
<\/h2>\n\n\n\n

Sepanjang 13 jam dalam satu hari penuh kretekus sekalian harus menahan lapar dan haus. Banyak orang bilang bahwa menahan haus lebih sulit ketimbang menahan lapar. Pernyataan tersebut ada benarnya, sebab sekitar 60 persen dari tubuh manusia adalah air.
<\/p>\n\n\n\n

Maka dari itu kecukupan akan kebutuhan air di dalam tubuh kita tetap harus dijaga agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Menurut Institute of Madicine, mengonsumsi air putih yang baik setiap orang berbeda-beda per harinya. Namun secara umum, seseorang perlu setidaknya 13 gelas untuk laki-laki dan 9 gelas untuk perempuan.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah konsumsi air putih di atas harus dilakukan sejak berbuka puasa hingga waktu sahur tiba. Sebab jika konsumsi air putihnya kurang, tentunya akan berakibat dehidrasi ketika berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Nah makanya nih buat kretekus sekalian, ketika mengonsumsi kretek sehabis berbuka puasa, jangan lupa juga mengonsumsi air putih yang cukup. Menikmati kretek sambil ngopi boleh, tapi air putihnya juga jangan lupa.
<\/p>\n\n\n\n

2. Istirahat Yang Cukup
<\/h2>\n\n\n\n

Malam hari menjadi waktu yang nikmat untuk menikmati kretek dan kopi, namun kadangkala justru waktu nikmat tersebut merampas jam istirahat kita. Alhasil waktu untuk tidur dan istirahat menjadi berkurang. Padahal keesokan harinya kita dituntut untuk tetap fit beraktifitas dan berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini harus betul-betul diperhatikan, sebab istirahat yang cukup adalah kunci agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan cukup istirahat maka tubuh juga akan seimbang, tentunya kretekus juga akan fit dalam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
<\/p>\n\n\n\n

Sehabis solat taraweh bolehlah kretekus dapat nongkrong sambil menikmati kretek sampai dengan jam 10 atau jam 11 malam. Selebihnya beristirahlah agar dapat sahur, sehingga waktu istirahat kalian dapat optimal.
<\/p>\n\n\n\n

3. Jangan Kebanyakan Tidur
<\/h2>\n\n\n\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: MELAWAN LABEL ADIKTIF TERHADAP PEROKOK DENGAN BERPUASA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Banyak juga diantara kita yang justru tidak menjaga keseimbangan di masa-masa bulan puasa. Akhirnya bukan sehat yang di dapat, malah justru mendatangkan penyakit baru. Untuk menjawab hal tersebut, maka kretekmin mengeluarkan tips bagi kretekus sekalian agar tetap sehat meski berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

1. Memperbanyak Minum Air Putih
<\/h2>\n\n\n\n

Sepanjang 13 jam dalam satu hari penuh kretekus sekalian harus menahan lapar dan haus. Banyak orang bilang bahwa menahan haus lebih sulit ketimbang menahan lapar. Pernyataan tersebut ada benarnya, sebab sekitar 60 persen dari tubuh manusia adalah air.
<\/p>\n\n\n\n

Maka dari itu kecukupan akan kebutuhan air di dalam tubuh kita tetap harus dijaga agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Menurut Institute of Madicine, mengonsumsi air putih yang baik setiap orang berbeda-beda per harinya. Namun secara umum, seseorang perlu setidaknya 13 gelas untuk laki-laki dan 9 gelas untuk perempuan.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah konsumsi air putih di atas harus dilakukan sejak berbuka puasa hingga waktu sahur tiba. Sebab jika konsumsi air putihnya kurang, tentunya akan berakibat dehidrasi ketika berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Nah makanya nih buat kretekus sekalian, ketika mengonsumsi kretek sehabis berbuka puasa, jangan lupa juga mengonsumsi air putih yang cukup. Menikmati kretek sambil ngopi boleh, tapi air putihnya juga jangan lupa.
<\/p>\n\n\n\n

2. Istirahat Yang Cukup
<\/h2>\n\n\n\n

Malam hari menjadi waktu yang nikmat untuk menikmati kretek dan kopi, namun kadangkala justru waktu nikmat tersebut merampas jam istirahat kita. Alhasil waktu untuk tidur dan istirahat menjadi berkurang. Padahal keesokan harinya kita dituntut untuk tetap fit beraktifitas dan berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini harus betul-betul diperhatikan, sebab istirahat yang cukup adalah kunci agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan cukup istirahat maka tubuh juga akan seimbang, tentunya kretekus juga akan fit dalam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
<\/p>\n\n\n\n

Sehabis solat taraweh bolehlah kretekus dapat nongkrong sambil menikmati kretek sampai dengan jam 10 atau jam 11 malam. Selebihnya beristirahlah agar dapat sahur, sehingga waktu istirahat kalian dapat optimal.
<\/p>\n\n\n\n

3. Jangan Kebanyakan Tidur
<\/h2>\n\n\n\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ibadah puasa merupakan sebuah momentum untuk menjaga keseimbangan dalam pola konsumsi hidup kita. Selama sebelas bulan pola konsumsi kita yang hampir tidak ada batasnya harus diistirahatkan dengan cara berpuasa. Makan secukupnya, minum secukupnya, merokok secukupnya dan konsumsi lainnya secukupnya. Namun, tentunya dalam menjalankan ibadah puasa, kita juga harus memperhatikan keseimbangan lainnya dalam hidup kita.<\/p>\n\n\n\n

Baca: MELAWAN LABEL ADIKTIF TERHADAP PEROKOK DENGAN BERPUASA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Banyak juga diantara kita yang justru tidak menjaga keseimbangan di masa-masa bulan puasa. Akhirnya bukan sehat yang di dapat, malah justru mendatangkan penyakit baru. Untuk menjawab hal tersebut, maka kretekmin mengeluarkan tips bagi kretekus sekalian agar tetap sehat meski berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

1. Memperbanyak Minum Air Putih
<\/h2>\n\n\n\n

Sepanjang 13 jam dalam satu hari penuh kretekus sekalian harus menahan lapar dan haus. Banyak orang bilang bahwa menahan haus lebih sulit ketimbang menahan lapar. Pernyataan tersebut ada benarnya, sebab sekitar 60 persen dari tubuh manusia adalah air.
<\/p>\n\n\n\n

Maka dari itu kecukupan akan kebutuhan air di dalam tubuh kita tetap harus dijaga agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Menurut Institute of Madicine, mengonsumsi air putih yang baik setiap orang berbeda-beda per harinya. Namun secara umum, seseorang perlu setidaknya 13 gelas untuk laki-laki dan 9 gelas untuk perempuan.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah konsumsi air putih di atas harus dilakukan sejak berbuka puasa hingga waktu sahur tiba. Sebab jika konsumsi air putihnya kurang, tentunya akan berakibat dehidrasi ketika berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Nah makanya nih buat kretekus sekalian, ketika mengonsumsi kretek sehabis berbuka puasa, jangan lupa juga mengonsumsi air putih yang cukup. Menikmati kretek sambil ngopi boleh, tapi air putihnya juga jangan lupa.
<\/p>\n\n\n\n

2. Istirahat Yang Cukup
<\/h2>\n\n\n\n

Malam hari menjadi waktu yang nikmat untuk menikmati kretek dan kopi, namun kadangkala justru waktu nikmat tersebut merampas jam istirahat kita. Alhasil waktu untuk tidur dan istirahat menjadi berkurang. Padahal keesokan harinya kita dituntut untuk tetap fit beraktifitas dan berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini harus betul-betul diperhatikan, sebab istirahat yang cukup adalah kunci agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan cukup istirahat maka tubuh juga akan seimbang, tentunya kretekus juga akan fit dalam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
<\/p>\n\n\n\n

Sehabis solat taraweh bolehlah kretekus dapat nongkrong sambil menikmati kretek sampai dengan jam 10 atau jam 11 malam. Selebihnya beristirahlah agar dapat sahur, sehingga waktu istirahat kalian dapat optimal.
<\/p>\n\n\n\n

3. Jangan Kebanyakan Tidur
<\/h2>\n\n\n\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari banyaknya manfaat nikotin yang terkandung pada daun tembakau, menjadi pembenar temuan H. Djamhari saat membuat rokok untuk mengatasi sakit bengeknya, belum lagi diracik dengan cengkeh, dengan manfaat yang banyak pula. Sederhananya, ketika cengkeh sudah menjadi minyak, jika dioleskan saja kebadan, akan terasa hangat, dan sangat berkhasiat bagi tubuh manusia. Jadi, selam ini informasi negatif tentang rokok kretek terbantahkan dengan adanya manfaat di atas. Dan bahkan cenderung manfaat di atas, tidak pernah disentuh oleh anti rokok. Yang disuaraka sisi negatifnya, dan itu tidak benar adanya, bahkan cenderung manipulatif.
<\/p>\n","post_title":"Ternyata, Tubuh Manusia Membutuhkan Zat yang Terkandung dalam Sebatang Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ternyata-tubuh-manusia-membutuhkan-zat-yang-terkandung-dalam-sebatang-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-16 04:53:25","post_modified_gmt":"2019-05-15 21:53:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5736","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5716,"post_author":"883","post_date":"2019-05-14 04:08:05","post_date_gmt":"2019-05-13 21:08:05","post_content":"\n

Ibadah puasa merupakan sebuah momentum untuk menjaga keseimbangan dalam pola konsumsi hidup kita. Selama sebelas bulan pola konsumsi kita yang hampir tidak ada batasnya harus diistirahatkan dengan cara berpuasa. Makan secukupnya, minum secukupnya, merokok secukupnya dan konsumsi lainnya secukupnya. Namun, tentunya dalam menjalankan ibadah puasa, kita juga harus memperhatikan keseimbangan lainnya dalam hidup kita.<\/p>\n\n\n\n

Baca: MELAWAN LABEL ADIKTIF TERHADAP PEROKOK DENGAN BERPUASA<\/a><\/p>\n\n\n\n

Banyak juga diantara kita yang justru tidak menjaga keseimbangan di masa-masa bulan puasa. Akhirnya bukan sehat yang di dapat, malah justru mendatangkan penyakit baru. Untuk menjawab hal tersebut, maka kretekmin mengeluarkan tips bagi kretekus sekalian agar tetap sehat meski berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

1. Memperbanyak Minum Air Putih
<\/h2>\n\n\n\n

Sepanjang 13 jam dalam satu hari penuh kretekus sekalian harus menahan lapar dan haus. Banyak orang bilang bahwa menahan haus lebih sulit ketimbang menahan lapar. Pernyataan tersebut ada benarnya, sebab sekitar 60 persen dari tubuh manusia adalah air.
<\/p>\n\n\n\n

Maka dari itu kecukupan akan kebutuhan air di dalam tubuh kita tetap harus dijaga agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Menurut Institute of Madicine, mengonsumsi air putih yang baik setiap orang berbeda-beda per harinya. Namun secara umum, seseorang perlu setidaknya 13 gelas untuk laki-laki dan 9 gelas untuk perempuan.
<\/p>\n\n\n\n

Jumlah konsumsi air putih di atas harus dilakukan sejak berbuka puasa hingga waktu sahur tiba. Sebab jika konsumsi air putihnya kurang, tentunya akan berakibat dehidrasi ketika berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Nah makanya nih buat kretekus sekalian, ketika mengonsumsi kretek sehabis berbuka puasa, jangan lupa juga mengonsumsi air putih yang cukup. Menikmati kretek sambil ngopi boleh, tapi air putihnya juga jangan lupa.
<\/p>\n\n\n\n

2. Istirahat Yang Cukup
<\/h2>\n\n\n\n

Malam hari menjadi waktu yang nikmat untuk menikmati kretek dan kopi, namun kadangkala justru waktu nikmat tersebut merampas jam istirahat kita. Alhasil waktu untuk tidur dan istirahat menjadi berkurang. Padahal keesokan harinya kita dituntut untuk tetap fit beraktifitas dan berpuasa.
<\/p>\n\n\n\n

Hal ini harus betul-betul diperhatikan, sebab istirahat yang cukup adalah kunci agar tetap sehat dalam menjalankan ibadah puasa. Dengan cukup istirahat maka tubuh juga akan seimbang, tentunya kretekus juga akan fit dalam menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.
<\/p>\n\n\n\n

Sehabis solat taraweh bolehlah kretekus dapat nongkrong sambil menikmati kretek sampai dengan jam 10 atau jam 11 malam. Selebihnya beristirahlah agar dapat sahur, sehingga waktu istirahat kalian dapat optimal.
<\/p>\n\n\n\n

3. Jangan Kebanyakan Tidur
<\/h2>\n\n\n\n

Mentang-mentang tidur adalah bagian dari ibadah ketika berpuasa, lantas membuat kerjaan kretekus hanyalah tidur selama puasa. Produktivitas tetap harus dijaga. Lakukanlah aktifitas selayaknya hari-hari biasa.
<\/p>\n\n\n\n

Kebanyakan tidur sangat tidak baik untuk kesehatan. Para peneliti dari Western University\u2019s Brain and Mind Institut di Kanada menemukan, akibat dari kebanyakan tidur berdampak kepada sejumlah fungsi kognitif seperti menurunnya kemampuan berpikir, mengidentifikasi hal-hal kompleks dan menyelesaikan masalah.
<\/p>\n\n\n\n

Jagalah keseimbangan pola hidup kita ketika berpuasa dengan cara beraktifitas secara normal dan beristirahatlah yang cukup. Ini sama dengan halnya dengan menikmati kretek tapi tetap mengonsumsi makanan dan minuman yang bergizi dan olahraga teratur agar tetap seimbang.
<\/p>\n\n\n\n

Oke, kretekus sekalian, tiga hal tadi adalah tipas agar tetap sehat meski berpuasa. Tips-tips di atas adalah bagian dari menjaga keseimbangan pola hidup agar dapat memenuhi pola hidup sehat kalian di bulan puasa. Mari kita tunjukan bahwa kretekus bukanlah orang-orang yang penyakitan, tidak kuat berpuasa atau stigma-stigma buruk lainnya. Tunjukan bahwa kita adalah orang-orang yang sehat baik secara jasmani maupun rohani.<\/strong>
<\/p>\n","post_title":"Tips Bagi Kretekus Agar Tetap Sehat Meski Berpuasa","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tips-bagi-kretekus-agar-tetap-sehat-meski-berpuasa","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-14 04:08:08","post_modified_gmt":"2019-05-13 21:08:08","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5716","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5710,"post_author":"883","post_date":"2019-05-11 12:30:27","post_date_gmt":"2019-05-11 05:30:27","post_content":"\n

Tanggal 31 Mei biasa diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Gerakan ini dipelopori oleh Majelis Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization) sejak 1988. WHO  menyerukan kepada seluruh negara anggotanya untuk merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No Tobacco Day). Biasanya kelompok antirokok akan mengajak orang-orang untuk tidak merokok pada Hari Tanpa Tembakau Sedunia.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah 2 tahun belakangan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia jatuh pada bulan suci ramadhan. Dengan kondisi mayoritas perokok di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa, tentu gelaran Hari Tanpa Tembakau Sedunia jadi aneh rasanya jika dikampanyekan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Keberhasilan Gerakan Anti-Tembakau: Tak Ada Tembakau Saat Musim Hujan di Indonesia<\/a><\/p>\n\n\n\n

Toh tidak usah disuruh-suruh perokok untuk berhenti merokok selama sehari, karena memang perokok akan berhenti merokok selama seharian penuh sepanjang bulan suci ramadhan. Bahkan para perokok menahan hasrat mengonsumsi rokok sebulan lamanya dengan penuh kesadaran, tanpa harus diprovokasi sana-sini dengan kampanye berhenti merokok.
<\/p>\n\n\n\n

Provokasi berhenti merokok dengan segala macam kampanye buruk mengenai rokok di Hari Peringatan Tanpa Tembakau Sedunia adalah sebuah sesat pikir dari kelompok antirokok. Sebab, perokok sejatinya tahu dan punya kebebasan dalam memilih apa yang dikonsumsinya.
<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Justru para peneliti di British Medical Journal mengatakan, penggunaan kata adiktif kepada rokok dan ajakan berhenti merokok berulang-ulang tidaklah tepat. Sebab para peneliti tersebut mengemukakan perokok sangat mudah untuk berhenti dari aktivitas merokoknya. Justru kata adiktif itulah yang membuat perokok menjadi sulit untuk berhenti merokok.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Fenomena Hukum Rokok bagi Ulama\u2019 Kudus<\/a><\/p>\n\n\n\n

Lalu lihatlah ketika bulan ramadhan, apakah perokok harus diprovokasi dahulu agar bisa berpuasa? Lagi-lagi dengan penuh kesadaran para perokok dapat berhenti merokok selama 13 jam setiap hari tanpa paksaan, tanpa kampanye negatif dan ajakan-ajakan berhenti merokok lainnya yang sangat menyebalkan.
<\/p>\n\n\n\n

Sudah seharusnya peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak diselenggarakan, sebab dengan adanya bulan ramadhan, hal ini dapat menganulir peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dikarenakan hari peringatan tersebut sudah gaagal dan tidak memiliki substansi dalam penyelenggaraannya.
<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Gagal dalam artian goals atau tujuan yang dicapai dari peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak menuai hasil. Perokok tidak patuh dan acuh tak acuh terhadap hari peringatan tersebut, justru lebih memilih menjalankan puasa dengan khidmat. Prinsip yang dibangun oleh perokok adalah menikmati rokok ada waktunya, soal berhenti adalah soal pilihan.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu tidak memiliki substansi yang dimaksud adalah peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia tidak memiliki visi yang jelas dan landasan dasar yang kuat. Selama ini visi dan landasan dasar yang diserukan ketika peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia hanyalah memberikan stigma-stigma negatif dan membangun kebencian kepada rokok dan perokok. Bandingkan dengan puasa yang memiliki substansi kuat di dalamnya. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini<\/a><\/p>\n\n\n\n

Berpuasa bukan sekedar menahan haus dan lapar, tapi juga dapat meningkatkan kualitas rohani dan jasmani bagi orang-orang yang berpuasa. Ini sangat jelas. Sudah sangat banyak riset-riset ilmiah yang menunjukan bahwa puasa memiliki segudang manfaat bagi manusia. Atas dasar itulah para perokok patuh terhadap seruan menunaikan ibadah puasa. Menahan diri untuk tidak merokok semantara waktu selama hampir 13 jam lamanya.
<\/p>\n\n\n\n

Maka masihkah relevan peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia? Daripada memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia, lebih baik kita semua menunaikan ibadah puasa dengan khidmat yang jelas-jelas mendapatkan pahala berlipat ganda.
<\/p>\n","post_title":"Menolak Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia dengan Berpuasa di Bulan Ramadhan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"menolak-peringatan-hari-tanpa-tembakau-sedunia-dengan-berpuasa-di-bulan-ramadhan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-11 12:30:30","post_modified_gmt":"2019-05-11 05:30:30","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5710","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5707,"post_author":"878","post_date":"2019-05-10 05:41:01","post_date_gmt":"2019-05-09 22:41:01","post_content":"\n

Sudah lebih dua dekade, rokok dan para perokok diperlakukan laiknya sampah oleh mereka yang menamakan dirinya kaum anti-rokok. Produk rokok selalu disuarakan sebagai sumber dari banyak penyakit yang menyerang manusia. Sedang para perokok, diposisikan seakan sebagai masyarakat kelas rendah.<\/p>\n\n\n\n

Ini terjadi di banyak tempat di bumi ini. Hampir di seluruh dunia rokok dan para perokok didiskriminasi karena memang sudah lebih dua dekade kampanye global yang mendiskreditkan rokok dan para perokok berlangsung. Sebagian kecil saja yang masih cukup adil menyikapi rokok dan para penikmatnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Diskriminasi Terhadap Para Perokok di Jepang<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Dalih kesehatan hampir selalu menjadi ujung tombak yang digunakan untuk menyingkirkan tembakau dan produk turunannya dari bumi ini. Ia semakin diperkuat dengan kepentingan perusahaan-perusahaan farmasi dalam menjual beragam produk mereka. Mulai dari obat-obatan yang dianggap mampu membantu seseorang berhenti merokok, hingga produk alternatif pengganti rokok.<\/p>\n\n\n\n

Pada akhirnya, lambat laun diketahui bahwa sesungguhnya persaingan bisnis menjadi faktor utama yang menyebabkan nasib rokok dan para penikmatnya berada dalam posisi seperti sekarang ini di dunia. Isu kesehatan nyatanya sebagai alat bantu semata. Tak tanggung-tanggung, badan kesehatan dunia di bawah PBB sampai ikut turun tangan. Mereka bahkan menginisiasi FCTC yang beberapa poinnya secara langsung menembak produk rokok kretek. Murni persaingan bisnis semata.<\/p>\n\n\n\n

Dalam konteks dalam negeri, tak hanya lembaga kesehatan, LSM-LSM, dan pemerintah serta para perusahaan farmasi yang bermain dalam upaya menyingkirkan tembakau dan produk turunannya, lembaga-lembaga keagamaan bahkan diseret untuk ikut dalam isu ini. Mereka sampai memfatwa haram produk rokok.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Eko Susanto (@sigarwengi)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Di beberapa tempat di negeri ini, upaya-upaya untuk menempatkan para perokok sebagai masyarakat kelas bawah sudah banyak terjadi. Kawasan Tanpa Rokok (KTR), Kampung Bebas Rokok, dan masih banyak lainnya menjadi bukti nyata untuk itu.<\/p>\n\n\n\n

Terus menerus mencekoki isu-isu kesehatan, dengan beberapa di antaranya hasil riset kuno yang sudah terbantahkan, atau sekadar riset abal-abal saja, kemudian hingga menyeret lembaga keagamaan untuk ikut memfatwa haram, seakan mereka hendak bilang warga negeri ini bodoh karena mudah ditakut-takuti dengan semua itu. Seakan masyarakat Indonesia tidak bisa membikin keputusan sendiri sesuai penelaahannya terkait semua itu.<\/p>\n\n\n\n

Baca: 10 Manfaat Rokok bagi Kesehatan Anda <\/a><\/p>\n\n\n\n

Maka dalam kondisi yang ada seperti sekarang ini, apa yang dilakukan oleh menteri kesehatan negara Norwegia yang baru merupakan salah satu gebrakan untuk kembali menyadarkan nalar dan akal sehat. Bukan sekadar untuk warga Norwegia, namun juga untuk seluruh penduduk bumi.<\/p>\n\n\n\n

Tak lama usai terpilih menjadi menteri kesehatan Norwegia, Sylvi Listhaug mengeluarkan pernyataan yang dianggap mengundang kontroversi. Dia mengatakan hendak membiarkan orang-orang bebas makan, merokok, dan minum alkohol.<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n

Menurut Sylvi, sudah cukup lama perokok diposisikan sebagai masyarakat kelas bawah karena pilihan mereka untuk merokok. Ia hendak mengubah presepsi itu dengan cara tidak membikin aturan-aturan tertentu yang mengikat dan ada ancaman sanksi, sembari tetap memberikan beragam informasi berimbang agar warganya bisa menentukan pilihan mereka masing-masing tanpa perlu diancam dan ditakut-takuti.<\/p>\n\n\n\n

\"Saya tidak akan menjadi polisi moral dan memberitahu orang-orang harus hidup seperti apa, saya berniat membantu dengan menyediakan informasi yang bisa jadi landasan pengambilan keputusan.\" Ujar Sylvi seperti dikutip dari BBC, Rabu, 8 Mei 2019.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Perkembangan Program Beasiswa KNPK di Temanggung <\/p>\n\n\n\n

\"Saya pikir banyak perokok merasa seperti direndahkan. Mereka dibuat merasa harus sembunyi-sembunyi, dan saya pikir ini adalah sesuatu yang bodoh. Meski merokok tidak baik karena buruk untuk kesehatan, orang dewasa bisa membuat keputusannya sendiri.\" Lanjut Sylvi.<\/p>\n\n\n\n

Meskipun menuai banyak kritik, baik dari dalam negeri juga dari masyarakat dunia, apa yang hendak dilakukan Sylvi di Norwegia patut dijadikan contoh dan sejauh ini adalah solusi terbaik untuk mengatasi masalah di seputar rokok selama ini. Hentikan ancaman-ancaman, pembuatan peraturan yang diskriminatif, riset-riset abal-abal untuk menyerang rokok dan perokok. Hentikan semua itu. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Sudah saatnya melakukan apa yang hendak dilakukan pula oleh Sylvi di Norwegia, terus menerus memberikan informasi yang baik dan terpercaya perihal rokok, kemudian membebaskan orang-orang dewasa untuk memilih, merokok atau tidak merokok. Karena, bukankah seperti itu demokrasi yang kita semua impikan, bahkan juga oleh mereka para anti-rokok, demokrasi yang menjamin hak dan kebebasan seseorang dalam menentukan pilihannya sendiri secara sadar. Bukan dalam kondisi ditakut-takuti, juga dalam kondisi terancam oleh peraturan-peraturan yang tidak adil.<\/p>\n","post_title":"Sudah Semestinya Mencontoh Menteri Kesehatan Norwegia dalam Menyikapi Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"sudah-semestinya-mencontoh-menteri-kesehatan-norwegia-dalam-menyikapi-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-10 05:41:07","post_modified_gmt":"2019-05-09 22:41:07","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5707","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5704,"post_author":"919","post_date":"2019-05-09 15:05:58","post_date_gmt":"2019-05-09 08:05:58","post_content":"\n

Meski banyak yang bilang rokok memiliki nilai yang negative baik di dalam kandungannya maupun perilaku penikmatnya, toh nyatanya banyak hal-hal postif yang ada dibaliknya. Sebut saja lahirnya negeri ini juga hadir dari setiap hisapan rokok oleh para founding father kita, mereedanya suhu tensi politik yang juga diredamkan oleh aktifitas merokok bersama yang dilakukan oleh politisi, juga cairnya hubungan antara aparatur keamanan negara dengan sipil. Tidak percaya? Satu bukti dari Surabaya bisa menjadi acuannya.<\/p>\n\n\n\n

Boleh dikatakan Bonek (Bondo Nekat), pendukung klub legendaris di Indonesia asal Surabaya, Persebaya menjadi salah satu momok yang ditakuti beberapa waktu lalu. Tingkahnya yang kerap menimbulkan hal negative acapkali menimbulkan keresahan warga. Baik itu yang ada di Kota Surabaya maupun daerah yang dikunjungi Persebaya saat bermain tandang. Ragam pemberitaan banyak jadi catatan historis. Tak hanya meresahkan masyarakat, dengan modal nekad, Bonek juga bisa dikatakan menjadi kelompok suporter dengan korban jiwa terbanyak dalam catatan persepakbolaan tanah air.<\/p>\n\n\n\n

Berangkat dari kebiasaan buruk tersebut, lambat laun Bonek kian berubah. Mati surinya Persebaya karena tak diakui federasi beberapa tahun lalu nampaknya menjadi berkah tersendiri. Tidak bisa mendukung klub mereka berlaga, aktivitas Bonek tentu banyak berkutat pada aksi-aksi protes di jalanan menuntut kepada PSSI dan pemerintah untuk segera mengembalikan Persebaya yang asli. Pasalnya, saat itu terjadi kasus dualism di mana federasi hanya mengakui salah satu klub berjuluk Bajul Ijo itu yang palsu.<\/p>\n\n\n\n

Puasa berangkat ke stadion membuat Bonek perlahan-lahan berubah. Solidaritas pun kian kuat dan dibarengi dengan pemikiran untuk lebih maju setahap ketimbang periode buruk sebelumnya. Alhasil ketika Persebaya kembali diakui, hasilnya terlihat. Meski ada catatan di beberapa titik, kini Bonek menjadi kelompok yang lebih teroganisir secara rapih dan memberi impresi baik terhadap publik. Sejak Liga 2 pada 2017 lalu hingga Piala Presiden 2019 ini, sudah beberapa kali mereka membuat aksi yang positif. Mulai dari pembentukan Panti Asuhan Bonek, hingga sumbangan ribuan boneka untuk para penderita kanker.<\/p>\n\n\n\n

Perubahan Bonek memang dibantu dengan banyak faktor meski yang utama adalah niat dan usaha dari mereka sendiri. Persebaya yang kini dimiliki oleh Azrul Ananda, putra dari bekas Menteri BUMN Republik Indonesia, Dahlan Iskan juga menggelorakan semangat revolusi mental itu. Jika bicara sosok lain, tentu ada tokoh seperti Kapolrestabes Surabaya, Kombespol Rudi Setiawan. <\/p>\n\n\n\n

Terlalu panjang jika membicarakan profil beliau dan jejak rekamnya di dunia kepolisian. Namun satu yang pasti kehadirannya memberi arti penting bagi Bonek. Meski bersstatus sebagai orang nomor satu di kepolisian Surabaya, Rudi Setiawan tak menjaga jarak dengan Bonek. Satu hal yang jarang terlihat di dunia sepak bola Indonesia, apalagi langsung dengan Bonek yang dulu dianggap sebagai biang rusuh. <\/p>\n\n\n\n

Satu setengah tahun sudah Rudi Setiawan mengabdi di Kota Pahlawan. Meski tergolong singkat, kini ia sudah dijuluki sebagai Bapaknya Bonek, mungkin ia bisa disebut sebagai orang kedua yang mendapatkan julukan itu setelah almarhum H. Soenarto Soemoprawiro, Wali Kota Surabaya era 1994-2002. Pantas memang Rudi Setiawan diberi gelar itu, pasalnya ia kerap hadir ketika Persebaya bermain di kandang, menyanyi bersama Bonek. Jarang sekali ada tindakan represi berlebihan terhadap pengamanan, sekalipun ada konflik pecah antara aparat dan Bonek, kabarnya ia langsung meminta maaf kepada para pendukung setia Bajul Ijo itu.<\/p>\n\n\n\n

Keakraban antara Bonek dan Rudi Setiawan juga nampak pada Jumat Sore (3\/5\/2019). Usai ramah tamah di kantornya, dirinya bersama beberapa perwakilan Bonek duduk melingkar di lantai luar halaman kapolres. Tebak apa yang dilakukan? Sambil menikmati senja yang hangat di Surabaya, mereka menikmati kopi dan rokok serta duduk melingkar bersama tanpa batas tanpa sekat seolah kawan yang terikat sudah lama. Nampaknya, Rudi Setiawan menghadiahi satu kotak berisikan rokok-rokok kretek klasik yang kemudian dihisap bersama-sama disitu.<\/p>\n\n\n\n

Simbolik sekali memang, rokok mampu jadi alat pemersatu apalagi antara suporter sepak bola dan kepolisian yang memang kerap tak akur. Namun, hari itu mungkin jadi yang terakhir bagi Rudi Setiawan menjamu Bonek sebagai Kapolrestabes Surabaya. Pasalnya Sesuai surat telegram Kapolri nomor ST\/1202\/IV\/KEP\/2019 tanggal 26\/4\/2019, Rudi Setiawan dimutasi dengan mendapat promosi sebagai Wakapolda Lampung.<\/p>\n\n\n\n

Salut untuk Bonek, salut untuk Rudi Setiawan, rokok menyatukan kalian semua!<\/p>\n","post_title":"Saat Rokok Damaikan Suporter Sepak Bola dan Polisi","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"saat-rokok-damaikan-suporter-sepak-bola-dan-polisi","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-09 22:06:09","post_modified_gmt":"2019-05-09 15:06:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5704","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5700,"post_author":"877","post_date":"2019-05-08 11:27:00","post_date_gmt":"2019-05-08 04:27:00","post_content":"\n

Proses pembuatan kretek tangan membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Secara umum, ada dua orang yang berperan dalam proses pembuatan kretek tangan, yaitu yang disebut sebagai penggiling<\/em> dan pembatil<\/em>. Keduanya duduk berdampingan untuk saling bekerjasama sesuai dengan peran dan urutan kerja masing-masing. Biasanya penggiling di sebelah kanan dan pembatil di sebelah kiri.<\/p>\n\n\n\n

Penggiling duduk menghadap dua buah alat: Pertama yang disebut sebagai \u201calat gilingan\u201d dan kedua \u201ctong tembakau\u201d. Tong tembakau berisi tembakau yang kemudian dijatuhkan ke sebuah nampan di bawahnya. Pengisian tembakau ini dilakukan oleh pembatil. Setelah mengisi tong tembakau, pembatil juga menyediakan kertas pembungkus kretek (Papir) yang jumlahnya sekitar 100an lembar dan membubuhkannya di bagian sampingnya lem dengan tipis dan merata. Proses ini disebut ngiping<\/em>. Jika kertas pembungkus itu akan habis, ia segera ngiping lagi.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Industri Rokok Kretek Pasca Pemilihan Umum <\/a><\/p>\n\n\n\n

Penggiling kemudian njumput<\/em>, yakni mengambil tembakau dengan ujung jari-jari yang banyaknya seukuran sebatang kretek dari nampan. Ia kemudian meletakkan tembakau tersebut di bagian tatah (cangkeman<\/em>) dari alat gilingan dan me-wiwir-<\/em>nya secara merata dari ujung bakar ke ujung isap. Setelah itu ia akan men-jojoh<\/em>, atau menusuk-nusuk dengan ujung jari agar lebih masuk dan lebih padat. Jojoh dilakukan maksimal 3x.    <\/p>\n\n\n\n

Setelah itu, penggiling akan ngoyoh<\/em>, yakni menarik tuas giliran 2-3x, agar tembakau lebih klemis<\/em> dan rapi. Lalu disusul dengan tampanan<\/em>, meletakkan kertas pembungkus (tapir) di nampan, di garis yang telah ditentukan dengan tangan kiri. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tangan kanan nalip<\/em>, yakni menarik tuas di mana kain mori yang menjulur menggulung kertas tapir dan membungkus batangan kretek.      <\/p>\n\n\n\n

Tembakau telah terisi dan membentuk sebatang kretek. Penggiling kemudian mengambilnya dan ngesut<\/em>, meratakan tempelan lem dari atas ke bawah agar lebih kencang. Hasilnya diletakkan pada nampan khusus yang berada di depan pembatil. Proses pekerjaan selanjutnya akan dilakukan pembatil.<\/p>\n\n\n\n

Pembatil akan mengambil dua batang kretek yang telah jadi dan memotong bagian ujung-ujungnya berupa tembakau yang menyembul, baik di bagian ujung hisap maupun ujung bakar dengan gunting, agar rapi. Selanjutnya, ia ngeplongi<\/em>, yakni mengukur diameter kretek baik ujung isapnya yang lebih kecil maupun ujung bakarnya yang lebih besar (konos) dengan menggunakan \u2018alat plong rokok\u2019, yakni sebuah plat kecil dengan dua lobang yang menunjukkan ukuran diameter ujung isap dan diameter ujung bakar. Jika ada yang tak sesuai (ngeplong<\/em>) dengan ukuran lubang itu, berarti bentuknya meleset dan keliru. Kretek yang ukurannya keliru, misal kebesaran atau kekecilan, akan dikumpulkan tersendiri. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Kudus; Kota Santri dan Kota Kretek <\/a><\/p>\n\n\n\n

Kretek-kretek yang telah dipotong dan diukur persisinya kemudian dikumpulkan dalam jumlah 50. Komposisinya adalah 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 8 + 7. Komposisi ini disusun berdasarkan besarnya genggaman dua tangan dan dengan komposisi itu, pembatil tidak perlu lagi menghitung karena komposisi itu sudah akan menunjukkan jumlah 50 dan dibalut dengan selongsong kertas yang ikatannya cukup dengan ditekuk-tekuk. Proses ini disebut ngelongsongi<\/em>. Agar rata atas \u2013 bawah, pembatil akan netek<\/em>, meratakan dengan menggunakan papan geblekan.<\/p>\n\n\n\n

Alat utama dalam proses pembuatan kretek tangan adalah \u2018alat penggiling\u2019 yang dioperasikan dengan tangan. Alat penggiling ini terbuat dari bahan kayu jati yang berbentuk siku-siku menyerupai kursi lipat. Kaki yang bagian belakang untuk berdiri dan bagian depan berfungsi sebagai \u2018stang gilingan\u2019 dan \u2018as\u2019.  Bagian bawah untuk berdiri sekaligus tempat \u2018bunukan\u2019. Di tengah-tengah yang agak bolong ada cangkeman yang berfungsi untuk meletakkan tembakau, wedokan (yang menjepit kain mori), dan kain mori yang membentang panjang sebagai penggulung kretek. <\/p>\n\n\n\n

Tembakau diletakkan di atas kain mori yang dijepit cangkeman yang kemudian digulung ke dalam kertas pembungkus (tapir) setelah tuasnya ditarik. Cangkemannya dibentuk sedemikian rupa, agar kretek konus, yakni kecil di bagian ujung hispa dan besar di bagian ujung bakar. Singkatnya alat ini berfungsi menggiling atau menggulung tembakau ke dalam kertas tapir. <\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Peran Rokok Kretek Saat Masa Revolusi Fisik di Negeri Ini \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Alat penggiling sekarang dipakai adalah generasi ketujuh dalam sejarah pembuatan kretek tangan di Kota Kudus. Sebelumnya alat ini jauh lebih sederhana dan makin ke belakang, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, mengalami inovasi sehingga dalam bentuknya seperti sekarang.<\/p>\n\n\n\n

Bahan utama kretek tangan adalah tembakau yang dicampur dengan cengkeh dan berbagai perisa (terbuat dari rasa buah-buahan). Tembakau ini dipillih dan dipilah oleh para grader dan diolah sebagai bahan kretek. Proses pemlihan dan pemilahan ini dilakukan secara manual di mana kemampuan ini terbentuk dari bakat, pengetahuan, feeling, dan pengalaman yang panjang. Hal , dan Komposisi ini membuat kretek menjadi khas Indonesia dan tidak ditemukan di negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Kemudian yang kedua adalah kertas pembalut (papir) yang khas. Setidaknya empat hal harus dipertimbangkan dalam pemilihan kertas untuk kretek tangan ini yaitu:<\/p>\n\n\n\n

1. <\/strong>porosity<\/strong><\/em> atau pori-pori-nya yang berstruktur <\/strong>verge<\/strong><\/em> (cincin). Kertas ini dipilih karena sesuai dengan pilihan jenis tembakau agar mendapat <\/strong>burning rate<\/strong><\/em> yang tepat. Jadi antara kertas dan tembakau terbakar secara bersamaan dan seimbang. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

2. <\/strong>Opacity<\/strong><\/em> atau tingkat warna putih kertas, yang bertujuan semata-mata untuk tampilan. <\/strong><\/p>\n\n\n\n

Lem kertas yang digunakan adalah lem yang terbuat dari tepung tapioka atau tepung kanji terbuat dari sari ketela. Cara pembuatannya tepung tapioka digodok dan dicampur dengan air diaduk hingga rata.  <\/p>\n\n\n\n

Demikian proses pembuatan kretek tangan. Kesannya setiap bagian pekerjaan ini tampak mudah dan ringan. Kenyataannya, memerlukan pengetahuan, keterampilan, kecepatan dan konsentrasi. Pekerjaan ini membutuhkan scholling<\/em> yang cukup lama yang biasanya diberikan oleh perusahaan. Rata-rata dibutuhkan waktu belajar dan magang 3 bulan untuk menjadi seorang penggiling, sedangkan untuk seorang pembatil dibutuhkan waktu kurang lebih 1 \u00bd bulan. Peran seorang penggiling tidak bisa digantikan oleh pembatil, sebaliknya peran pembatil bisa dijalankan oleh penggiling. Ini karena biasanya seorang penggiling adalah bekas seorang pembatil sebelumnya.  <\/p>\n\n\n\n

Meski dalam gambaran di atas banyak sekali bagian pekerjaan yang harus dilakukan dan panjang prosesnya, pada dasarnya pekerjaan itu dilakukan dengan sangat cepat. Menurut catatan, dalam waktu satu jam, rata-rata pasangan penggiling dan pembatil ini menghasilkan sekitar 600 batang kretek.     <\/p>\n\n\n\n

Hal yang menarik, hampir seluruh pekerja penggiling dan pembatil ini adalah kaum perempuan. Salah satu alasannya adalah pekerjaan ini juga membutuhkan kerapian, kecekatan dan ketepatan yang secara stereotipe sering dianggap umumnya bisa dilakukan kalangan perempuan dengan lebih baik.
<\/p>\n","post_title":"Mengintip Sekilas Proses Pembuatan Kretek Tangan di Kota Kretek Kudus","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mengintip-sekilas-proses-pembuatan-kretek-tangan-di-kota-kretek-kudus","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-08 11:27:02","post_modified_gmt":"2019-05-08 04:27:02","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5700","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":40},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n