Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n
Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n
Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n
Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n
Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n
Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n
Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n
Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n
Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n
Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n
Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n
Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n
Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n
Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n
Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n
Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n
Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n
Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n
Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n
Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n
Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n
Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n
Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n
Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n
Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n
Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n
Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n
Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n
Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n
Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n
Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n
Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n
Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n
Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n
Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n
Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n
Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives.
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro!
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit.
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n
Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n
Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n
Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n
Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n
Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit. Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Mengapa bisa seperti itu? Mengapa kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti kehancuran akibat ulah BPPC bentukan Orde Baru pada periode 90an bisa terulang kembali? Karena memang ke arah sana tujuan dari dinaikkannya cukai rokok di negeri ini. Ada kekuatan global yang menghendaki itu semata-mata karena alasan persaingan bisnis yang menggiurkan. Bukan alasan kesehatan atau alasan lain-lain yang mereka bikin-bikin itu.<\/p>\n\n\n\n Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit. Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tak berbeda jauh dengan tembakau, sektor pertanian cengkeh yang juga menjadi sektor penting dalam industri rokok kretek nasional terkena imbas akibat pengumuman kenaikan cukai. Pada musim panen cengeh terakhir, harga beli cengeh dari petani mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini terjadi secara merata mulai dari Aceh hingga Maluku, daerah-daerah yang merupakan wilayah penghasil cengkeh nasional. Harga beli cengkeh menurun drastis meskipun kualitas panenan cengkeh petani tahun ini cukup bagus. Harga beli di petani turun antara Rp10.000 hingga Rp35.000, angka yang sangat signifikan dan cukup mengkhawatirkan. Jika ini terus-menerus dibiarkan, bukan tak mungkin kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti yang terjadi pada periode 90an di negeri ini bisa terulang kembali.<\/p>\n\n\n\n Mengapa bisa seperti itu? Mengapa kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti kehancuran akibat ulah BPPC bentukan Orde Baru pada periode 90an bisa terulang kembali? Karena memang ke arah sana tujuan dari dinaikkannya cukai rokok di negeri ini. Ada kekuatan global yang menghendaki itu semata-mata karena alasan persaingan bisnis yang menggiurkan. Bukan alasan kesehatan atau alasan lain-lain yang mereka bikin-bikin itu.<\/p>\n\n\n\n Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit. Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tak hanya itu, efek domino terhadap kenaikan cukai ini juga berimbas pada sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Sektor yang menopang bahan baku utama industri kretek nasional. Pada musim panen tembakau tahun lalu saja, sebelum cukai betul-betul naik akan tetapi pengumuman resmi perihal kenaikan cukai telah dikeluarkan, sektor pertembakauan terlihat lesu. Pembelian tembakau hasil panen petani oleh pabrikan-pabrikan rokok tidak sebergeliat tahun-tahun sebelumnya. Pabrikan mengurangi pembelian bahan baku sekaligus mengajukan penawaran harga yang tidak terlalu tinggi guna mengantisipasi menurunnya pembelian rokok kretek akibat naiknya harga rokok setelah cukai naik.<\/p>\n\n\n\n Tak berbeda jauh dengan tembakau, sektor pertanian cengkeh yang juga menjadi sektor penting dalam industri rokok kretek nasional terkena imbas akibat pengumuman kenaikan cukai. Pada musim panen cengeh terakhir, harga beli cengeh dari petani mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini terjadi secara merata mulai dari Aceh hingga Maluku, daerah-daerah yang merupakan wilayah penghasil cengkeh nasional. Harga beli cengkeh menurun drastis meskipun kualitas panenan cengkeh petani tahun ini cukup bagus. Harga beli di petani turun antara Rp10.000 hingga Rp35.000, angka yang sangat signifikan dan cukup mengkhawatirkan. Jika ini terus-menerus dibiarkan, bukan tak mungkin kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti yang terjadi pada periode 90an di negeri ini bisa terulang kembali.<\/p>\n\n\n\n Mengapa bisa seperti itu? Mengapa kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti kehancuran akibat ulah BPPC bentukan Orde Baru pada periode 90an bisa terulang kembali? Karena memang ke arah sana tujuan dari dinaikkannya cukai rokok di negeri ini. Ada kekuatan global yang menghendaki itu semata-mata karena alasan persaingan bisnis yang menggiurkan. Bukan alasan kesehatan atau alasan lain-lain yang mereka bikin-bikin itu.<\/p>\n\n\n\n Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit. Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kenaikan cukai sangat besar, mula-mula berdampak pada naiknya harga jual rokok secara besar-besaran. Rata-rata, harga jual rokok di pasaran naik sebesar 35 persen. Kenaikan harga jual rokok sebesar itu menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap konsumen. Penjualan rokok diperkirakan menurun jauh tahun ini, imbas langsungnya, pemasukan negara lewat cukai juga akan menurun.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, efek domino terhadap kenaikan cukai ini juga berimbas pada sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Sektor yang menopang bahan baku utama industri kretek nasional. Pada musim panen tembakau tahun lalu saja, sebelum cukai betul-betul naik akan tetapi pengumuman resmi perihal kenaikan cukai telah dikeluarkan, sektor pertembakauan terlihat lesu. Pembelian tembakau hasil panen petani oleh pabrikan-pabrikan rokok tidak sebergeliat tahun-tahun sebelumnya. Pabrikan mengurangi pembelian bahan baku sekaligus mengajukan penawaran harga yang tidak terlalu tinggi guna mengantisipasi menurunnya pembelian rokok kretek akibat naiknya harga rokok setelah cukai naik.<\/p>\n\n\n\n Tak berbeda jauh dengan tembakau, sektor pertanian cengkeh yang juga menjadi sektor penting dalam industri rokok kretek nasional terkena imbas akibat pengumuman kenaikan cukai. Pada musim panen cengeh terakhir, harga beli cengeh dari petani mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini terjadi secara merata mulai dari Aceh hingga Maluku, daerah-daerah yang merupakan wilayah penghasil cengkeh nasional. Harga beli cengkeh menurun drastis meskipun kualitas panenan cengkeh petani tahun ini cukup bagus. Harga beli di petani turun antara Rp10.000 hingga Rp35.000, angka yang sangat signifikan dan cukup mengkhawatirkan. Jika ini terus-menerus dibiarkan, bukan tak mungkin kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti yang terjadi pada periode 90an di negeri ini bisa terulang kembali.<\/p>\n\n\n\n Mengapa bisa seperti itu? Mengapa kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti kehancuran akibat ulah BPPC bentukan Orde Baru pada periode 90an bisa terulang kembali? Karena memang ke arah sana tujuan dari dinaikkannya cukai rokok di negeri ini. Ada kekuatan global yang menghendaki itu semata-mata karena alasan persaingan bisnis yang menggiurkan. Bukan alasan kesehatan atau alasan lain-lain yang mereka bikin-bikin itu.<\/p>\n\n\n\n Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit. Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Setiap tahun, cukai rokok memang mengalami kenaikan, tetapi biasanya angka kenaikan selalu di bawah 10 persen guna menjamin sehatnya industri kretek dalam negeri. Kenaikan cukai pada angka yang di luar batas kewajaran ini memberi dampak yang sangat besar bagi industri kretek. <\/p>\n\n\n\n Kenaikan cukai sangat besar, mula-mula berdampak pada naiknya harga jual rokok secara besar-besaran. Rata-rata, harga jual rokok di pasaran naik sebesar 35 persen. Kenaikan harga jual rokok sebesar itu menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap konsumen. Penjualan rokok diperkirakan menurun jauh tahun ini, imbas langsungnya, pemasukan negara lewat cukai juga akan menurun.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, efek domino terhadap kenaikan cukai ini juga berimbas pada sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Sektor yang menopang bahan baku utama industri kretek nasional. Pada musim panen tembakau tahun lalu saja, sebelum cukai betul-betul naik akan tetapi pengumuman resmi perihal kenaikan cukai telah dikeluarkan, sektor pertembakauan terlihat lesu. Pembelian tembakau hasil panen petani oleh pabrikan-pabrikan rokok tidak sebergeliat tahun-tahun sebelumnya. Pabrikan mengurangi pembelian bahan baku sekaligus mengajukan penawaran harga yang tidak terlalu tinggi guna mengantisipasi menurunnya pembelian rokok kretek akibat naiknya harga rokok setelah cukai naik.<\/p>\n\n\n\n Tak berbeda jauh dengan tembakau, sektor pertanian cengkeh yang juga menjadi sektor penting dalam industri rokok kretek nasional terkena imbas akibat pengumuman kenaikan cukai. Pada musim panen cengeh terakhir, harga beli cengeh dari petani mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini terjadi secara merata mulai dari Aceh hingga Maluku, daerah-daerah yang merupakan wilayah penghasil cengkeh nasional. Harga beli cengkeh menurun drastis meskipun kualitas panenan cengkeh petani tahun ini cukup bagus. Harga beli di petani turun antara Rp10.000 hingga Rp35.000, angka yang sangat signifikan dan cukup mengkhawatirkan. Jika ini terus-menerus dibiarkan, bukan tak mungkin kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti yang terjadi pada periode 90an di negeri ini bisa terulang kembali.<\/p>\n\n\n\n Mengapa bisa seperti itu? Mengapa kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti kehancuran akibat ulah BPPC bentukan Orde Baru pada periode 90an bisa terulang kembali? Karena memang ke arah sana tujuan dari dinaikkannya cukai rokok di negeri ini. Ada kekuatan global yang menghendaki itu semata-mata karena alasan persaingan bisnis yang menggiurkan. Bukan alasan kesehatan atau alasan lain-lain yang mereka bikin-bikin itu.<\/p>\n\n\n\n Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit. Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tahun ini, 2020, adalah tahun yang cukup berat\u2014jika bukan yang terberat\u2014bagi industri kretek yang menjadi salah satu industri kebanggaan nasional. Bagaimana tidak, sepanjang sejarah industri ini hadir di negeri ini, tahun ini cukai rokok naik dengan angka kenaikan yang di luar kewajaran, 23 persen. <\/p>\n\n\n\n Setiap tahun, cukai rokok memang mengalami kenaikan, tetapi biasanya angka kenaikan selalu di bawah 10 persen guna menjamin sehatnya industri kretek dalam negeri. Kenaikan cukai pada angka yang di luar batas kewajaran ini memberi dampak yang sangat besar bagi industri kretek. <\/p>\n\n\n\n Kenaikan cukai sangat besar, mula-mula berdampak pada naiknya harga jual rokok secara besar-besaran. Rata-rata, harga jual rokok di pasaran naik sebesar 35 persen. Kenaikan harga jual rokok sebesar itu menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap konsumen. Penjualan rokok diperkirakan menurun jauh tahun ini, imbas langsungnya, pemasukan negara lewat cukai juga akan menurun.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, efek domino terhadap kenaikan cukai ini juga berimbas pada sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Sektor yang menopang bahan baku utama industri kretek nasional. Pada musim panen tembakau tahun lalu saja, sebelum cukai betul-betul naik akan tetapi pengumuman resmi perihal kenaikan cukai telah dikeluarkan, sektor pertembakauan terlihat lesu. Pembelian tembakau hasil panen petani oleh pabrikan-pabrikan rokok tidak sebergeliat tahun-tahun sebelumnya. Pabrikan mengurangi pembelian bahan baku sekaligus mengajukan penawaran harga yang tidak terlalu tinggi guna mengantisipasi menurunnya pembelian rokok kretek akibat naiknya harga rokok setelah cukai naik.<\/p>\n\n\n\n Tak berbeda jauh dengan tembakau, sektor pertanian cengkeh yang juga menjadi sektor penting dalam industri rokok kretek nasional terkena imbas akibat pengumuman kenaikan cukai. Pada musim panen cengeh terakhir, harga beli cengeh dari petani mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini terjadi secara merata mulai dari Aceh hingga Maluku, daerah-daerah yang merupakan wilayah penghasil cengkeh nasional. Harga beli cengkeh menurun drastis meskipun kualitas panenan cengkeh petani tahun ini cukup bagus. Harga beli di petani turun antara Rp10.000 hingga Rp35.000, angka yang sangat signifikan dan cukup mengkhawatirkan. Jika ini terus-menerus dibiarkan, bukan tak mungkin kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti yang terjadi pada periode 90an di negeri ini bisa terulang kembali.<\/p>\n\n\n\n Mengapa bisa seperti itu? Mengapa kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti kehancuran akibat ulah BPPC bentukan Orde Baru pada periode 90an bisa terulang kembali? Karena memang ke arah sana tujuan dari dinaikkannya cukai rokok di negeri ini. Ada kekuatan global yang menghendaki itu semata-mata karena alasan persaingan bisnis yang menggiurkan. Bukan alasan kesehatan atau alasan lain-lain yang mereka bikin-bikin itu.<\/p>\n\n\n\n Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit. Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Belum lama ini, di New York, Sri Mulyani juga sudah mengadakan pertemuan intensif dengan Bloomberg. Kado manis dari Sri Mulyani dengan menaikkan cukai rokok besar-besaran di negeri ini sudah diberikan kepada Bloomberg. Jika tidak dihalangi dengan gencar oleh seluruh stakeholder industri rokok di negeri ini, bukan tak mungkin kado istimewa lain dari Sri Mulyani kepada Bloomberg akan kembali diberikan, ratifikasi FCTC oleh pemerintah Indonesia. Rokok kretek mesti hilang dari pasar dalam negeri, dan petani cengkeh kembali merana. Tahun ini, 2020, adalah tahun yang cukup berat\u2014jika bukan yang terberat\u2014bagi industri kretek yang menjadi salah satu industri kebanggaan nasional. Bagaimana tidak, sepanjang sejarah industri ini hadir di negeri ini, tahun ini cukai rokok naik dengan angka kenaikan yang di luar kewajaran, 23 persen. <\/p>\n\n\n\n Setiap tahun, cukai rokok memang mengalami kenaikan, tetapi biasanya angka kenaikan selalu di bawah 10 persen guna menjamin sehatnya industri kretek dalam negeri. Kenaikan cukai pada angka yang di luar batas kewajaran ini memberi dampak yang sangat besar bagi industri kretek. <\/p>\n\n\n\n Kenaikan cukai sangat besar, mula-mula berdampak pada naiknya harga jual rokok secara besar-besaran. Rata-rata, harga jual rokok di pasaran naik sebesar 35 persen. Kenaikan harga jual rokok sebesar itu menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap konsumen. Penjualan rokok diperkirakan menurun jauh tahun ini, imbas langsungnya, pemasukan negara lewat cukai juga akan menurun.<\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, efek domino terhadap kenaikan cukai ini juga berimbas pada sektor pertanian tembakau dan cengkeh. Sektor yang menopang bahan baku utama industri kretek nasional. Pada musim panen tembakau tahun lalu saja, sebelum cukai betul-betul naik akan tetapi pengumuman resmi perihal kenaikan cukai telah dikeluarkan, sektor pertembakauan terlihat lesu. Pembelian tembakau hasil panen petani oleh pabrikan-pabrikan rokok tidak sebergeliat tahun-tahun sebelumnya. Pabrikan mengurangi pembelian bahan baku sekaligus mengajukan penawaran harga yang tidak terlalu tinggi guna mengantisipasi menurunnya pembelian rokok kretek akibat naiknya harga rokok setelah cukai naik.<\/p>\n\n\n\n Tak berbeda jauh dengan tembakau, sektor pertanian cengkeh yang juga menjadi sektor penting dalam industri rokok kretek nasional terkena imbas akibat pengumuman kenaikan cukai. Pada musim panen cengeh terakhir, harga beli cengeh dari petani mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini terjadi secara merata mulai dari Aceh hingga Maluku, daerah-daerah yang merupakan wilayah penghasil cengkeh nasional. Harga beli cengkeh menurun drastis meskipun kualitas panenan cengkeh petani tahun ini cukup bagus. Harga beli di petani turun antara Rp10.000 hingga Rp35.000, angka yang sangat signifikan dan cukup mengkhawatirkan. Jika ini terus-menerus dibiarkan, bukan tak mungkin kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti yang terjadi pada periode 90an di negeri ini bisa terulang kembali.<\/p>\n\n\n\n Mengapa bisa seperti itu? Mengapa kehancuran sektor pertanian cengkeh seperti kehancuran akibat ulah BPPC bentukan Orde Baru pada periode 90an bisa terulang kembali? Karena memang ke arah sana tujuan dari dinaikkannya cukai rokok di negeri ini. Ada kekuatan global yang menghendaki itu semata-mata karena alasan persaingan bisnis yang menggiurkan. Bukan alasan kesehatan atau alasan lain-lain yang mereka bikin-bikin itu.<\/p>\n\n\n\n Laporan Southeast Asia Tobacco Control Alliance<\/em> (SEATCA) berjudul The Tobacco Control Atlas<\/em>, wilayah Asean menunjukkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asean, yakni 65,19 juta orang. Angka tersebut setara 36% dari total penduduk Indonesia. Di dunia, jumlah perokok asal Indonesia hanya kalah dari China. Indonesia menempati peringkat kedua jumlah perokok terbesar di dunia.<\/p>\n\n\n\n Dalam 10 tahun terakhir, setiap tahunnya, penjualan rokok di Indonesia berkisar antara 300 dan 350 miliar batang. Empat produsen rokok terbesar di Indonesia yang menguasai pasar saat ini adalah PT. HM Sampoerna, PT. Gudang Garam Tbk, PT. Djarum, dan PT. Bentoel Internasional Investama.<\/p>\n\n\n\n Data-data di atas, tentu saja angka yang menggiurkan. Pasar industri rokok di Indonesia sangat signifikan dan sudah barang tentu menjadi wilayah yang disasar pelaku industri rokok dunia. Sudah pasti, kue keuntungan dari konsumen rokok di Indonesia juga diincar pelaku industri rokok sekaligus industri farmasi di dunia.<\/p>\n\n\n\n Sayangnya bagi mereka pelaku industri rokok dan farmasi dunia, pasar konsumen rokok di Indonesia merupakan konsumen yang sangat loyal kepada produk rokok kretek, produk rokok khas nasional yang sejauh ini produsennya merupakan produsen rokok nasional, atau, jika pun itu produsen rokok global, mereka tetap memproduksi dan mengambil bahan baku untuk produksi rokok kretek mereka dari Indonesia. Sejauh ini, lebih dari 95 persen konsumsi rokok di Indonesia adalah produk rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Kalah telak dalam persaingan dagang dengan produk rokok kretek, industri global tak tinggal diam. Salah satu usaha mereka adalah menekan pemerintah agar terus-menerus menaikkan cukai rokok nasional. Usaha lain yang mereka lakukan, lewat bantuan WHO, mereka menyusun apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). FCTC, merupakan konvensi kerangka kerja pengendalian tembakau. FCTC ini terdiri dari 11 bab yang terbagi dalam 38 pasal yang isinya untuk mengatur tentang pengendalian permintaan konsumsi rokok dan pengendalian pasokan rokok.<\/p>\n\n\n\n Salah satu pasal dalam FCTC, berbicara tentang kandungan yang diperbolehkan dalam sebatang rokok yang boleh diedarkan di pasaran. Dalam salah satu pasal tersebut, kandungan aromatik di luar tembakau terlarang ada dalam sebatang rokok. Dengan kata lain, keberadaan cengkeh dalam sebatang rokok menjadi haram jika Indonesia menyetujui dan meratifikasi FCTC. Sejauh ini, Indonesia masih belum mau meratifikasi FCTC. Akan tetapi bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia meratifikasi FCTC, yang artinya, membunuh industri kretek nasional sekaligus membunuh pertanian cengkeh nusantara.<\/p>\n\n\n\n Indikasi ke arah sana bukan tidak ada. Lewat Sri Mulyani yang begitu dekat dengan Bloomberg, bukan tak mungkin pemerintah Indonesia akan meratifikasi FCTC. Sudah menjadi rahasia umum, Bloomberg Initiatives menjadi lembaga yang begitu getol mengangkat isu rokok di Indonesia, dan salah satu tujuan besarnya adalah agar pemerintah Indonesia segera meratifikasi FCTC. Dan Sri Mulyani, selain menteri keuangan negeri ini saat ini, Ia juga adalah bagian dari Bloomberg Initiatives. Kemarin, di Republika online, saya membaca berita perihal Om Indro yang mengeluarkan pernyataan bahwa Ia merasa jantan usai memutuskan berhenti merokok pada 1998. Lantas, apakah sebelum 1998, pada masa puncak kejayaan Om Indro bersama Warkop DKI, Om Indro tidak merasa jantan? Gile lu, Ndro! Di tengah gempuran pasar global yang seakan tak memiliki batas, dengan produk-produk impor yang menjejali negeri ini, juga ekspansi industri-industri besar multinasional yang membangun pabrik-pabrik mereka di Indonesia, apakah masih ada industri skala besar nasional yang masih mampu mengharumkan nama Indonesia sebagai produsen utamanya? Jawabannya ada, namun sedikit. Dibulan awal-awal tahun seperti bulan ini, sudah biasa para petani tembakau memikirkan dan membuat perencanaan pembibitan yang akan ditanam untuk lahannya. Bertani tembakau tidaklah mudah, harus memiliki pengetahuan, pengalaman dan juga perencanaan yang baik. Tanpa didasari perencanaan dapat dikata bertaninya kurang sungguh-sungguh. Perencanaan ini banyak hal, termasuk pembibitan, dengan tujuan mendapatkan bibit tembakau yang berkualitas dan berkuantitas, tidak cepat mati, akarnya baik dan batangnya tegak lurus tidak bengkok. Selain itu, tujuan pembibitan untuk memperoleh bibit yang sehat dan seragam, jumlah bibit cukup dan kemurnian varietas kemloko (varietas tanaman tembakau asli kota Temanggung). <\/p>\n\n\n\n Apalagi sebelum melakukan pembibitan diawali dengan melakukan evaluasi hasil tembakau sebelumnya, mengumpulkan prediksi cuaca kedepan, dan diperkuat prediksi perkiraan dari pengalaman. Ini akan lebih mantap menjalani bertaninya. Semua proses sudah dilakukan, namun jika Tuhan berkata lain, ya hanya kepasrahan dan ikhlas yang harus kita jalani. Minimal semua prosedur sudah dijalani dan insyaallah hasilnya akan baik. <\/p>\n\n\n\n Teknis dan langkah memperoleh bibit sehat dan seragam, yaitu: <\/p>\n\n\n\n Teknik pembibitan, dengan langkah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n Adapun skema jadwal pemeliharaan bibit sebagai berikut: <\/p>\n\n\n\n Nah, setelah pembibitan selesai baru dilakukan mempersiapkan lahan atau area tanam yang tentunya di awali dengan mengolah tanah sebagai media tanam bibit. Inilah cara pembibitan petani daerah Kabupaten Temanggung, dan mungkin bisa diterapkan didaerah lain. Atau paling tidak sebagai pengetahuan bahan pertimbangan dalam pembibitan, karena pedoman pembibitan ini atas dampingan dari ahli tanaman tembakau di dua kota, yaitu Temanggung dan NTB. Semoga bermanfaat. <\/p>\n","post_title":"Teknik Pembibitan Tanaman Tembakau Ala Petani Temanggung Jateng","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"teknik-pembibitan-tanaman-tembakau-ala-petani-temanggung-jateng","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-03 09:00:34","post_modified_gmt":"2020-02-03 02:00:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6432","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":20},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
\n\uf07d Dosis benih = 5 gr per 1 Hektare
\n\uf07d Dalam 1 gr benih = 6.000 tanaman
\n\uf07d Bila tumbuh semua = 5 gr x 6.000 tanaman
\n\uf07d Bibit yang tumbuh = 30.000 tanaman <\/li><\/ol>\n\n\n\n
\nMisal : Salah satu petani ingin menanam tembakau dengan lahan 1 hektar pada kondisi cuaca normal.
\nKebutuhan bibit 1 hektar x 18.000 bibit = 18.000 bibit
\nKebutuhan tanjangan 20 % x 18.000 bibit = 3.600 bibit
\nCadangan bibit 20 % x 18.000 = 3.600 bibit (Total kebutuhan bibit) <\/li>
\na) populasi bibit jarang : apabila jarak antar tanaman 3 cm x 4 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 800 dengan luas media tanam 25.200 \/ 800 = 31 m2
\nb) populasi bibit agak rapat : apabila jarak antar tanaman 2 cm x 2,5 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 2.000, dengan luas media tanam 22.500 \/ 2000 = 11,25 m2 <\/li>
\nFrekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):
\n0 \u2013 10 HSS : 3x Sehari (fase kritis)
\n11 \u2013 21 HSS : 2x Sehari
\n22 \u2013 35 HSS : 1x Sehari
\n36 \u2013 45 \/ 50 HSS : Periode stress air\/kering <\/li>
\nPupuk yang digunakan adalah KNO3 (30 \u2013 50 gram per bedeng \/ 4 \u2013 5 sendok teh KNO3) untuk bedengan 1x5 m. Kemudian dicampur dengan air \u00b110 liter, terakhir bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
\n\uf0d8 Bibit dibiasakan untuk terkena sinar matahari langsung (jangan sampai terkena air hujan).
\n\uf0d8 Pelaksanaan dilakukan secara bertahap :<\/li><\/ol>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Mengatur frekuensi penyiraman bibit <\/li><\/ul>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya.
\n\uf0d8 Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau.
\n\uf0d8 Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah)
\n\uf0d8 Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam.
\n\uf0d8 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai.<\/li>
\ndan Penyakit
\n\uf0d8 Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol
\n\uf0d8 Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/li>
\no Siram bedengan 2 \u2013 3 jam sebelum cabut bibit.
\no Cabut bibit sebaiknya pada pagi hari.
\no Cabut bibit untuk kapasitas tanam satu hari.
\no Bibit yang di cabut hindari terkena sinar matahari langsung.
\no Sortasi bibit terlebih dahulu (bibit yang cacat dibuang)
\no Tempatkan bibit di wadah yang sudah di persiapkan.
\no Tanam dipagi hari ( 08.00 ) <\/li><\/ol>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
\n\uf07d Dosis benih = 5 gr per 1 Hektare
\n\uf07d Dalam 1 gr benih = 6.000 tanaman
\n\uf07d Bila tumbuh semua = 5 gr x 6.000 tanaman
\n\uf07d Bibit yang tumbuh = 30.000 tanaman <\/li><\/ol>\n\n\n\n
\nMisal : Salah satu petani ingin menanam tembakau dengan lahan 1 hektar pada kondisi cuaca normal.
\nKebutuhan bibit 1 hektar x 18.000 bibit = 18.000 bibit
\nKebutuhan tanjangan 20 % x 18.000 bibit = 3.600 bibit
\nCadangan bibit 20 % x 18.000 = 3.600 bibit (Total kebutuhan bibit) <\/li>
\na) populasi bibit jarang : apabila jarak antar tanaman 3 cm x 4 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 800 dengan luas media tanam 25.200 \/ 800 = 31 m2
\nb) populasi bibit agak rapat : apabila jarak antar tanaman 2 cm x 2,5 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 2.000, dengan luas media tanam 22.500 \/ 2000 = 11,25 m2 <\/li>
\nFrekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):
\n0 \u2013 10 HSS : 3x Sehari (fase kritis)
\n11 \u2013 21 HSS : 2x Sehari
\n22 \u2013 35 HSS : 1x Sehari
\n36 \u2013 45 \/ 50 HSS : Periode stress air\/kering <\/li>
\nPupuk yang digunakan adalah KNO3 (30 \u2013 50 gram per bedeng \/ 4 \u2013 5 sendok teh KNO3) untuk bedengan 1x5 m. Kemudian dicampur dengan air \u00b110 liter, terakhir bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
\n\uf0d8 Bibit dibiasakan untuk terkena sinar matahari langsung (jangan sampai terkena air hujan).
\n\uf0d8 Pelaksanaan dilakukan secara bertahap :<\/li><\/ol>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Mengatur frekuensi penyiraman bibit <\/li><\/ul>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya.
\n\uf0d8 Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau.
\n\uf0d8 Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah)
\n\uf0d8 Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam.
\n\uf0d8 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai.<\/li>
\ndan Penyakit
\n\uf0d8 Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol
\n\uf0d8 Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/li>
\no Siram bedengan 2 \u2013 3 jam sebelum cabut bibit.
\no Cabut bibit sebaiknya pada pagi hari.
\no Cabut bibit untuk kapasitas tanam satu hari.
\no Bibit yang di cabut hindari terkena sinar matahari langsung.
\no Sortasi bibit terlebih dahulu (bibit yang cacat dibuang)
\no Tempatkan bibit di wadah yang sudah di persiapkan.
\no Tanam dipagi hari ( 08.00 ) <\/li><\/ol>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
\n\uf07d Dosis benih = 5 gr per 1 Hektare
\n\uf07d Dalam 1 gr benih = 6.000 tanaman
\n\uf07d Bila tumbuh semua = 5 gr x 6.000 tanaman
\n\uf07d Bibit yang tumbuh = 30.000 tanaman <\/li><\/ol>\n\n\n\n
\nMisal : Salah satu petani ingin menanam tembakau dengan lahan 1 hektar pada kondisi cuaca normal.
\nKebutuhan bibit 1 hektar x 18.000 bibit = 18.000 bibit
\nKebutuhan tanjangan 20 % x 18.000 bibit = 3.600 bibit
\nCadangan bibit 20 % x 18.000 = 3.600 bibit (Total kebutuhan bibit) <\/li>
\na) populasi bibit jarang : apabila jarak antar tanaman 3 cm x 4 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 800 dengan luas media tanam 25.200 \/ 800 = 31 m2
\nb) populasi bibit agak rapat : apabila jarak antar tanaman 2 cm x 2,5 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 2.000, dengan luas media tanam 22.500 \/ 2000 = 11,25 m2 <\/li>
\nFrekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):
\n0 \u2013 10 HSS : 3x Sehari (fase kritis)
\n11 \u2013 21 HSS : 2x Sehari
\n22 \u2013 35 HSS : 1x Sehari
\n36 \u2013 45 \/ 50 HSS : Periode stress air\/kering <\/li>
\nPupuk yang digunakan adalah KNO3 (30 \u2013 50 gram per bedeng \/ 4 \u2013 5 sendok teh KNO3) untuk bedengan 1x5 m. Kemudian dicampur dengan air \u00b110 liter, terakhir bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
\n\uf0d8 Bibit dibiasakan untuk terkena sinar matahari langsung (jangan sampai terkena air hujan).
\n\uf0d8 Pelaksanaan dilakukan secara bertahap :<\/li><\/ol>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Mengatur frekuensi penyiraman bibit <\/li><\/ul>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya.
\n\uf0d8 Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau.
\n\uf0d8 Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah)
\n\uf0d8 Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam.
\n\uf0d8 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai.<\/li>
\ndan Penyakit
\n\uf0d8 Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol
\n\uf0d8 Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/li>
\no Siram bedengan 2 \u2013 3 jam sebelum cabut bibit.
\no Cabut bibit sebaiknya pada pagi hari.
\no Cabut bibit untuk kapasitas tanam satu hari.
\no Bibit yang di cabut hindari terkena sinar matahari langsung.
\no Sortasi bibit terlebih dahulu (bibit yang cacat dibuang)
\no Tempatkan bibit di wadah yang sudah di persiapkan.
\no Tanam dipagi hari ( 08.00 ) <\/li><\/ol>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
\n\uf07d Dosis benih = 5 gr per 1 Hektare
\n\uf07d Dalam 1 gr benih = 6.000 tanaman
\n\uf07d Bila tumbuh semua = 5 gr x 6.000 tanaman
\n\uf07d Bibit yang tumbuh = 30.000 tanaman <\/li><\/ol>\n\n\n\n
\nMisal : Salah satu petani ingin menanam tembakau dengan lahan 1 hektar pada kondisi cuaca normal.
\nKebutuhan bibit 1 hektar x 18.000 bibit = 18.000 bibit
\nKebutuhan tanjangan 20 % x 18.000 bibit = 3.600 bibit
\nCadangan bibit 20 % x 18.000 = 3.600 bibit (Total kebutuhan bibit) <\/li>
\na) populasi bibit jarang : apabila jarak antar tanaman 3 cm x 4 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 800 dengan luas media tanam 25.200 \/ 800 = 31 m2
\nb) populasi bibit agak rapat : apabila jarak antar tanaman 2 cm x 2,5 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 2.000, dengan luas media tanam 22.500 \/ 2000 = 11,25 m2 <\/li>
\nFrekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):
\n0 \u2013 10 HSS : 3x Sehari (fase kritis)
\n11 \u2013 21 HSS : 2x Sehari
\n22 \u2013 35 HSS : 1x Sehari
\n36 \u2013 45 \/ 50 HSS : Periode stress air\/kering <\/li>
\nPupuk yang digunakan adalah KNO3 (30 \u2013 50 gram per bedeng \/ 4 \u2013 5 sendok teh KNO3) untuk bedengan 1x5 m. Kemudian dicampur dengan air \u00b110 liter, terakhir bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
\n\uf0d8 Bibit dibiasakan untuk terkena sinar matahari langsung (jangan sampai terkena air hujan).
\n\uf0d8 Pelaksanaan dilakukan secara bertahap :<\/li><\/ol>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Mengatur frekuensi penyiraman bibit <\/li><\/ul>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya.
\n\uf0d8 Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau.
\n\uf0d8 Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah)
\n\uf0d8 Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam.
\n\uf0d8 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai.<\/li>
\ndan Penyakit
\n\uf0d8 Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol
\n\uf0d8 Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/li>
\no Siram bedengan 2 \u2013 3 jam sebelum cabut bibit.
\no Cabut bibit sebaiknya pada pagi hari.
\no Cabut bibit untuk kapasitas tanam satu hari.
\no Bibit yang di cabut hindari terkena sinar matahari langsung.
\no Sortasi bibit terlebih dahulu (bibit yang cacat dibuang)
\no Tempatkan bibit di wadah yang sudah di persiapkan.
\no Tanam dipagi hari ( 08.00 ) <\/li><\/ol>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
\n\uf07d Dosis benih = 5 gr per 1 Hektare
\n\uf07d Dalam 1 gr benih = 6.000 tanaman
\n\uf07d Bila tumbuh semua = 5 gr x 6.000 tanaman
\n\uf07d Bibit yang tumbuh = 30.000 tanaman <\/li><\/ol>\n\n\n\n
\nMisal : Salah satu petani ingin menanam tembakau dengan lahan 1 hektar pada kondisi cuaca normal.
\nKebutuhan bibit 1 hektar x 18.000 bibit = 18.000 bibit
\nKebutuhan tanjangan 20 % x 18.000 bibit = 3.600 bibit
\nCadangan bibit 20 % x 18.000 = 3.600 bibit (Total kebutuhan bibit) <\/li>
\na) populasi bibit jarang : apabila jarak antar tanaman 3 cm x 4 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 800 dengan luas media tanam 25.200 \/ 800 = 31 m2
\nb) populasi bibit agak rapat : apabila jarak antar tanaman 2 cm x 2,5 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 2.000, dengan luas media tanam 22.500 \/ 2000 = 11,25 m2 <\/li>
\nFrekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):
\n0 \u2013 10 HSS : 3x Sehari (fase kritis)
\n11 \u2013 21 HSS : 2x Sehari
\n22 \u2013 35 HSS : 1x Sehari
\n36 \u2013 45 \/ 50 HSS : Periode stress air\/kering <\/li>
\nPupuk yang digunakan adalah KNO3 (30 \u2013 50 gram per bedeng \/ 4 \u2013 5 sendok teh KNO3) untuk bedengan 1x5 m. Kemudian dicampur dengan air \u00b110 liter, terakhir bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
\n\uf0d8 Bibit dibiasakan untuk terkena sinar matahari langsung (jangan sampai terkena air hujan).
\n\uf0d8 Pelaksanaan dilakukan secara bertahap :<\/li><\/ol>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Mengatur frekuensi penyiraman bibit <\/li><\/ul>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya.
\n\uf0d8 Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau.
\n\uf0d8 Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah)
\n\uf0d8 Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam.
\n\uf0d8 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai.<\/li>
\ndan Penyakit
\n\uf0d8 Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol
\n\uf0d8 Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/li>
\no Siram bedengan 2 \u2013 3 jam sebelum cabut bibit.
\no Cabut bibit sebaiknya pada pagi hari.
\no Cabut bibit untuk kapasitas tanam satu hari.
\no Bibit yang di cabut hindari terkena sinar matahari langsung.
\no Sortasi bibit terlebih dahulu (bibit yang cacat dibuang)
\no Tempatkan bibit di wadah yang sudah di persiapkan.
\no Tanam dipagi hari ( 08.00 ) <\/li><\/ol>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
\n\uf07d Dosis benih = 5 gr per 1 Hektare
\n\uf07d Dalam 1 gr benih = 6.000 tanaman
\n\uf07d Bila tumbuh semua = 5 gr x 6.000 tanaman
\n\uf07d Bibit yang tumbuh = 30.000 tanaman <\/li><\/ol>\n\n\n\n
\nMisal : Salah satu petani ingin menanam tembakau dengan lahan 1 hektar pada kondisi cuaca normal.
\nKebutuhan bibit 1 hektar x 18.000 bibit = 18.000 bibit
\nKebutuhan tanjangan 20 % x 18.000 bibit = 3.600 bibit
\nCadangan bibit 20 % x 18.000 = 3.600 bibit (Total kebutuhan bibit) <\/li>
\na) populasi bibit jarang : apabila jarak antar tanaman 3 cm x 4 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 800 dengan luas media tanam 25.200 \/ 800 = 31 m2
\nb) populasi bibit agak rapat : apabila jarak antar tanaman 2 cm x 2,5 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 2.000, dengan luas media tanam 22.500 \/ 2000 = 11,25 m2 <\/li>
\nFrekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):
\n0 \u2013 10 HSS : 3x Sehari (fase kritis)
\n11 \u2013 21 HSS : 2x Sehari
\n22 \u2013 35 HSS : 1x Sehari
\n36 \u2013 45 \/ 50 HSS : Periode stress air\/kering <\/li>
\nPupuk yang digunakan adalah KNO3 (30 \u2013 50 gram per bedeng \/ 4 \u2013 5 sendok teh KNO3) untuk bedengan 1x5 m. Kemudian dicampur dengan air \u00b110 liter, terakhir bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
\n\uf0d8 Bibit dibiasakan untuk terkena sinar matahari langsung (jangan sampai terkena air hujan).
\n\uf0d8 Pelaksanaan dilakukan secara bertahap :<\/li><\/ol>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Mengatur frekuensi penyiraman bibit <\/li><\/ul>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya.
\n\uf0d8 Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau.
\n\uf0d8 Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah)
\n\uf0d8 Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam.
\n\uf0d8 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai.<\/li>
\ndan Penyakit
\n\uf0d8 Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol
\n\uf0d8 Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/li>
\no Siram bedengan 2 \u2013 3 jam sebelum cabut bibit.
\no Cabut bibit sebaiknya pada pagi hari.
\no Cabut bibit untuk kapasitas tanam satu hari.
\no Bibit yang di cabut hindari terkena sinar matahari langsung.
\no Sortasi bibit terlebih dahulu (bibit yang cacat dibuang)
\no Tempatkan bibit di wadah yang sudah di persiapkan.
\no Tanam dipagi hari ( 08.00 ) <\/li><\/ol>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
\n\uf07d Dosis benih = 5 gr per 1 Hektare
\n\uf07d Dalam 1 gr benih = 6.000 tanaman
\n\uf07d Bila tumbuh semua = 5 gr x 6.000 tanaman
\n\uf07d Bibit yang tumbuh = 30.000 tanaman <\/li><\/ol>\n\n\n\n
\nMisal : Salah satu petani ingin menanam tembakau dengan lahan 1 hektar pada kondisi cuaca normal.
\nKebutuhan bibit 1 hektar x 18.000 bibit = 18.000 bibit
\nKebutuhan tanjangan 20 % x 18.000 bibit = 3.600 bibit
\nCadangan bibit 20 % x 18.000 = 3.600 bibit (Total kebutuhan bibit) <\/li>
\na) populasi bibit jarang : apabila jarak antar tanaman 3 cm x 4 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 800 dengan luas media tanam 25.200 \/ 800 = 31 m2
\nb) populasi bibit agak rapat : apabila jarak antar tanaman 2 cm x 2,5 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 2.000, dengan luas media tanam 22.500 \/ 2000 = 11,25 m2 <\/li>
\nFrekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):
\n0 \u2013 10 HSS : 3x Sehari (fase kritis)
\n11 \u2013 21 HSS : 2x Sehari
\n22 \u2013 35 HSS : 1x Sehari
\n36 \u2013 45 \/ 50 HSS : Periode stress air\/kering <\/li>
\nPupuk yang digunakan adalah KNO3 (30 \u2013 50 gram per bedeng \/ 4 \u2013 5 sendok teh KNO3) untuk bedengan 1x5 m. Kemudian dicampur dengan air \u00b110 liter, terakhir bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
\n\uf0d8 Bibit dibiasakan untuk terkena sinar matahari langsung (jangan sampai terkena air hujan).
\n\uf0d8 Pelaksanaan dilakukan secara bertahap :<\/li><\/ol>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Mengatur frekuensi penyiraman bibit <\/li><\/ul>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya.
\n\uf0d8 Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau.
\n\uf0d8 Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah)
\n\uf0d8 Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam.
\n\uf0d8 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai.<\/li>
\ndan Penyakit
\n\uf0d8 Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol
\n\uf0d8 Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/li>
\no Siram bedengan 2 \u2013 3 jam sebelum cabut bibit.
\no Cabut bibit sebaiknya pada pagi hari.
\no Cabut bibit untuk kapasitas tanam satu hari.
\no Bibit yang di cabut hindari terkena sinar matahari langsung.
\no Sortasi bibit terlebih dahulu (bibit yang cacat dibuang)
\no Tempatkan bibit di wadah yang sudah di persiapkan.
\no Tanam dipagi hari ( 08.00 ) <\/li><\/ol>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Susi Pujiastuti, Sri Mulyani, dan Perlakuan Mereka Terhadap Komoditas Cengkeh","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"susi-pujiastuti-sri-mulyani-dan-perlakuan-mereka-terhadap-komoditas-cengkeh","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-21 08:17:44","post_modified_gmt":"2020-02-21 01:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6465","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6461,"post_author":"878","post_date":"2020-02-20 09:57:27","post_date_gmt":"2020-02-20 02:57:27","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Upaya Membunuh Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"upaya-membunuh-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-20 09:57:36","post_modified_gmt":"2020-02-20 02:57:36","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6461","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6448,"post_author":"878","post_date":"2020-02-13 10:50:11","post_date_gmt":"2020-02-13 03:50:11","post_content":"\n
\n(Link berita ada di sini: https:\/\/m.republika.co.id\/amp\/q5j85d414?__twitter_impression=true)
\nSebelum bercerita perihal keberhasilannya Berhenti merokok, Om Indro mengaku sebagai perokok berat dengan sedikitnya empat bungkus rokok Ia isap setiap harinya. Berikut pernyataan Om Indro yang saya cuplik langsung dari laman berita di Republika:
\n\"Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,\" ungkap Indro saat menghadiri pencanangan Gerakan Nasional Indonesia Peduli Kanker Paru (IPKP) bersama Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Cancer Information and Support Center (CISC) for Lung, di Jakarta.
\nSayangnya, Om Indro tidak menceritakan bagaimana kondisi kesehatannya selama Ia aktif merokok dan bahkan menjadi perokok berat sesaat sebelum Ia berhenti merokok pada 1998. Ia hanya menceritakan kondisi kesehatannya sesaat setelah berhenti merokok yang menurutnya, Ia menderita gejala putus nikotin dengan tanda-tanda gangguan pada sistem di mulut dan kerongkongannya, Ia kesulitan menelan sesuatu usai berhenti merokok.
\n\"Fisik saya sakit, tapi otak saya tidak. Saya punya kesadaran,\" kata Indro.
\nLebih lanjut, usai berhasil berjuang untuk berhenti merokok, Om Indro kemudian mengeluarkan pernyataan yang saya kira, sangat tidak tepat, Ia bilang Ia merasa jantan karena berhasil melawan hawa nafsu. Medioker sekali rokok ini sehingga dianggap tidak jantan dan sekadar godaan hawa nafsu yang dikendalikan syaitonnirojim.
\n\"Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,\" ucap Indro.
\nBerita itu ditutup dengan pernyataan Om Indro yang khas antirokok, juga khas mereka yang sebelumnya aktif merokok lantas memutuskan berhenti merokok. Bahwa tak ada kebaikan sama sekali dari rokok, dilanjut dengan argumen basi perihal perokok pasif.
\nDari fenomena ini, saya melihat kekhasan mereka yang berhenti merokok lantas menyalah-nyalahkan kebiasaan mereka sebelumnya. Fenomena ini mirip orang yang pindah agama kemudian menyalahkan agama yang Ia anut sebelumnya, atau fenomena model hijrah-hijrahan yang selanjutnya merasa paling benar dan menyalahkan banyak hal sebelum Ia berhijrah.
\nDari sekian banyak komentar Om Indro tentang merokok dan berhenti merokok, yang cukup menggelitik saya adalah perihal merasa laki, merasa jantan usai berhenti merokok. Tak ada bedanya dengan mereka yang berargumen bahwa mereka yang merokok adalah jantan. Bagi saya, keduanya sama-sama salah.
\nBahwa merokok atau tidak, sama sekali tidak menentukan kejantanan seseorang. Kejantanan, adalah kodrat ilahiah. Jantan atau tidaknya seseorang, murni takdir dari Yang Kuasa. Jika seseorang terlahir sebagai pria, maka jantanlah Ia. Tak ada kaitannya sama sekali dengan merokok atau tidak.
\nPernyataan Om Indro semacam itu, sangat berbahaya karena jika memakai logika Om Indro, artinya laki-laki yang merokok tidak jantan, oposisi binernya menjadi betina. Lantas bagaimana dengan perempuan yang tidak merokok? Bukankah jika memakai logika Om Indro ini berarti perempuan itu jantan. Sehingga untuk menjadi betina, sesuai dengan kodratnya, perempuan mesti merokok.
\nSaya kira, cukuplah sudah pernyataan-pernyataan bias gender semacam itu dikaitkan dengan jantan atau tidaknya seseorang. Merokok atau tidak, tak ada kaitannya dengan jantan atau tidaknya seseorang. Lagi pula, selama memenuhi syarat dan aturan yang berlaku, merokok adalah hak setiap orang, baik laki-laki atau pun perempuan.
\nSaya menghormati orang yang memutuskan untuk tidak merokok, atau berhenti merokok, sama seperti saya menghormati orang yang memutuskan untuk merokok. Entah itu laki-laki atau perempuan. Tak ada kaitannya sama sekali dengan jantan atau betinanya seseorang. Itu murni hak, jika memenuhi syarat dan peraturan yang berlaku.
\nJadi, menanggapi pernyataan Om Indro terkait kejantanan seseorang lewat berhenti merokok, saya meminjam ujaran Almarhum Kasino dalam banyak film Warkop DKI, \"Gile lu, Ndro!\"<\/p>\n","post_title":"Om Indro, Jantan atau Tidaknya Seseorang Tidak Ditentukan dari Merokok atau Tidak","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"om-indro-jantan-atau-tidaknya-seseorang-tidak-ditentukan-dari-merokok-atau-tidak","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-13 10:50:20","post_modified_gmt":"2020-02-13 03:50:20","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6448","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6435,"post_author":"878","post_date":"2020-02-04 09:47:07","post_date_gmt":"2020-02-04 02:47:07","post_content":"\n
Satu dari yang sedikit itu, tak lain dan tak bukan adalah industri rokok kretek yang ada di negeri ini. Mulanya, rokok kretek ditemukan secara tak sengaja oleh Haji Djamhari di Kudus pada periode akhir abad 19. Selanjutnya, lewat tangan dingin Nitisemito dengan brand pabrik rokok Tjap Bal Tiga miliknya, rokok kretek kemudian masuk produk skala industri. Perlahan tapi pasti, rokok kretek kemudian berhasil menguasai pasar rokok nasional, mengambil alih besarnya permintaan konsumen rokok yang sebelumnya dikuasai produk rokok putihan.
Bahwasanya pasar industri rokok kretek juga ikut disasar pabrikan-pabrikan multinasional, itu tak bisa dimungkiri karena kue keuntungan dari industri ini memang begitu menjanjikan. Namun, hingga hari ini, industri rokok kretek masih dikuasai oleh pabrikan dalam negeri.
Lebih dari itu, mulai dari bahan baku berupa tembakau dan cengkeh juga dipasok dari sektor perkebunan nasional. Besarnya industri ini, juga menyerap tenaga kerja mendekati enam juta jiwa. Jumlah enam juta jiwa itu meliputi pekerja mulai dari hulu di perkebunan hingga pekerja-pekerja di pabrik-pabrik rokok. Jika ditambah dengan pedagang asongan dan pedagang rokok skala kecil, jumlah enam juta jiwa akan bertambah kian banyak.
Dua bahan baku utama industri kretek, berupa tembakau dan cengkeh, hampir seluruhnya dipasok dari sektor perkebunan nasional. Cengkeh untuk kretek sepenuhnya diambil dari sektor perkebunan nasional. Ini wajar karena Indonesia hingga hari ini menduduki peringkat pertama produsen cengkeh di dunia. Industri kretek menyerap sekitar 94 persen dari produksi cengkeh nasional setiap tahunnya.
Untuk sektor tembakau, memang ada bahan baku yang didapat dari hasil impor. Ini terjadi lebih karena kurangnya produksi tahunan tembakau untuk memenuhi kebutuhan industri rokok kretek nasional. Padahal sejauh ini Indonesia menduduki peringkat enam penghasil tembakau di dunia.
Tanaman cengkeh mulanya adalah tanaman endemik dari beberapa pulau di Kepulauan Maluku. Selepas berakhirnya monopoli cengkeh yang dilakukan penjajah Belanda, tanaman cengkeh menyebar ke pulau-pulau lain di Indonesia. Tanaman cengkeh selanjutnya dibawa ke luar negeri dan ditanam di beberapa negara dengam kondisi cuaca mirip Indonesia. Yang paling terkenal, cengkeh yang ditanam di Zanzibar, Afrika. Namun begitu, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi produsen utama dan terbesar cengkeh di dunia.
Dari sekira 561 ribu hektar luas lahan perkebunan cengkeh nasional, setiap tahunnya produksi cengkeh kering berkisar antara 100 ribu hingga 150 ribu ton. Lebih dari 90 persen produksi cengkeh nasional kemudian diserap oleh industri kretek nasional. Sisanya menjadi komoditas ekspor dengan Arab Saudi, India, dan Sudan menjadi negara tujuan ekspor cengkeh.
Dalam satu tahun, permintaan tembakau dari pabrikan-pabrikan rokok yang ada di Indonesia berkisar antara 300 ribu hingga 350 ribu ton. Sejauh ini, sektor perkebunan tembakau nasional memiliki angka produksi fluktuatif tergantung cuaca, mencapai antara 100 ribu hingga 200 ribu ton. Jumlah itu dihasilkan dari luasan lahan mencapai 250 ribu hektar yang tersebar di 15 provinsi.
Belum selesai sampai di situ. Selain bahan baku dan para pekerja yang membikin geliat industri kretek nasional bergairah, pangsa pasar hasil industri ini juga begitu menjanjikan dalam menjalankan roda ekonomi nasional. Konsumen produk rokok kretek nasional adalah konsumen terbesar di Indonesia. Lebih dari 90 persen pasar rokok nasional dikuasai rokok kretek. Dari sana, negara mendapat keuntungan tak sedikit lewat cukai rokok. Tak kurang setiap tahunnya hasil cukai rokok berada pada angka Rp140 trilyun, setidaknya sepanjang 10 tahun belakangan.
Dari sini, tak bisa dibantah bahwasanya produk kretek bisa dibanggakan oleh negara ini, nasonalisme lewat produk kretek sejatinya bisa dibangun karena produk ini mulai dari hulu hingga hilir digerakkan oleh anak-anak negeri, dan memberikan keuntungan ekonomi yang tak sedikit pada negara. Nasionalisme dalam sebatang kretek.
Bahan baku utamanya diproduksi di dalam negeri oleh petani-petani kita, pekerja di pabrik-pabrik kretek juga orang asli Indonesia, pemilik pabriknya, juga orang Indonesia, lantas yang terakhir, konsumennya juga orang Indonesia, begitulah sejatinya industri nasional yang mesti dibanggakan. Maka, tak salah jika kita mendeklarasikan diri bahwa: Indonesia Republik Kretek.<\/p>\n","post_title":"Indonesia Republik Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"indonesia-republik-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2020-02-04 09:47:16","post_modified_gmt":"2020-02-04 02:47:16","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6435","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6432,"post_author":"877","post_date":"2020-02-03 09:00:25","post_date_gmt":"2020-02-03 02:00:25","post_content":"\n
\n\uf07d Dosis benih = 5 gr per 1 Hektare
\n\uf07d Dalam 1 gr benih = 6.000 tanaman
\n\uf07d Bila tumbuh semua = 5 gr x 6.000 tanaman
\n\uf07d Bibit yang tumbuh = 30.000 tanaman <\/li><\/ol>\n\n\n\n
\nMisal : Salah satu petani ingin menanam tembakau dengan lahan 1 hektar pada kondisi cuaca normal.
\nKebutuhan bibit 1 hektar x 18.000 bibit = 18.000 bibit
\nKebutuhan tanjangan 20 % x 18.000 bibit = 3.600 bibit
\nCadangan bibit 20 % x 18.000 = 3.600 bibit (Total kebutuhan bibit) <\/li>
\na) populasi bibit jarang : apabila jarak antar tanaman 3 cm x 4 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 800 dengan luas media tanam 25.200 \/ 800 = 31 m2
\nb) populasi bibit agak rapat : apabila jarak antar tanaman 2 cm x 2,5 cm maka total tanaman pada 1 m2 sekitar 2.000, dengan luas media tanam 22.500 \/ 2000 = 11,25 m2 <\/li>
\nFrekuensi penyiraman berdasarkan umur bibit\/umur hari setelah sebar (HSS):
\n0 \u2013 10 HSS : 3x Sehari (fase kritis)
\n11 \u2013 21 HSS : 2x Sehari
\n22 \u2013 35 HSS : 1x Sehari
\n36 \u2013 45 \/ 50 HSS : Periode stress air\/kering <\/li>
\nPupuk yang digunakan adalah KNO3 (30 \u2013 50 gram per bedeng \/ 4 \u2013 5 sendok teh KNO3) untuk bedengan 1x5 m. Kemudian dicampur dengan air \u00b110 liter, terakhir bedengan disiram kembali dengan air (pembilasan) <\/li>
\n\uf0d8 Bibit dibiasakan untuk terkena sinar matahari langsung (jangan sampai terkena air hujan).
\n\uf0d8 Pelaksanaan dilakukan secara bertahap :<\/li><\/ol>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Mengatur frekuensi penyiraman bibit <\/li><\/ul>\n\n\n\n
\n\uf0d8 Kliping dilakukan pada saat bibit pertumbuhannya terlalu lebat atau saling menutup batangnya.
\n\uf0d8 Kliping adalah kegiatan memotong sebagian atau 2\/3 daun bibit tembakau.
\n\uf0d8 Dilakukan antara jam 08.00 sampai 11.00 (usahakan cuaca cerah)
\n\uf0d8 Frekuensi kliping dilakukan bisa satu, dua kali atau lebih sesuai dengan perkembangan bibit dan persiapan lokasi areal tanam.
\n\uf0d8 Lima sampai tujuh hari menjelang transplanting, kegiatan kliping sebaiknya sudah selesai.<\/li>
\ndan Penyakit
\n\uf0d8 Pada awal penyebaran benih direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan fusngisida (jamur), seperti Previcur, Redomil & Antracol
\n\uf0d8 Hama yang sering dijumpai: semut (Decis), janggel, orong-orong <\/li>
\no Siram bedengan 2 \u2013 3 jam sebelum cabut bibit.
\no Cabut bibit sebaiknya pada pagi hari.
\no Cabut bibit untuk kapasitas tanam satu hari.
\no Bibit yang di cabut hindari terkena sinar matahari langsung.
\no Sortasi bibit terlebih dahulu (bibit yang cacat dibuang)
\no Tempatkan bibit di wadah yang sudah di persiapkan.
\no Tanam dipagi hari ( 08.00 ) <\/li><\/ol>\n\n\n\n